Bacaan: Yehezkiel 37:1-14.
“Aku akan memberikan Roh-Ku ke dalammu, sehingga kamu hidup kembali dan Aku akan membiarkan kamu tinggal di tanahmu. Dan kamu akan mengetahui bahwa Aku, TUHAN, yang mengatakannya dan membuatnya, demikianlah firman TUHAN.” (Yehezkiel 37:14).
Renungan:
Jemaat yang terkasih, di sekitar kita ada sumber-sumber kehidupan yang sering kali terasa biasa saja karena sudah lama menjadi bagian dari keseharian kita. Apa itu? Sumber-sumber mata air, contoh saja Sendang Beji, Kali Modal, Kali Grogol, Sumber Gunungbang, di Ngawis juga ada, dan masih banyak lagi. Sumber mata air ini menjadi sumber penghidupan bagi banyak pihak, baik untuk pertanian, fauna tentu iya, dan kebutuhan-kebutuhan lain masyarakat. Tidak jarang tempat seperti itu juga menjadi ruang perjumpaan, yakni ketika orang-orang datang bercakap-cakap dan bersosialisasi.
Namun kita juga tahu, jika sumber-sumber mata air ini tidak dirawat dan dibersihkan, berbagai kotoran dapat menutup aliran airnya. Ketika sumber itu mati, kehidupan yang sebelumnya bergantung padanya pun ikut terpengaruh. Gambaran sederhana ini menolong kita membayangkan keadaan yang digambarkan dalam bacaan kita hari ini, ketika nabi Yehezkiel (dalam suatu penglihatan / wahyu) melihat suatu tempat yang sama sekali tidak menunjukkan tanda kehidupan.
Dalam bacaan kita tadi, diceritakan bahwa nabi Yehezkiel dibawa oleh Tuhan ke sebuah lembah yang penuh dengan tulang-tulang. Tulang-tulang itu digambarkan sangat banyak dan sangat kering. Gambaran ini menunjukkan bahwa kematian sudah berlangsung lama dan tidak lagi menyisakan tanda kehidupan. Penglihatan ini sebenarnya melukiskan keadaan bangsa Yehuda setelah mengalami pembuangan di Babel. Mereka kehilangan tanah air, kehidupan bersama sebagai bangsa runtuh, dan masa depan terasa gelap, bahkan tidak jelas. Dalam keadaan seperti itu mereka menjadi kehilangan harapan dan semangat untuk hidup, mereka merasa seolah-olah kehidupan sebagai bangsa telah berakhir.
Namun di tengah keadaan yang tampaknya tanpa harapan itu Tuhan menyatakan karya-Nya. Yehezkiel diperintahkan untuk bernubuat kepada tulang-tulang tersebut. Ketika firman Tuhan disampaikan, tulang-tulang yang berserakan mulai tersusun kembali. Urat, daging, dan kulit menutupinya sehingga terbentuk tubuh manusia. Akan tetapi tubuh-tubuh itu belum hidup sampai roh kehidupan dari Tuhan masuk ke dalamnya. Ketika roh itu datang, mereka hidup kembali dan berdiri sebagai suatu pasukan yang sangat besar (ay. 10). Melalui penglihatan ini Tuhan menyatakan bahwa Ia akan memulihkan umat-Nya. Setelah masa pembuangan berakhir, mereka akan dikumpulkan kembali ke tanah mereka. Dengan cara itu umat mengetahui bahwa Tuhan setia pada janji-Nya dan bahwa karya-Nya adalah karya yang mampu membangkitkan kembali kehidupan dan pengharapan yang seolah telah hilang.
Jemaat yang terkasih, penglihatan Yehezkiel ini mengingatkan kita bahwa dalam kehidupan ini ada saat-saat ketika keadaan terasa seperti lembah tulang kering. Melelahkan, seperti tak ada jalan keluar, dan hampir putus asa rasanya. Namun kisah Yehezkiel meneguhkan kita, bahwa Tuhan adalah sumber kehidupan. Di dalam karya-Nya, Tuhan berkuasa untuk memulihkan dan memperbaharui. Oleh karena itu kita dipanggil untuk semakin percaya bahwa bersama Tuhan selalu ada jalan dari kematian menuju kehidupan. Apa yang tampak kering dan tidak berpengharapan di mata manusia, di tangan Tuhan masih dapat dipulihkan dan dihidupkan kembali. Apa yang bisa kita perbuat?
Pertama, mari tidak membawa sikap hidup yang mematikan. Yang dimaksud bukan hanya kematian secara fisik, tetapi juga sikap-sikap yang membuat kehidupan bersama menjadi kering dan berat. Misalnya marah tak terkendali, suka merendahkan orang lain, menyebarkan kabar yang belum tentu benar, atau bersikap acuh terhadap keadaan sekitar. Sikap seperti ini perlahan dapat merusak relasi dan membuat kehidupan bersama jadi tidak sehat. Karena itu kita diajak untuk lebih berhati-hati dalam perkataan dan tindakan, supaya kehadiran kita tidak membawa suasana yang mematikan, melainkan tetap menjaga kehidupan bersama.
Kedua, kebalikan dari yang pertama yaitu, mari kita membawa “kehidupan”. Artinya, melalui tindakan kita, kehidupan di sekitar kita dapat terpelihara dan bertumbuh. Normatif (seperti pada umumnya) asal tulus itu sudah luar biasa, seperti saling menolong, kerukunan dijaga, termasuk merawat lingkungan di sekitar kita. Sumber-sumber mata air yang ada di sekitar kita wajib hukumnya tetap lestari.
Berbagai penelitian dan literatur kesehatan menegaskan bahwa air adalah kebutuhan utama dan dasar bagi manusia, yang perannya tidak dapat digantikan dan mutlak diperlukan untuk kelangsungan hidup. Tubuh manusia terdiri dari sekitar 60% air, menjadikannya komponen vital yang hampir selalu dibutuhkan dalam setiap aktivitas. Sumber air seperti itu dapat terus memberi kehidupan jika dijaga bersama dan tentu saja dibersihkan. Melalui langkah-langkah sederhana seperti itu kita ikut mengambil bagian dalam memelihara kehidupan yang Tuhan percayakan kepada kita.
Mari kita kerjakan bersama-sama. Amin. (Daniel Bimantara – Kulwo).
