Allah Berkenan Memakai Keluarga Nuh Menjadi Berkat

Bacaan: Kejadian 6:5-22.

Ketika dilihat TUHAN, bahwa kejahatan manusia besar di bumi dan bahwa segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata, maka menyesallah TUHAN, bahwa Ia telah menjadikan manusia di bumi, dan hal itu memilukan hati-Nya. (Kejadian 6:5-6).

Bacaan Lainnya

Renungan:

Hidup manusia pada zaman Nuh memberi gambaran kehidupan yang rusak-rusakan dan penuh kejahatan. Berbeda dengan penciptaan awal di mana bumi dan segala isinya dicipta dengan sangat baik. Akan tetapi dalam situasi yang bobrok, Nuh mendapat kasih karunia Allah. Allah mendapati kehidupan Nuh dan keluarganya berbeda dengan kebanyakan orang pada waktu itu. Ia dan anggota keluarganya menjadi satu-satunya keluarga yang masih berkenan di depan Tuhan.

Penyebab Nuh berbeda dengan orang lain sehingga ia dikatakan orang benar dan tidak tercela di antara sesamanya karena itu ia bergaul akrab dengan Allah. Nuh adalah manusia yang hidupnya tak bercela, yang selalu berlaku benar, baik di dalam rumah maupun di luar rumah dimungkin karena ia bergaul akrab dengan Allah.

Kondisi bergaul dengan Allah menempatkan manusia pada posisi pantas untuk diberkati. Alkitab berulang-ulang menekankan menekankan bahwa mereka yang hidup dengan benar akan diberkati. Nuh berhasil mengerjakan tugas yang besar dengan taat dan tekun sampai tuntas. Suatu tugas yang tidak mungkin dilakukan oleh manusia yakni buat bahtera, tugas yang belum diakukan orang sebelumnya. Kuncinya terletak pada penyerahan hati Nuh kepada Allah. Nuh melakukan semuanya tepat seperti yang diperintahkan Allah. Dari sini kita belajar bahwa Nuh dan keluarganya ketika taat melakukan perintah Tuhan maka ia berhasil dalam kerjanya dan plus keluarganya diselamatkan selamat.

Beberapa catatan penting yang dapat kita petik dari bacaan Kitab Kejadian pagi ini setidaknya ada 4 hal berikut:
  1. Siapapun yang menjalani hidup penuh kejahatan dan kekerasan pasti menerima kebinasaan. Allah kita adalah Allah yang penuh kasih karunia, namun Ia juga Allah yang adil.
  2. Nuh menjalani hidup yang tidak bercela, beriman dan bergaul akrab dengan Allah. Itulah yang menyelamatkan kehidupan keluarganya dari bahaya. Hidup Nuh menjadi model hidup yang benar di tengah zaman yang rusak. Hasilnya adalah ia menjadi berkat bagi manusia dan ciptaan yang lain.
  3. Yang menarik dari kisah ini adalah bahwa Allah melibatkan manusia dalam rangka menjalankan penyelamatan. Terlepas dari Nuh orang yang benar, tapi ia juga pernah jatuh dalam dosa. Pada setiap zaman Allah selalu memanggil manusia untuk mewujudkan rencana dan kehendak Allah.
  4. Kini, Tuhan mempercayakan pekerjaan-pekerjaan besar kepada kita. Tuhan berkenan untuk memakai kita (saya, Bapak, Ibu dan Saudara) untuk terlibat dalam penyelamatan yang dilakukan Allah. Meski kita memiliki keterbatasan dan kekurangan, kita tidak bisa menolak apabila Tuhan berkenan.

Bapak Ibu Saudara terkasih, tugas gereja adalah menciptakan orang baik. Bagaimana caranya? Kita mulai dengan diri kita dahulu. Pemimpin gereja mesti orang baik dulu supaya jadi contoh bagi yang lain. Pemimpin harus siap berkorban. Risiko pemimpin adalah menjadi korban. Kita mesti meyakini bahwa karena Tuhan maka kita dipercayakan untuk bertanggung jawab menjadi alat-Nya. Mari bekerja dengan sungguh-sungguh untuk Tuhan. Mari menjadi orang yang baik, menjadi orang jujur, bergaul dengan Tuhan supaya dibentuk Tuhan, dan kebaikan kita menjadi berkat bagi dunia. (Andriyani Widyaningtyas – Kulwo).

Pos terkait