Bacaan: Matius 21:33-46.
“Dengarkanlah suatu perumpamaan yang lain. Adalah seorang tuan tanah membuka kebun anggur dan menanam pagar sekelilingnya. Ia menggali lobang tempat memeras anggur dan mendirikan menara jaga di dalam kebun itu. Kemudian ia menyewakan kebun itu kepada penggarap-penggarap lalu berangkat ke negeri lain.” (Matius 21:33).
Renungan:
Saudara-saudara yang terkasih, perumpamaan dalam bacaan tadi sebenarnya berangkat dari pengalaman nyata dalam konteks kehidupan saat itu. Banyak pemilik kebun anggur yang menyewakan tanahnya kepada para penggarap. Situasi ekonomi dan sosial, memang bisa membuat penggarap bertindak jahat seperti yang diceritakan dalam teks. Pada perumpamaan ini pemilik adalah Allah, penggarap adalah para pemimpin bangsa Yahudi yang mestinya mengusahakan damai sejahtera bagi bangsanya, dan anak sulung adalah Yesus sendiri. Lantas apa pesan di balik perumpamaan tersebut?
Pertama. Allah percaya pada manusia untuk melakukan tugas yang diberikan-Nya. Ia tidak bertindak sepert aparat yang ketat mengawasi dan siap menghukum. Semakin nyata ketika Allah tetap sabar mengirim utusan agar penggarap mendengar himbauan-Nya, meski tidak didengarkan juga. Namun Allah menjunjung keadilan, barangsiapa menyelewengkan kepercayaan itu, maka harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Kebun diambil kembali dan diberikan kepada yang lain.
Kedua. Manusia diberi hak istimewa, yaitu difasilitasi. Menara, alat pemeras, dan pagar. Allah memperlengkapi manusia dalam menjalani kehidupan dan tugas yang dipercayakan Allah padanya. Di sisi lain, manusia pun diberi kebebasan melakukan tugasnya dengan caranya sendiri. Sekali lagi, karena Allah mempercayai manusia Ia tak bertindak sebagai majikan yang kejam. Namun justru di situlah terletak suatu tanggung jawab. Manusia harus mampu mempertanggungjawabkan apa yang dilakukannya, mendasar pada kepercayaan, kebebasan, bahkan fasilitas yang diberikan Allah. Mengapa? Sebab kenyataannya, manusia dapat memilih dan berbuat sesuatu yang mengkhianati Allah.
Terakhir kita melihat, anak sulung adalah Yesus sendiri. Ia dengan sadar berjalan menuju para penggarap itu, yang ternyata justru membuatNya kehilangan nyawa. Tepat di sini kita melihat kemuliaan Yesus. Ia menunjukkan jalan hidup kekal pada manusia meski dengan bayaran nyawa-Nya sendiri. Itu sebabnya, Ia disebut sebagai dasar utama atas segala sesuatu dan batu penjuru yang merangkul semuanya. Artinya, Allah sesungguhnya memberikan pemulihan pada manusia yang dapat berkhianat itu ketika mau untuk percaya pada Yesus dan mengikuti teladan hidup-Nya.
Saudara-saudara yang terkasih, di momen peringatan Hari Perjamuan Kudus Sedunia, Hari Pekabaran Injil di Indonesia, dan Pembukaan Masa Bulan Keluarga tahun 2026, kita diingatkan bahwa Tuhan itu percaya pada kita, memperlengkapi kita, bahkan masih berkenan memulihkan kita. Kurang apa lagi? Oleh karena itu sebagaimana tema hari ini, kita mesti mengakar kuat pada firman Tuhan dan menumbuhkan buah dari firman tersebut berupa tindakan kasih yang nyata. Itulah bentuk pertanggungjawaban kita pada Tuhan dan harus menukik lebih dalam, yakni sebagai bentuk cinta kita pada Tuhan yang lebih dulu mencintai kita.
Apa bukti nyatanya? Mari menjadi orang yang bisa dipercaya. Kalau sudah janji ya ditepati, bukan diblenjani. Kalau ada yang menceritakan rahasia dan minta dijaga, ya dijaga sungguh-sungguh, alias jangan “ember.” Kalau mau belanja barang harga 50 ribu, jangan bilang harganya 20 ribu, jujur aja harganya memang 50 ribu. Lalu mari menjadi orang yang bertanggung jawab. Kalau memakai barang dan sudah selesai, kembalikan pada tempatnya. Bangun tidur merapikan bantal guling dan melipat selimut. Berani ambil banyak makanan di piring, berarti harus siap menghabiskan. Habis pakai toilet atau kamar mandi, diguyur lalu air maupun lampu dimatikan. Mari menjadi orang yang selalu berusaha memulihkan. Hindari kalimat “Halah cuma sepele lho, gitu aja kok ngambek, cengeng.”, kita ganti “Maaf bercandaku kebablasan dan kata-kataku bikin sakit hati.” Kalau ada perselisihan dengan keluarga, seyogyanya tidak cepat-cepat bercerita kepada orang lain demi membenarkan pendapat kita sendiri, melainkan diselesaikan di antara keluarga sendiri lebih dulu dengan bicara baik-baik.
Tuhan sudah dan masih mempercayai kita. Ia pun membekali dan memelihara kita setiap waktu, bahkan Ia masih berkenan memulhikan kita. Maka, mari nyatakan kasih-Nya sebagai buah firman Tuhan yang mengakar pada hati kita, dengan menjadi orang yang bisa dipercaya, bertanggung jawab, dan mau selalu memulihkan. Amin.
Doa:
Terpujilah Engkau selalu Tuhan Yesus. Kami mensyukuri firman-Mu yang telah kami terima. Kami mau untuk menyatakan kasih pada Engkau dan sesama kami dengan menjadi pribadi yang bisa dipercaya, bertanggung jawab, dan bersedia selalu memulihkan. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin. (Daniel Bimantara – Kulwo).
