Bacaan: Matius 17:22-27.
“Tetapi supaya jangan kita menjadi batu sandungan bagi mereka, pergilah memancing ke danau. Dan ikan pertama yang kaupancing, tangkaplah dan bukalah mulutnya, maka engkau akan menemukan mata uang empat dirham di dalamnya. Ambillah itu dan bayarkanlah kepada mereka, bagi-Ku dan bagimu juga.” (Matius 17:27).
Renungan:
Batu sandungan adalah suatu kiasan untuk segala sesuatu (bisa berupa perkataan, perbuatan, sikap, maupun rintangan) yang menyebabkan orang lain tersandung, jatuh ke dalam dosa, kehilangan iman, atau terhambat mencapai suatu tujuan.
Dalam Pernjanjian Lama (Imamat 19:4) tertulis: “Janganlah kaukutuki orang tuli dan di depan orang buta janganlah kautaruh batu sandungan, tetapi engkau harus takut akan Allahmu; Akulah TUHAN.” Jelas, menjadi larangan harafiah agar seseorang tidak menaruh batu rintangan di depan orang yang buta, karena dapat mencelakai orang buta yang melewati batu rintangan itu ditaruh. Bacaan perikop Matius hari ini juga mengingatkan kit agar hidup tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain. Hal ini juga diteladankan oleh Yesus melalui tindakan-Nya membayar bea untuk masuk ke dalam Bait Allah.
Kisah dalam bacaan perikop hari ini diawali dari peristiwa Yesus bersama para murid-Nya yang sedang berada di Galilea, tempat permulaan pewartaan-Nya. Di tempat ini, Yesus memberitakan untuk kedua kalinya tentang sengsara dan wafat-Nya di Yerusalem. Para murid merasakan kesedihan yang mendalam ketika mendengar bahwa Yesus, sang Guru, akan menderita dan wafat. Penderitaan dan wafat Yesus itu terjadi sebagai kehendak dan rencana Allah Bapa.
Yesus dan para murid kemudian tiba di Kapernaum, tempat tinggal Simon dan Andreas. Di tempat ini, seorang pemungut bea dari Bait Allah berjumpa dengan Petrus dan menanyakan apakah Yesus membayar pajak untuk pemeliharaan Bait Allah di Yerusalem. Yesus sebenarnya tidak berkewajiban membayar bea untuk Bait Allah mengingat identitas-Nya sebagai Anak Allah. Sama seperti para raja mengumpulkan pajak dari orang asing dan bukan dari rakyat yang adalah anaknya sendiri, demikian pula Yesus, Anak Allah dan pemilik Bait Allah, tidak perlu membayar bea untuk Bait Allah.
Namun, demi keadilan dan menghindari batu sandungan bagi orang banyak, Yesus membayarnya dengan cara yang bijak dan mengagumkan. Dengan bertindak demikian, Yesus mengajarkan para murid agar bertindak adil dan tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain. Tindakan Yesus menginspirasi kita juga supaya bertindak bijak, adil, dan baik.
Saudaraku terkasih, bacaan kita pagi ini mengajak kita semua selaku murid Yesus agar bersedia berkorban demi kebaikan sesama. Terlabih bagi sesama kita yang sedang sakit, lapar, dan menderita. Kita percaya bahwa di balik pengorbanan dan kebaikan yang kita lakukan, Tuhan menyediakan berkat berlimpah.
Doa:
Tuhan Yesus, ajarilah dan mampukanlah kami untuk dapat bertindak baik dan benar serta tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain. Amin. (Tim Adminweb).
