Bertobat, Bersyukur dan Terus Mengampuni

Bacaan: 1 Samuel 7:3-13; Mazmur 18: 1-3, 20-32; Roma 2 :1-11.

Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya, yaitu hidup kekal kepada mereka yang dengan tekun berbuat baik, mencari kemuliaan, kehormatan dan ketidakbinasaan, tetapi murka dan geram kepada mereka yang mencari kepentingan sendiri, yang tidak taat kepada kebenaran, melainkan taat kepada kelaliman.” (Roma 2 : 6-8).

Bacaan Lainnya

Renungan:

Dari bacaan 1 Samuel 7 : 1-12 diceritakan bagaimana bangsa Israel bertobat di bawah pimpinan Samuel, melalui doa dan persembahan kurban bakaran bagi Allah.   Tuhan menolong mereka mengalahkan orang Filistin dengan guntur yang hebat di Mizpa. Untuk memperingati kemenangan itu, Samuel mendirikan batu penanda bernama Eben-Haezer yang berarti “Sampai di sini Tuhan menolong kita”. Pertobatan sejati adalah perubahan total pada pikiran, hati, dan arah hidup yang membuat seseorang berbalik dari dosa dan berpaling kepada Allah. Pertobatan ini bukan sekadar rasa takut akan hukuman atau penyesalan duniawi, melainkan sebuah keputusan hidup yang nyata dan berkelanjutan.

Mazmur 18 ayat 1-32 berisi nyanyian syukur Daud kepada Tuhan ketika Ia melindunginya dari semua musuh dan dari tangan Saul. Daud memuji Tuhan sebagai kekuatan, bukit batu, benteng, dan penyelamat yang hidup, serta menyatakan bahwa jalan Allah adalah sempurna. Bersyukur mempunyai makna sikap hati yang mengakui bahwa segala kebaikan, kasih karunia, dan pemeliharaan hidup berasal sepenuhnya dari Allah. Hal ini jauh lebih dalam daripada sekadar ucapan terima kasih biasa, bersyukur adalah wujud nyata dari iman, ketaatan, dan pengenalan akan kedaulatan Tuhan dalam setiap musim kehidupan.

Tuhan menegaskan bahwa inti dari seluruh hukum dan perintahNya adalah hidup yang saling mengasihi. Tema kasih selalu muncul dalam setiap peribadatan dan persekutuan lainnya dalam kehidupan bergereja, tetapi kita sering terjebak pada penyempitan makna dimana mengasihi hanya diartikan memberi. Pada hal mengasihi memiliki makna kompleks yaitu rasa, cipta dan karsa yang terimplementasikan dalam kehidupan melalui ucapan dan tindakan nyata. Bacaan surat Ruma 2 ayat 1-12 mengajarkan kita tentang bagaimana kita belajar hidup mengasihi sesama, yang salah satunya adalah membiasakan diri untuk tidak mudah menghakimi satu dengan yang lain karena kenyataannya kita sama-sama berdosa dan pernah melakukan kesalahan. Untuk belajar mengasihi, meri kita melihat kebaikan-kebaikan sesama kita, dan menjauhkan diri kebiasaan saling menghakimi.

Tuhan Maha Adil, Tuhanlah yang berhak menghakimi setiap orang secara adil sesuai perbuatannya. Hidup kekal diberikan kepada yang tekun berbuat baik, sementara murka Allah diberikan kepada yang membangkang pada kebenaran. “Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya, yaitu hidup kekal kepada mereka yang dengan tekun berbuat baik, mencari kemuliaan, kehormatan dan ketidakbinasaan, tetapi murka dan geram kepada mereka yang mencari kepentingan sendiri, yang tidak taat kepada kebenaran, melainkan taat kepada kelaliman.” (Roma 2 : 6-8)

Doa:

Tuhan, 
Bimbinglah kami  agar mampu menjaga hati, pikiran dan perbuatan, 
Mampukanlah kami  untuk senantiasa bertobat, bersyukur dan terus mengasihi, 
Bimbinglah kami agar bisa melihat kebaikan-kebaikan sesama kami, 
Bimbinglah ksmi agar tak mudah menghakimi sesama kami, karena hanya Engkaulah Hakim Yang Maha Adil,
Limpahkan damai sejahteramu di sepanjang musim kehidupan kami.
Amin. 

(Hargo Warsono – Ngringin).

 

 

 

Pos terkait