Bacaan: II Raja-raja 4:18-37.
Kemudian Elisa memanggil Gehazi dan berkata: “Panggillah perempuan Sunem itu!” Dipanggilnyalah dia, lalu datanglah ia kepadanya, maka berkatalah Elisa: “Angkatlah anakmu ini!”. (2 Raja-raja 4:36).
Renungan:
Kisah dalam Kitab 2 Raja-raja 4:18–37 menceritakan tentang seorang perempuan Sunem yang mengalami kehilangan besar, yaitu anaknya yang sangat dikasihi tiba-tiba meninggal. Ini bukan sekadar cerita mukjizat, tetapi kisah tentang iman di tengah keputusasaan.
Perempuan ini sebelumnya menerima janji Tuhan melalui Nabi Elisa, bahwa ia akan memiliki seorang anak. Ketika janji itu tergenapi, tentu ia sangat bersukacita. Namun siapa sangka, sukacita itu berubah menjadi duka yang begitu dalam.
Dalam hidup, kita juga sering mengalami hal yang sama. Kita sudah berdoa, berharap, bahkan mungkin sudah menerima “jawaban Tuhan”, tetapi tiba-tiba keadaan berubah menjadi buruk. Kita bisa merasa bingung, kecewa, bahkan mempertanyakan Tuhan.
Namun yang menarik, perempuan Sunem ini tidak tenggelam dalam kesedihannya. Ia memilih untuk bertindak. Ia pergi mencari Nabi Elisa, sumber pengharapan yang ia kenal. Saat ditanya bagaimana keadaannya, ia menjawab, “Semua baik.” Ini bukan berarti ia tidak sedih, tetapi ia memilih percaya bahwa Tuhan masih bekerja, meskipun situasi terlihat mustahil. Ia tidak menyalahkan Tuhan. Ia tidak menyerah. Ia datang kepada Tuhan dengan iman.
Melalui doa dan tindakan Nabi Elisa, Tuhan melakukan mukjizat, anak itu hidup kembali. Ini menunjukkan bahwa Tuhan tidak pernah terlambat. Ia sanggup memulihkan apa yang kita anggap sudah “mati”, baik itu harapan, mimpi, atau bahkan iman kita.
Pelajaran untuk Kita: Datanglah kepada Tuhan saat masalah datang. Jangan menjauh, justru mendekatlah kepada-Nya. Tetap percaya meskipun belum melihat jawaban, sebab iman bukan soal melihat, tetapi percaya bahwa Tuhan sanggup memulihkan. Tidak ada situasi yang terlalu sulit bagi Tuhan.
Jika hari ini kita sedang merasa kehilangan, kecewa, atau putus asa. Ingatlah, Tuhan yang sama yang bekerja dalam kisah ini, masih bekerja sampai sekarang. Ia adalah Tuhan yang memulihkan. Harapan itu belum mati. Tuhan sanggup menghidupkannya kembali. (Elisabet Lasmiyati – Kulwo).
