Bacaan: Ibrani 10:16–25.
Sebab setelah Ia berfirman: “Inilah perjanjian yang akan Kuadakan dengan mereka sesudah waktu itu,” Ia berfirman pula: “Aku akan menaruh hukum-Ku di dalam hati mereka dan menuliskannya dalam akal budi mereka, dan Aku tidak lagi mengingat dosa-dosa dan kesalahan mereka.” (Ibrani 10:16-17).
Renungan:
Anak kecil yang terjatuh saat belajar berjalan, ia akan menangis dan merasa sakit. Sang orang tua juga tidak memarahinya, sang anak itu justru diangkat, dipeluk, dan ditenangkannya. Demikian pula yang dilakukan Tuhan, saat kita jatuh dalam kerapuhan, Dia tidak menghakimi kita, tetapi merengkuh kita.
Saudaraku yang terkasih, bacaan Kitab Suci pada pagi hari ini mengajarkan, bahwa kasih Kristus yang merengkuh kerapuhan manusia diwujudkan melalui pengorbanan-Nya, membuka jalan ke hadirat Allah, dan memanggil kita saling memperhatikan dalam persekutuan. Kita dipanggil menghampiri Allah dengan hati tulus dan saling memotivasi dalam kasih, bukan menjauhkan diri dari ibadah, terutama di tengah kerapuhan hidup.
Dari bacaan Kitab Ibrani pagi hari ini, setidaknya terdapat 4 pesan penting yang kita dapatkan, yaitu:
- Kasih Tuhan yang menyentuh hati yang rapuh (ayat 16 – 18). Tuhan berkata bahwa Dia menaruh hukum-Nya di dalam hati kita dan mengampuni dosa-dosa kita. Ini menunjukkan bahwa kasih-Nya bukan kasih yang menuntut kesempurnaan, tetapi kasih yang menerima kita apa adanya. Seringkali kita merasa tidak layak karena kegagalan, dosa atau kelemahan. Namun kasih Tuhan tidak menunggu kita menjadi kuat dulu. Dia datang justru saat kita rapuh.
- Keberanian untuk mendekat kepada Tuhan (ayat 19 – 22). Karena pengorbanan Yesus, kita diberi keberanian untuk datang kepada Allah. Ini luar biasa, kita yang lemah justru diundang untuk mendekat. Kadang kita menjauh dari Tuhan saat jatuh, merasa malu atau takut. Tapi firman ini mengingatkan jangan menjauh saat rapuh, tetapi mendekatlah. Yesus tidak menolak hati yang hancur, Dia merengkuhnya.
- Berpeganglah teguh di tengah kelemahan (ayat 23). “Marilah kita teguh berpegang pada pengakuan tentang pengharapann kita …” Kerapuhan sering membuat kita ragu, takut, dan kehilangan harapan. Tapi Tuhan setia. Harapan kita tidak bergantung pada kekuatan kita, melainkan pada kesetiaan-Nya.
- Saling menguatkan dalam kasih (ayat 24 – 25). Kita tidak dipanggil untuk berjalan sendiri. Dalam kerapuhan, Tuhan menghadirkan komunitas (keluarga, sahabat, Persekutuan). Ayat ini mengajak kita untuk saling memperhatikan, saling mendorong dalam kasih, tidak menjauh dari persekutuan karena terkadang kasih Tuhan hadir lewat orang lain yang menguatkan kita.
Lantas, apa penerapan yang dapat kita lakukan dalam kehidupan kita sehari-hari? Setidaknya ada 4 sikap dan tindakan yang mesti kita kerjakan, yaitu:
- Jangan sembunyikan kerapuhanmu dari Tuhan.
- Berani datang kepada Tuhan apa adanya.
- Pegang harapan, walau hati lemah.
- Cari dan bangun komunitas yang saling menguatkan.
Doa:
Tuhan, dalam kerapuhanku, aku datang kepada-Mu. Terima kasih karena kasih-Mu tidak menolakku, tetapi merengkuhku. Ajarku untuk tetap berharap dan tidak menjauh dari-Mu. Pakailah juga orang – orang di sekitarku untuk menguatkan imanku. Amin. (Tri Setyowati – Kulwo).
