Bacaan: 1 Samuel 15:10-21, Mazmur 23, Efesus 4:25-32.
Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu. (Efesus 4:26).
Renungan:
Paulus menulis surat kepada jemaat di Efesus pada saat dirinya ditawan dalam penjara (sekitar tahun 60-62 M). Suarat ini terutama untuk menguatkan iman jemaat, menegaskan identitas mereka di dalam Kristus, dan mendorong kesatuan antara orang Yahudi dan non-Yahudi. Surat ini menekankan rencana kekal Allah, kasih karunia, serta ajaran praktis untuk hidup sebagai manusia baru dan melawan kuasa gelap.
Kitab Perjanjian Baru dalam menggambarkan tentang Allah sangatlah berbeda dengan Perjanjian Lama. Di mana dalam Perjanjian Lama dianggap bahwa Allah itu menampilkan sifat yang kejam. Bahkan dalam kitab 1 Samuel 15 ayat 18 dikatakan TUHAN telah menyuruh engkau pergi, dengan pesan: “Pergilah, tumpaslah orang-orang berdosa itu, yakni orang Amalek, berperanglah melawan mereka sampai engkau membinasakan mereka.”
Beda dengan Perjanjian Baru yang gambaran umumnya ditulis layaknya antitesa Kitab Perjanjian Lama, di mana Allah itu mengajarkan tentang Kasih. Di dalam Kitab Perjanjian Baru, boro-boro Allah “menyuruh perang dan menumpas habis musuh dengan pertumbuhan darah”, Allah hadir melalui sifat-sifat yang lembut dan penuh welas asih, di mana kehadiran kita jika mencintai Tuhan itu mesti mencintai sesama seperti diri kita sendiri. Sama sekali tidak ada unsur kekerasan.
Secara khusus, dalam nats bacaan Efesus tadi Rasul Paulus mengajarkan tentang bagaimana kita mesti mengelola kemarahan. Marah itu emosi yang alamiah, yang melekat pada manusia, karena itu marah adalah hal yang manusiawi dan wajar-wajar saja. Pertanyaannya, marah yang semsetinya atau patut di mata Tuhan itu yang bagaimana?
Paulus menekankan, kalau marah hendaklah tidak melampaui sampai mata hari terbenam. Ini menunjukkan bahwa kita tidak boleh menaruh rasa marah di dalam hati kita dan memendamnya hingga berubah menjadi dendam. Orang yang menyimpan rasa marah itu akan sangat membahayakan diri, baik secara kesehatan mental untuk diri sendiri. Bahkan bisa mengancam nyawa orang lain dengan bunuh-membunuh dan pertumpahan darah seperti yang dikisahkan dalam bacaan Kitab Samuel tadi. Bahkan sekaliber Nabi Samuel pun sampai semalaman dalam mengekspresikan kemarahannya.
Sekarang, bagaimana cara mengendalikan kemarahan secara praktis? Mengendalikan amarah dapat dilakukan dengan teknik relaksasi, seperti menarik nafas secara dalam, berhitung mundur dari 10 sampai 1, atau berdiam diri sejenak. Cara efektif lainnya adalah berolahraga, mengalihkan perhatian ke hobi, berdoa, dan mengekspresikan emosi dengan tenang setelah reda. Menghindari diri untuk berteriak dan berpikir sebelum berbicara juga menjadi kunci agar tidak menjadi menyesal di kemudian waktu.
Cara yang lebih mendasar adalah dengan merubah mindset atau pola pikir. Contohnya: berpikir dahulu sebelum bicara, hindari melontarkan kata-kata kasar yang disesali nanti, menccari solusi bukan mencari kesalahan, lebih fokus pada penyelesaian masalah bukan menyalahkan, mengggunakan humor atau candaan yang dapat meredakan ketegangan. Juga mengubahlah posisi tubuh, misalnya: jika berdiri menjadi duduk, jika duduk dan meras perlu berbaring maka segera lakukan. Hal ini adalah bentuk dari cara menenangkan diri.
Bapak/Ibu?Saudara terksih, demikianlah sekilas langkah praktis mengelola emosi marah yangkita petik dari bacaan Kitab Suci pada hari ini.
Doa:
Tuhan, tenangkanlah jiwaku. Pikullah beban dan emosiku yang berat ini. Ajari aku untuk sabar dan kuasai diriku dari amarah dan penuhi aku dengan damai sejahtera dan sukacita dalam Roh Kudus, tolong aku untuk tidak berbuat dosa dalam kemarahanku. (Andriyani WIdyaningtyas – Kulwo).
