Bergerak Melayani dengan Hati yang Tulus

Bacaan: Matius 9:35-10:8.

Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati; tahirkanlah orang kusta; usirlah setan-setan. Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma. (Matius 10:8).

Renungan:

Saudara-saudaras, etiap orang tentu bisa berbuat baik, tetapi motivasi di balik perbuatan baik itu merupakan hal yang kadang tidak mudah diketahui. Bisa saja seorang anak tiba-tiba rajin menyapu rumah dan membersihkan kamarnya, tapi ternyata di balik itu ia menginginkan HP yang baru. Sebaliknya, ada yang berbuat baik karena tahu bahwa memang hal itulah yang mesti dilakukan. Misalnya seorang siswa SMA pulang mengendarai motor dan menawarkan tumpangan kepada temannya yang kebetulan tidak ada uang untuk menggunakan transportasi online. Lantas bagaimana semestinya berbuat baik yang dikehendaki oleh Tuhan?

Bacaan Injil pada Minggu ini mengajak kita untuk kembali menengok karya pelayanan kasih yang Yesus lakukan bagi manusia. Matius 9:35 diawali dengan informasi bahwa Yesus berkeliling ke semua kota dan desa, Ia mengajar dalam rumah ibadah dan memberitakan Injil Kerajaan Allah. Yesus menyembuhkan orang dari segala penyakit dan kelemahan. Injil Matius menyebutkan bahwa yang mendorong Yesus melakukan hal tersebut yaitu karena ‘tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan’ (ayat 36). Kata tersebut berasal dari bahasa Yunani ἐσπλαγχνίσθη (esplanchnisthē) yang dapat berarti ‘merasa belas kasihan’, ‘merasa iba’, atau ‘tergerak’ (Biblehub). Kata tersebut menunjuk pada inisiatif dari dalam/hati nurani pada saat melihat kondisi di sekitarnya. Jadi belas kasih Yesus bukan datang karena semata-mata permintaan dari luar, namun muncul dari dalam diri Yesus sendiri. Sebagai pribadi yang berbelas kasih.

Pada perikop selanjutnya, kita perlu memahami latar tempat saat Yesus memberikan perutusan bagi para murid. Kita harus ingat bahwa alur perjalanan Yesus dalam Matius, Markus dan Lukas adalah dari utara ke selatan (dari Galilea ke Yerusalem). Di antara Galilea menuju Yerusalem, terdapat daerah bernama Samaria. Pada Matius 10:1-8, Yesus dan para murid masih berada di Galilea dan belum menuju ke Yerusalem. Kita harus ingat bahwa daerah Galilea sebenarnya didominasi oleh orang non Yahudi. Kalaupun terdapat orang Yahudi di Galilea, mereka dianggap sebagai Yahudi sporadis yang kemurniannya tidak sekuat mereka yang ada di Yerusalem. Maka perutusan untuk tidak pergi ke daerah orang Samaria tidak perlu dimaknai sebagai eksklusivitas perutusan, melainkan dimaknai sebagai batasan pelayanan. Yesus mengutus para murid untuk fokus, tidak menuju ke Selatan (daerah Samaria), tidak ke Utara (daerah Siria), dan juga tidak ke Timur (daerah Dekapolis). Perintah ini juga perlu dimaknai sebagai perintah yang sementara (dalam arti lokalitas perutusan untuk tidak masuk daerah Samaria), karena nantinya dalam Matius 15:21-28 diceritakan bagaimana Yesus menyembuhkan anak perempuan dari seorang wanita dari Tirus dan Sidon yang masih termasuk wilayah Samaria. Jadi melalui Injil Matius hari ini kita diajak untuk memulai pelayanan kasih yang tulus dari orang-orang terdekat kita. Mungkin secara ragawi mereka tidak sakit, secara fisik mereka tidak berkekurangan, namun bisa jadi sebenarnya mereka merindukan kasih dari orang terdekat.

Saudara-saudara, melalui firman Tuhan hari ini kita diingatkan untuk senantiasa mendasari semua perbuatan kita dengan kasih yang tulus dan dimulai dari lingkungan terdekat kita. Di sisi lain, sebenarnya kita juga diingatkan akan kenyataan bahwa tidak semua pihak akan 100% setuju dan suka dengan perbuatan baik kita. Dalam bagian-bagian sebelumnya di Injil Matius, nampak bagaimana ada pihak-pihak yang tidak senang dengan pelayanan kasih yang Tuhan Yesus kerjakan. Lalu bagaimana sebaiknya sikap kita?

Dari Tuhan Yesus, kita dapat belajar bahwa kenyataan adanya pihak yang tidak suka adalah hal yang harus kita sadari dan terima sebagai bagian dari konsekuensi hidup bersama. Namun demikian, fokus kita bukan pada memastikan menyenangkan semua pihak, sebab respons pihak lain berada di luar kendali kita. Yang jelas ada dalam kendali kita adalah pilihan sikap kita terhadap orang lain ataupun keadaan, dan itu berarti tetap memilih kasih yang tulus sebagai dasar semua perbuatan kita. Oleh karena itu, perbuatan baik yang kita lakukan mestilah dibarengi dengan kebijaksanaan dalam implementasinya. Contoh sederhana, katakanlah namanya “Dadap” dan “Suto”. Dadap sedang flu karena tertular orang lain, sementara dia adalah orang yang disiplin menjaga pola makan dan kesehatan. Ketika Suto berkunjung, ia nyeletuk “Makanya Dap, udah umur segini tuh harusnya lebih bijaksana jaga kesehatan, jangan sembarang-sembarang dimakan. Ini hasilnya, kamu flu sekarang.” Berkunjungnya memang baik, tapi perkataan yang diucapkan Suto bisa jadi justru melukai perasaan Dadap. Bukannya lega, malah bisa bikin kecewa.

Dengan kata lain, perbuatan baik dengan kasih yang tulus mestilah dibarengi dengan empati, yaitu kesediaan kita memahami posisi orang lain dan yang sedang dialaminya, “bayangkanlah kita ada di posisi mereka.” Mari kita membiasakan hal tersebut, “tidak biasa bukan berarti tidak bisa”. Selamat berbuat baik dengan kasih yang tulus. Amin.

Doa:

Ya Tuhan, kami bersyukur atas kasih setia-Mu dalam kehidupan kami. Melalui firman-Mu yang telah kami terima, kami mau untuk terus belajar mewujudkan kasih yang tulus dalam tiap pelayanan kami maupun dalam tiap laku kehidupan kami. Berkenanlah kiranya Engkau memampukan dan menguatkan kami. Dalam nama Tuhan Yesus, kami berdoa. Amin. (Daniel Bimantara – Kulwo).