Bacaan : Ulangan 17:2-13; Mazmur 119:65-72; Roma 13:1-7.
“Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di atasnya, sebab tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah.”— Roma 13:1.
Renungan:
Pernahkah Anda merasa kesal saat harus mengantre panjang untuk mengurus dokumen administrasi, atau merasa berat saat harus membayar pajak tepat waktu? Sebagai warga negara, terkadang kita merasa aturan-aturan yang ada di sekitar kita sangat membatasi atau bahkan merepotkan. Namun, firman Tuhan hari ini memberikan sudut pandang yang sangat tegas dan berbeda tentang bagaimana seorang rukun orang percaya harus bersikap terhadap hukum duniawi.
Rasul Paulus, di bawah bimbingan Roh Kudus, menulis surat ini kepada jemaat di Roma. Perlu diingat bahwa pada masa itu, pemerintah yang berkuasa adalah Kekaisaran Romawi yang sering kali kejam dan tidak mengenal Allah. Meski begitu, Paulus tidak meminta jemaat untuk memberontak. Sebaliknya, ia mengingatkan sebuah kebenaran mendasar: semua otoritas dan pemerintah yang ada di dunia ini pada akhirnya ditetapkan oleh Allah.
Allah adalah Allah yang tertib. Dia mendirikan struktur pemerintahan di dunia ini untuk menjaga keteraturan, menindak kejahatan, dan melindungi kebaikan. Oleh karena itu, ketika kita menaati hukum negara, menaati rambu lalu lintas, dan membayar pajak dengan jujur, kita sebenarnya sedang menghormati otoritas Allah sendiri yang menempatkan pemimpin-pemimpin tersebut.
Ketaatan kita sebagai orang Kristen seharusnya lahir dari motivasi yang murni, bukan sekadar karena takut dihukum atau ditilang. Paulus menuliskan bahwa kita harus takluk “oleh karena hati nurani kita” (Roma 13:5). Artinya, ketaatan kita adalah wujud ibadah dan penghormatan kita kepada Tuhan. Kita menjadi warga negara yang baik karena kita adalah warga Kerajaan Sorga yang diutus menjadi garam dan terang di dunia ini.Tentu saja, ketaatan kepada manusia memiliki batas jika aturan tersebut memaksa kita untuk berdosa atau melawan perintah Allah secara langsung. Namun, selama aturan dan hukum tersebut bertujuan untuk ketertiban masyarakat, tugas kita adalah mendukung, menaati, dan mendoakan para pemimpin kita. Mari tunjukkan kesaksian hidup yang indah lewat sikap taat kita hari ini.
Hari ini, mari kita periksa hati kita masing-masing. Apakah kita masih sering mengeluh tentang aturan di lingkungan kita, tempat kerja, atau negara kita? Mari belajar taat dari hal-hal kecil: membuang sampah pada tempatnya, jujur dalam keuangan dan pajak, serta tidak menyebarkan fitnah tentang pemimpin kita. Sebaliknya, mari ambil waktu sejenak untuk mendoakan para pemimpin bangsa agar mereka diberikan hikmat oleh Tuhan.
Doa:
Ya Tuhan yang bertakhta di atas segala takhta, kami mengucap syukur atas pemerintah dan otoritas yang Engkau tetapkan di atas kami. Berikanlah kami hati yang taat dan tunduk pada hukum yang berlaku, bukan karena takut dihukum, melainkan karena kami mengasihi-Mu dan ingin menjaga kesaksian hidup kami. Karuniakanlah hikmat-Mu juga kepada para pemimpin kami agar mereka dapat menjalankan tugas dengan keadilan dan kebenaran. Di dalam nama Tuhan Yesus Kristus, kami berdoa. Amin. (Libowa Estebar – Gunungsari).
