Memulai dari Hal Kecil

Bacaan: Matius 13:31-33, 44-52.

Memang biji itu yang paling kecil dari segala jenis benih, tetapi apabila sudah tumbuh, sesawi itu lebih besar dari pada sayuran yang lain, bahkan menjadi pohon, sehingga burung-burung di udara datang bersarang pada cabang-cabangnya. (Matius 13:32).

Bacaan Lainnya

Renungan:

Saudara-saudara yang dikasihi oleh Tuhan, ada sebuah pepatah yang mengatakan, “Perjalanan seribu mil dimulai dengan satu langkah.” Kalimat ini memberitahu kita bahwa hampir tidak ada sesuatu yang besar yang langsung terjadi dalam sekejap. Sebuah pohon yang rindang,awal mulanya juga dari sebutir benih. Sebuah rumah dibangun bata demi bata. Bahkan perubahan dalam kehidupan seseorang sering bermula dari tindakan-tindakan sederhana yang dilakukan dengan setia dan tekun. Apa yang tampak kecil di mata manusia belum tentu kecil di hadapan Allah. Justru melalui hal-hal yang sederhana itulah Allah berkuasa menghadirkan karya-Nya.

Pemahaman ini yang hendak diajarkan Yesus dalam bacaan kita hari ini. Pada masa itu, orang-orang menantikan Kerajaan Allah hadir dengan cara yang besar dan segera mengubah keadaan, tidak lain melalui perang. Namun melalui berbagai perumpamaan, Yesus justru menunjukkan bahwa Kerajaan Surga bekerja dengan cara yang berbeda dari dugaan manusia. Kerajaan itu memang hadir melalui Yesus Kristus, tetapi kehadirannya tidak selalu tampak megah dan mencolok. Kerajaan Surga justru dimulai dari sesuatu yang kecil, bekerja secara perlahan, namun terus bergerak menuju penggenapannya.

Karena itu Yesus memakai gambaran tentang biji sesawi. Bukan karena biji sesawi adalah biji yang paling kecil, sebab masih ada biji lain yang lebih kecil, melainkan karena biji itu lazim dipakai untuk menggambarkan sesuatu yang sangat kecil. Menariknya, dari biji yang kecil itu dapat tumbuh pohon yang cukup besar sehingga burung-burung dapat bersarang di cabang-cabangnya. Melalui gambaran ini Yesus mengingatkan bahwa karya Allah tidak ditentukan oleh besarnya permulaan. Apa yang tampak kecil dan tidak diperhitungkan, justru dapat dipakai Allah untuk menghadirkan kehidupan yang besar.

Cara kerja Kerajaan Surga itu kemudian dijelaskan lebih jauh melalui gambaran ragi. Jika biji sesawi menunjukkan bahwa Kerajaan Allah dapat berawal dari sesuatu yang kecil, maka ragi menunjukkan bagaimana Kerajaan itu bekerja. Sedikit ragi yang dicampurkan ke dalam adonan tidak langsung mengubah semuanya seketika. Ragi bekerja perlahan, dari dalam, dan tentu saja tidak terlihat. Namun pada akhirnya seluruh adonan mengembang dan mengalami perubahan. Demikian pula Kerajaan Allah. Kehadirannya mungkin tidak selalu tampak luar biasa, tetapi kuasanya terus bekerja dan mentransformasi kehidupan. Bila demikian cara Kerajaan Allah bekerja, mengapa seseorang rela menyerahkan segala miliknya demi Kerajaan itu? Pertanyaan ini Yesus jawab melalui perumpamaan tentang harta terpendam dan mutiara yang berharga. Kerajaan Allah mungkin dimulai dari sesuatu yang kecil dan bekerja secara perlahan, tetapi nilainya melampaui segala sesuatu. Karena itu orang yang sungguh menemukannya rela melepaskan yang lain demi memperoleh harta yang jauh lebih berharga. Dengan kata lain, ketika seseorang sungguh mengalami karya Allah, ia akan menyadari bahwa tidak ada yang lebih bernilai daripada hidup di dalam kehendak-Nya.

Melalui rangkaian perumpamaan ini, Matius hendak menolong para pembacanya memahami bahwa Kerajaan Surga bukan hanya berbicara tentang kehidupan setelah kematian. Sejak Yesus mengajarkan doa, “Datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga,” Kerajaan Surga dipahami sebagai karya Allah yang sudah mulai hadir di sini, sekarang, dan terus berjalan menuju kesempurnaan-Nya. Kerajaan itu terus bekerja melalui dan di dalam orang-orang yang hidup menurut kehendak Allah, termasuk melalui tindakan-tindakan yang sederhana yang penuh kasih.

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, Firman Tuhan hari ini mengajak kita untuk tidak meremehkan hal-hal yang kecil. Walau kadangkala keseharian kita menilai sesuatu dari besarnya hasil atau cepatnya perubahan, tetapi Yesus mengingatkan bahwa Allah justru sering memulai karya-Nya dari sesuatu yang sederhana. Oleh sebab itu, jangan pernah menganggap kecil setiap kesempatan untuk berbuat baik, untuk berlaku jujur, untuk mengampuni, untuk memberi perhatian, atau untuk menolong sesama. Mungkin semuanya tampak biasa menurut ukuran manusia, tetapi di tangan Allah tidak ada kebaikan tulus yang sia-sia.

Di sisi lain, kita juga diingatkan agar tidak mudah putus asa ketika hasil dari sesuatu yang kita kerjakan belum terlihat. Sebagaimana biji sesawi memerlukan waktu untuk bertumbuh dan ragi bekerja tanpa banyak disadari, demikian pula benih-benih kebaikan memerlukan proses. Tugas kita adalah tetap setia memulai dari hal-hal kecil, sementara pertumbuhan dan buahnya tetap berada di dalam tangan Allah. Mari berusaha bersama menjadi orang-orang yang tidak lelah menaburkan benih-benih kebaikan dalam kehidupan. Sebab Kerajaan Allah dapat dimulai dan muncul dari hal-hal kecil, tetapi Allah sanggup menghadirkan perubahan yang besar melaluinya. Amin.

Doa:

Ya Tuhan, kami mau untuk terus setia melakukan hal-hal yang menjadi kehendak-Mu. Sekalipun bermula dan melalui hal-hal yang kecil nan sederhana, tetapi kami melakukannya dengan cinta yang besar untuk Engkau, sesama, dan dunia ini. Dimuliakanlah Engkau kekal selamanya. Amin. (Daniel Bimantara – Kulwo).

 

 

Pos terkait