Bacaan: Rut 1:1-18.
Tetapi kata Rut: “Janganlah desak aku meninggalkan engkau dan pulang dengan tidak mengikuti engkau; sebab ke mana engkau pergi, ke situ jugalah aku pergi, dan di mana engkau bermalam, di situ jugalah aku bermalam: bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku…” (Rut 1:16).
Renungan:
Kita sering mendengar ungkapan “senasib sepenanggungan”. Ungkapan ini menggambarkan kebersamaan mendalam sekumpulan orang yang sama-sama mengalami penderitaan, suka dan duka yang sama, sehingga melahirkan persatuan hati untuk menghadapi permasalahan, kesulitan dan tantangan. Solidaritas barangkali menjadi istilah terkini dari apa yang disebut sebagai senasib sepenanggungan.
Rasa senasib sepenanggungan nampaknya lebih mudah dirasakan ketika hidup bukan di kampung halaman.. Rasa senasib sepenanggungan ini lebih mudah pula dirasakan oleh pada perantau di kota-kota besar. Di kawasan Jabodetabek misalnya, ada banyak perantau yang dapat dikenal dari gerak komunitas atau perkumpulan daerah asalnya. Ada komunitas perantau berbahasa ngapak dari Tegal-Banyumas-Kebumen. Ada yang dari wilayah Kedu, wilayah Pati-Blora-Grobogan, wilayah Solo Raya, Wonogiri, Gunungkidul, dan lain-lainnya.
Di Jabodetabek, komunitas perantau asal Gunungkidul termasuk komunitas yang menonjol gotong royong dan keguyubannya. Mereka menjadi pejuang hidup dan pekerja keras, gigih, ulet, dan mau hidup prihatin. Mereka juga terbiasa guyub-rukun dan tolong-menolong. Mulai dari hal sederhana, misalnya memberi tumpangan tidur sewaktu datang pertama kali di perantauan, saling bantu saat menghadapi musibah, sampai dengan patungan membeli kapling tanah dan membangun rumah. Karena itu tak mengherankan apabila menjumpai kawasan perantau asal Gunungkidul seperti di Pondok Gede, Mampang-Pasar Minggu-Cijantung, Kreo-Ciledug, sampai di sekitar Citayam.
Bacaan Kitab Suci pagi ini mengingatkan kita akan kisah Naomi dengan Rut dan Orpa. Kisah yang tidak sekadar mengharu biru, namun juga memberikan pelajaran bermakna. Naomi adalah seorang ibu yang berasal dari Betlehem – Yehuda. Ia bersama Elimelekh suaminya dan kedua anaknya harus mengungsi ke tanah Moab karena terjadi peristiwa kelaparan negeri Yehuda. Di tanah rantau itu, kedua anak Naomi dan Elimelekh pada akhirnya memiliki istri orang Moab bernama Ruth dan Orpa.
Sayangnya, kebahagiaan Naomi terenggut karena suami dan kedua anaknya meninggal di negeri asing tersebut. Ketika Naomi berencana akan kembali ke kampung halamannya, ia meminta agar kedua menantunya meninggalkan dirinya. Menurut Naomi, kedua menantunya itu sebaiknya pulang ke rumah ibunya, biarlah mereka dapat mencari suami baru dan membangun kehidupan baru. Naomi berdoa dan berharap Tuhan memberikan kasihNya kepada kedua perempuan itu, sebagaimana mereka telah memberikan cinta kasih kepada kedua anaknya yang telah meninggal.
Sebelum pergi meninggalkan perempuan tua itu, Orpa menangis haru ketika berpamitan. Sedangkan Rut bersikukuh tidak mau berpisah dengan Naomi. Rut meminta untuk tidak mendesak dirinya meninggalkan Naomi yang telah hidup sebatang kara. Kata Rut: “Janganlah desak aku meninggalkan engkau dan pulang dengan tidak mengikuti engkau; sebab ke mana engkau pergi, ke situ jugalah aku pergi, dan di mana engkau bermalam, di situ jugalah aku bermalam: bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku; di mana engkau mati, akupun mati di sana, dan di sanalah aku dikuburkan. Beginilah kiranya TUHAN menghukum aku, bahkan lebih lagi dari pada itu, jikalau sesuatu apapun memisahkan aku dari engkau, selain dari pada maut!” (ayat 16-17).
Meski pada akhirnya Orpa berpisah dengan Naomi dan Rut, mereka berpisah dengan berat hati dan sama-sama berharap kebaikan yang akan ditemukan kemudian hari. Keputusan yang dilakukan Rut lebih menegaskan kembali apa yang dimaksud dengan rasa senasib sepenanggungan itu. Rut tak mau berpisah dengan Naomi perempuan tua itu, meski ia harus pergi meninggalkan tanah Moab negerinya. Rut ingin tetap hidup bersama Naomi. Bahkan Rut menyadari diri sebagai orang Moab adalah bukan bangsa yang mengenal Allah, karena itu ia juga berserah diri menjadikan Allah yang diikuti Naomi adalah juga Allah yang diikuti Rut.
Saudaraku terkasih, kisah tiga perempuan ini menegaskan bahwa cinta kasih dan rasa senasib sepenanggungan telah memupuk empati, kerja sama, dan ikatan persaudaran dan kekeluargaan yang bermakna. Mengalami senasib sepenanggungan menjadi dasar yang kokoh untuk berjuang bersama dan mengasah pemahaman sehingga mampu memupuk rasa peduli terhadap orang lain. Hal tidak kalah penting lainnya adalah bahwa kasih karunia dan berkat Tuhan juga tercurah atas Rut dan Orpa yang berbeda bangsa, berbeda tradisi, dan sesungguhnya tergolong sebagai bangsa kafir.
Dari Kitab Suci diketahui pula bahwa melalui Rut yang kemudian menikah dengan Boas, dalam silsilahnya menurunkan Obed, Isai, dan Daud. Karena itu, sudah semestinya kita sebagai gereja yaitu umat yang dipanggil keluar oleh Tuhan untuk menjadi berkat bagi segala bangsa. Sudah semestinya pula kita tidak memegahkan diri dan memandang rendah bangsa yang tidak dan belum mengenal Allah.
Doa:
Tuhan Allah Bapa sorgawi, terima kasih Tuhan atas firman-Mu pagi ini telah mengingatkan dan meneguhkan kami agar bersikap rendah hati. Mampukanlah senantiasa agar terhindar dari bahaya perilaku sombong karena merasa diri istimewa sebagai umat yang telah Engkau selamatkan. Mampukanlah kami untuk membangun rasa senasib-sepenanggungan dengan siapapun sebagai sesama umat manusia milik Tuhan Yang Maha Kasih. Amin. (Joko Yanuwidiasta – Kulwo).
