Bacaan : Kejadian 27 : 30-38.
Kata Esau kepada ayahnya: “Hanya berkat yang satu itukah ada padamu, ya bapa? Berkatilah aku ini juga, ya bapa!” Dan dengan suara keras menangislah Esau. (Kejadian 27:38).
Renungan:
Bapak, Ibu, Saudara terkasih dalam Tuhan, masih ingatkah kita kisah mengenai keluarga Ishak? Sebuah keluarga yang dikasihi Tuhan namun mengalami keretakan. Ishak dan Ribka diberikan keturunan oleh Allah setelah Ishak berdoa kepadaNya untuk diberikan keturunan karena Ribka mandul. Allah mengabulkan doa Ishak dan memberikan 2 anak kembar yang akan dinamai Esau dan Yakub, Allah menyampaikan pesan bahwa “Dua bangsa ada dalam kandunganmu, dan dua suku bangsa akan berpencar dari dalam rahimmu. Suku bangsa yang satu akan lebih kuat daripada yang lain, dan yang tua akan menjadi hamba kepada anak yang muda.” (Kejadian 25 ayat 23).
Esau tumbuh menjadi pemuda yang gagah dan mahir berburu, sedangkan Yakub merupakan seorang pemuda yang tenang dan suka tinggal di dalam kemah. Keretakan dalam keluarga dipicu karena adanya favoritisme dalam keluarga. Ishak lebih mengasihi Esau karena suka makan daging hasil buruannya, sedangkan Ribka menyayangi Yakub. Meskipun Ishak sudah mengetahui Allah akan menjadikan Yakub pemimpin namun Ishak masih memiliki keinginan untuk memberikan berkatnya kepada Esau. Ishak berusaha mengalihkan berkat Allah kepada anak sulungnya.
Namun seberapapun usaha yang dilakukan oleh Ishak, rencana Allah tetap terjadi. Esau menjual hak kesulungannya kepada Yakub untuk ditukar dengan makanan saat ia kelaparan. Kemudian saat Ishak sudah renta dan meminta Esau untuk berburu dan menghidangkan masakan untuknya agar diberikan berkat (Kejadian 27 ayat 1). Ribka yang mendengar hal tersebut menjadi resah dan mendorong Yakub untuk menipu ayahnya agar mendapatkan berkat yang menjadi haknya sesuai janji Allah. Esau yang mengetahui kejadian tersebut meminta ayahnya untuk memberkatinya, namun Ishak tersadar bahwa rencana Allah yang terjadi berkat tidak bisa dibatalkan dan akan tetap menjadi milik Yakub (Kejadian 27 ayat 33). Esau menjadi sangat marah dan berusaha membunuh Yakub sehingga Yakub melarikan diri, demikianlah keluarga yang diberkati Allah menjadi terpecah karena ketidaksetiaan dalam menanti janji Allah.
Dari kisah ini dapat kita lihat beberapa kesalahan yang dilakukan oleh Ishak, Ribka, Esau dan Yakub. Ishak yang telah mengetahui Firman dan janji Allah tetap berusaha memberikan berkat kepada Esau karena dia lebih menyayangi Esau, Ishak telah mengingkari janji Allah. Ribka tetap berpegang kepada janji Allah, namun tidak berserah kepada Allah ketika rencana Allah menghadapi rintangan Ribka mengambil jalan pintas dengan mendorong Yakub untuk menipu ayahnya demi berkat istimewa.
Meski Yakub mengambil apa yang menjadi haknya sesuai janji Allah, namun cara yang dilakukan Yakub dan Ribka tidak dapat dibenarkan. Mereka tidak memakai cara Allah, melainkan cara mereka sendiri. Yakub menerima akibatnya dengan menjadi seorang pelarian meski dia telah mendapatkan berkat. Sedangkan Esau merasa lebih berhak mendapatkan berkat tersebut karena merasa dirinya lebih cakap dan unggul dibandingkan Yakub.
Apakah kita pernah mengingkari janji Allah dan memilih apa yang kita anggap baik menurut kita sendiri? (kesalahan Ishak), apakah kita pernah kuatir pada saat ada kesilitan yang seakan menjadi penghalang janji Allah yang kita takut janji Allah tidak akan tercapai dan menggunakan jalan pintas dengan cara kita sendiri?(kesalahan Ribka dan Yakub), ataukah kita pernah merasa lebih baik dari orang lain? Sebagai umat pilihan Allah kita merasa lebih berhak mendapatkan berkatnya? (kesalahan Esau). Berkat Allah adalah sebuah anugrah istimewa bukan karena kita layak atau karena kita mampu melainkan mutlak kehendakNya, Allah tetap memberikan berkat kepada orang berdosa (Yakub yang telah menipu ayahnya) sesuai dengan janji-Nya. Ketidaksetiaan dalam menanti janji Allah telah menyebabkan rusaknya hubungan dalam keluarga Ishak.
Dari perikop tersebut kita sebagai umat pilihan Allah harus selalu waspada dan bergantung sepenuhnya kepada Allah. Allah mengkehendaki kita menjadi anak-anak yang taat yang mau menantikan janji-Nya dengan sabar dan setia agar hidup kita berkenan di hadapan Allah. Rencana Tuhan dalam kehiduan kita tidak akan pernah gagal, manusia bisa ingkar janji tetapi Allah selalu menggenapi janji-Nya.
Doa:
Tuhan, ajarlah kami agar menjadi umatmu yang taat dan setia dalam menanti janji Mu. Ajarlah kami untuk selalu bergantung pada rencana-Mu Tuhan agar kami menjadi pribadi yang berkenan dihadapan-Mu. Biarlah rencana-Mu yang terjadi dalam hidup kami. Amin. (Henry Prabowo – Wonocatur).






