Bangun, Tapi untuk Apa?

Bacaan: I Samuel 3:10–4:1a; Mazmur 29; Kisah Para Rasul 9:10–19a.

 “Berbicaralah, TUHAN, sebab hamba-Mu ini mendengar.” (1 Samuel 3:10b).

Bacaan Lainnya

Renungan:

Bangun kerap dipahami sebagai tanda kesiapan. Namun kisah Samuel menunjukkan bahwa terjaga tidak selalu berarti sadar. Samuel bangun karena panggilan, dan yang didengarnya bukan firman yang menenteramkan. Kebenaran itu berat, menuntut kesetiaan, dan memaksanya bertumbuh lebih cepat dari usianya. Sejak awal, kesadaran rohani tidak pernah netral, ia selalu membawa tanggung jawab.

Mazmur 29 menggambarkan suara Tuhan yang mengguntur dan mengguncang. Suara itu mematahkan yang kokoh dan merobohkan yang tampak mapan. Gambaran ini menantang kecenderungan iman yang jinak dan nyaman. Di hadapan suara Tuhan, manusia tidak sedang ditenangkan, melainkan disadarkan bahwa kendali hidup tidak pernah sepenuhnya berada di tangannya.

Peristiwa di jalan ke Damsyik bergerak dalam arah serupa. Terang yang menyapa Saulus justru membuatnya kehilangan penglihatan. Ia harus dibutakan agar dapat melihat dengan benar. Di sisi lain, Ananias dipanggil untuk melampaui ketakutan dan kalkulasi rasionalnya. Terang Allah bekerja bukan lewat peristiwa heroik, melainkan melalui ketaatan yang sunyi dan berisiko.

Pada titik ini, pertanyaan yang tersisa tidak lagi bersifat teologis, melainkan eksistensial: bangun, tapi untuk apa? Untuk mempertahankan stabilitas yang rapuh, atau untuk membuka diri pada suara Tuhan yang mungkin mengguncang arah hidup? Kesadaran rohani bukan tentang merasa aman, melainkan tentang keberanian untuk diubah.

Doa:

Tuhan, bukalah telinga dan hati yang kerap terlena. Biarlah terang-Mu menuntun langkah dan menata ulang hidup sesuai kehendak-Mu. Amin. (Yudistira WP – Kulwo).

 

 

Pos terkait