Bacaan: Matius 14:22-33.
Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang dia dan berkata: “Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?” (Matius 14:31).
Renungan:
Saudara-saudara yang terkasih, Jemaat yang terkasih, pasal 14:22-33 yang kita baru saja kita baca Jemaat yang terkasih, pasal 14:22-33 yang kita baru saja kita baca sebenarnya tidak terlepas dari keseluruhan bagian pasal 14. Artinya, kita perlu melihat pasal 14 ini secara utuh dan mari kita mencoba melihatnya dari sudut pandang penulis Injil Matius.
Pertama kisah tentang kematian Yohanes Pembaptis oleh Herodes (ayat 1-12). Bagian ini bukan sekadar berita duka tentang wafatnya seorang nabi. Matius sedang memperlihatkan bahwa kekerasan hati dapat membuat seseorang menolak utusan Allah, bahkan akhirnya menolak Allah sendiri. Herodes, yang seharusnya memakai kuasa untuk menegakkan keadilan, justru menggunakannya untuk membungkam kebenaran. Ini merupakan potret hati manusia yang dikuasai ketakutan, gengsi, dan dosa. Di atas latar inilah Matius kemudian mengajak kita melihat tentang siapa dan bagaimana Yesus itu.
Kedua, bacaan minggu lalu (ayat 13-21) tentang kisah memberi makan lima ribu orang memperlihatkan kepada kita kelembutan hati Yesus. Ia sedang berduka, tapi tak menolak orang yang datang pada-Nya bahkan menyembuhkan dan memberi makan mereka. Sekaligus kita melihat bahwa Yesus menghendaki para murid ambil bagian dalam pelayanan-Nya. Meski keadaan serba terbatas, tetapi Ia berkuasa memakainya untuk menyatakan mukjizat-Nya mencukupkan bahkan melimpahkan berkat.
Ketiga, yaitu bacaan kita hari ini (ayat 22-33). Melalui kisah ini kita diperlihatkan Yesus yang peduli pada murid yang sedang terombang-ambing di tengah danau. Ia menenangkan para murid, bahkan menyatakan kuasa-Nya yang membuat Petrus dapat berjalan di atas air meski sejenak. Namun puncaknya ialah angin yang Ia redakan seusai mengulurkan tangan menolong Petrus. Angin, yakni alam sekalipun pun tunduk pada kuasa-Nya.
Mari sekarang kita perhatikan dengan seksama. Penulis Injil Matius nampaknya tidak sedang mengajak pembacanya semata-mata hanya mengagumi mukjizat-mukjizat Yesus, melainkan lebih untuk mengenal siapa Yesus. Mukjizat dan tindakan Yesus sebenarnya sedang menunjuk kepada identitas-Nya, tentang siapa sebenarnya Yesus. Yang menurut kesaksian ayat 33 disebutkan “Sesungguhnya Engkau Anak Allah.”
Hendaknya kita tidak perlu bingung tentang istilah “Anak Allah”. Dalam alam pikir kala itu “Anak Allah” dipahami sebagai Pribadi yang menyatakan karakter Allah, melakukan yang hanya bisa dilakukan Allah, dan layak disembah. Singkatnya, Anak Allah sehakikat dengan Allah itu sendiri. Penulis Injil Matius hendak menegaskan bahwa Yesus adalah Allah sendiri yang penuh belas kasih, melibatkan orang lain dalam karya-Nya, menolong dalam kesulitan, dan berkuasa atas seluruh ciptaan. Bila di awal tadi Herodes memakai kuasa untuk membinasakan, Yesus memakai kuasa-Nya untuk mengasihi, memelihara, dan menyelamatkan. Oleh karena itu, orang-orang dipanggil untuk mengenal, percaya, dan menyembah Dia.
Jemaat yang terkasih, maka hari ini kita semua diingatkan dan dipanggil untuk: (1) tidak mengeraskan hati dan (2) percaya sepenuhnya pada Tuhan Yesus Kristus. Pertama. Sekeras apapun hati seseorang menolak atau berlaku tidak seperti yang Tuhan kehendaki, senyatanya kita melihat malah begitu banyak orang yang justru tertarik mendekat kepada Yesus dan merasakan kasih-Nya. Herodes memang menolak, tapi lima ribu orang lebih datang mendekat, disembuhkan, dan dikenyangkan oleh Yesus. Herodes memang menolak, tapi orang-orang di Genesaret mendekat dan disembuhkan pula oleh Yesus (ayat 34-36). Dengan kata lain, mari terus belajar menjadi orang yang lembut hatinya dan bukan keras hati. Bila memang kita salah maka marilah mengaku salah dan meminta maaf. Mau untuk dikoreksi bila memang ada hal yang tidak tepat kita lakukan. Mau untuk mendengarkan dan memahami, tidak buru-buru menyimpulkan apalagi menghakimi. Bukankah indah sekali bila tiap-tiap orang mau berlaku lembah lembut seperti halnya Tuhan Yesus?
Kedua, tentu kita bisa sakit, lapar, kesepian, khawatir, takut, bimbang, dan ragu sebagaimana dialami orang-orang dalam kisah “memberi makan lima ribu orang”, “Yesus berjalan di atas air”, serta “kisah orang Genesaret”. Artinya, itu semua adalah sesuatu yang tak terhindarkan terjadi dalam kehidupan manusiawi kita yang terbatas ini. Kendati demikian, bukankah Alkitab telah mensaksikan bahwa kelemahan-kelemahan itu mampu diatasi oleh Tuhan Yesus? Itulah kabar baiknya. Tidak ada satu pun pergumulan itu yang berada di luar kuasa Tuhan Yesus. Tuhan Yesus lebih besar daripada setiap persoalan yang kita hadapi. Karena itu, jangan biarkan kesulitan menguasai hati kita. Percayalah kepada Tuhan dan jalani hidup dengan penuh pengharapan, keberanian, dan sukacita, sebab Tuhan yang penuh belas kasih, yang berkuasa atas alam semesta, juga adalah Tuhan yang menyertai dan memegang hidup kita setiap hari. Amin.
Doa:
Kami sungguh bersyukur bahwa di tengah keterbatasan kami sebagai manusia, Engkau ya Tuhan senantiasa berkenan membersamai bahkan memikul segala hal yang kami hadapi. Oleh karena itu kami mau belajar menjadi pribadi yang lemah lembut seperti Engkau, melakukan yang terbaik selama hidup, dan percaya penuh pada-Mu. Dalam nama Tuhan Yesus. Amin. (Daniel Bimantara – Kulwo).
