Bacaan: Yakobus 2:14-26.
Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati. (Yakobus 2:26).
Renungan:
Syalom selamat pagi saudaraku terkasih. Dua hari ini kita belajar dari bacaan Kitab Yakobus. Surat Yakobus ditulis kepada orang-orang Kristen Yahudi yang tersebar di berbagai wilayah di luar Palestina. Mereka hidup di tengah tekanan sosial, ekonomi, dan penganiayaan. Dalam kondisi seperti itu, muncul kecenderungan sebagian orang percaya untuk memisahkan iman dari kehidupan praktis.
Mereka menganggap bahwa cukup dengan mengaku percaya kepada Kristus, tanpa perlu menunjukkan perubahan hidup yang nyata. Karena itu, Yakobus menulis surat yang sangat praktis. Jika Paulus lebih banyak menekankan bagaimana seseorang dibenarkan oleh iman, maka Yakobus menekankan bagaimana iman yang benar itu tampak dalam kehidupan sehari-hari. Keduanya tidak bertentangan. Paulus berbicara tentang akar keselamatan, sedangkan Yakobus berbicara tentang buah keselamatan. Paulus menjelaskan bagaimana manusia diselamatkan; Yakobus menjelaskan bagaimana orang yang diselamatkan seharusnya hidup.
Tema utama perikop bacaan kita pagi ini adalah bahwa iman yang sejati tidak pernah berdiri sendiri. Iman harus menghasilkan perbuatan yang mencerminkan kasih, ketaatan, dan kesetiaan kepada Allah. Martin Luther, tokoh pendobrak reformasi gereja pada awalnya menyebut Surat Yakobus sebagai “surat jerami” karena dianggap kurang menonjolkan doktrin pembenaran oleh iman. Namun kemudian ia mengakui bahwa Yakobus tidak sedang menolak iman, melainkan menolak iman yang palsu dan tidak menghasilkan buah.
Johanes Calvin, tokoh reformasi gereja yang pembaruannya dominan mewarnai ajaran Gereja-gereja Kristen Jawa pernah berkata: “Kita dibenarkan oleh iman saja, tetapi iman yang membenarkan tidak pernah berdiri sendiri.” Artinya, keselamatan memang diterima melalui iman, tetapi iman yang sejati pasti menghasilkan kehidupan yang berubah.
Karena itu, ada tiga hal penting yang dibahas dalam perikop ini :
1.Iman yang tidak menghasilkan kasih adalah iman yang mati (ayat 14-17)
Yakobus mengingatkan kita dengan pertanyaan yang menggugah: “Apakah gunanya jika seseorang mengatakan bahwa ia mempunyai iman, padahal ia tidak mempunyai perbuatan?” Dalam dunia modern, bahaya terbesar gereja bukanlah kurangnya pengetahuan Alkitab, melainkan banyaknya pengetahuan yang tidak diwujudkan dalam tindakan. Kita dapat menghafal ayat-ayat Alkitab, tetapi tetap mengabaikan orang yang membutuhkan pertolongan.
2.Iman yang tidak menghasilkan ketaatan adalah iman yang kosong (ayat 18-20)
Yakobus melanjutkan dengan pernyataan yang tajam: “Engkau percaya bahwa hanya ada satu Allah saja? Itu baik! Tetapi setan-setan pun juga percaya akan hal itu dan mereka gemetar.” Ayat ini menunjukkan bahwa pengetahuan tentang Allah saja tidak cukup. Setan mengetahui bahwa Allah ada. Mereka bahkan mengetahui kuasa dan kekudusan-Nya. Namun mereka tidak taat kepada-Nya.
Iman yang menyelamatkan bukan hanya iman di kepala, melainkan iman yang menguasai hati dan mengubah hidup. Dengan kata lain, iman bukan sekadar menerima kebenaran secara intelektual, tetapi mempercayakan hidup kepada Tuhan. Banyak orang ingin menerima berkat Tuhan tetapi enggan menaati firman-Nya. Mereka ingin keselamatan tanpa pertobatan, ingin mahkota tanpa salib, ingin kemuliaan tanpa ketaatan. Yakobus menegaskan bahwa iman yang sejati selalu menghasilkan hidup yang tunduk kepada Allah.
3.Iman yang sejati selalu siap bertindak dan berkorban (ayat 2:21-26)
Yakobus mengingatkan kita dengan mengambil pelajaran penting dari kisah 2 tokoh yaitu Abraham dan Rahab. Abraham: memiliki Iman yang Taat. Abraham percaya kepada janji Allah. Namun puncak imannya terlihat ketika ia rela mempersembahkan Ishak. Tindakan Abraham menunjukkan bahwa ia lebih mempercayai Allah daripada pengertiannya sendiri. Ia yakin bahwa Allah sanggup memelihara dan menggenapi janji-Nya. Abraham membuktikan bahwa iman sejati selalu disertai ketaatan.
Rahab adalah seorang perempuan non-Israel dengan masa lalu yang kelam. Namun ketika ia mendengar tentang Allah Israel, ia percaya kepada-Nya. Kepercayaannya tidak berhenti pada pengakuan. Ia mengambil risiko besar dengan menyembunyikan para pengintai Israel. Rahab mengajarkan bahwa iman sejati sering kali menuntut keberanian dan pengorbanan. Allah tidak melihat latar belakang seseorang, melainkan respons imannya kepada-Nya.
Saudara-saudaraku terkasih, pada akhirnya dunia tidak hanya membutuhkan orang yang berbicara tentang iman. Dunia membutuhkan orang yang memperlihatkan iman melalui hidupnya. Ketika kasih menjadi tindakan, ketika ketaatan menjadi kebiasaan, dan ketika pengorbanan menjadi kesaksian, maka Kristus akan nyata melalui kehidupan kita. Selamat menjalani tindakan nyata! (Tim Adminweb).
