Bacaan: I Raja-raja 19:19-21; Mazmur 40:1-11; Lukas 5:1-11.
“Aku suka melakukan kehendak-Mu, ya Allahku; Taurat-Mu ada dalam dadaku.” (Mazmur 40:9).
Renungan:
Bapak Ibu dan Saudara yang dikasihi Tuhan, saya memiliki sebuah cerita:
Setelah puluhan tahun bekerja, Pak Sastro memasuki masa pensiun. Hari-harinya terasa lengang. Ia sering bertanya dalam hati, “Masih adakah gunanya aku sekarang?”
Suatu hari, di desanya diadakan gugur gunung untuk memperbaiki jalan kampung. Pak Sastro sempat ragu karena tenaganya tak sekuat dulu. Namun ia tetap datang. Ia diminta membantu mengatur alat, memberi arahan, dan menemani warga yang bekerja. Istrinya ikut berperan menyiapkan minuman dan masakan sederhana bagi yang bergotong royong.
Hari itu tidak ada jabatan, tidak ada sorotan. Namun Pak Sastro pulang dengan hati penuh syukur. Ia menyadari, dirinya masih berguna ketika ia mau hadir dan taat.
Seperti Elisa yang dipanggil Tuhan saat membajak ladang dan Petrus saat menjala ikan, Allah memanggil manusia di tengah pekerjaan dan kehidupan sehari-hari. Mereka tidak sedang melakukan hal yang istimewa, tetapi mereka bersedia taat ketika Tuhan berbicara. Ketaatan itulah yang membuat hidup mereka berkenan kepada Allah.
Demikian juga dalam hidup kita. Hidup berkenan kepada Allah tidak selalu ditunjukkan melalui jabatan, pekerjaan, atau peran besar yang terlihat orang lain. Setiap peran kecil yang kita jalani, seperti mendengarkan dengan sabar, bersikap jujur dalam pekerjaan, menjaga cinta kasih di keluarga, serta setia hadir dan saling mendoakan di gereja, menjadi wujud bahwa kita mendengar dan menanggapi panggilan Tuhan. Kesetiaan dalam keseharian itulah yang Tuhan perkenan.
Doa:
Tuhan, ajari kami untuk hidup taat melakukan kehendak-Mu dalam keseharian kami. Tolong kami setia melakukan yang benar, meski sederhana dan tidak terlihat oleh banyak orang. Kiranya hidup kami berkenan kepada-Mu, di setiap waktu dan keadaan. Amin. (Kintan Limiansi, Minomartani).






