Hati Tuhan Lebih Luas dari Kemarahan Kita

Bacaan: Yunus 4:1-12.

Tetapi berfirmanlah Allah kepada Yunus: “Layakkah engkau marah karena pohon jarak itu?” Jawabnya: “Selayaknyalah aku marah sampai mati.” (Yunus 4:9).

Bacaan Lainnya

Renungan:

Setelah Niniwe bertobat dan Tuhan tidak jadi menghukum kota itu, Yunus justru marah. Ia merasa keputusan Tuhan tidak adil. Tuhan lalu memakai sebuah tanaman yang tumbuh dan layu untuk mengajar Yunus tentang belas kasihan.

Reaksi Yunus terasa mengejutkan. Ia lebih memilih melihat hukuman terjadi daripada melihat perubahan dan pengampunan.
Kemarahan Yunus memperlihatkan bahwa hati manusia bisa sempit, ingin keadilan versi sendiri, tetapi sulit menerima belas kasihan Tuhan bagi orang lain.

Tuhan tidak langsung menghukum Yunus, sebaliknya ia mendidik Yunus sabar. Tanaman yang tumbuh memberi kenyamanan, lalu layu. Dari situ Tuhan menunjukkan bahwa Yunus bisa begitu peduli pada tanaman, tetapi kurang peduli pada ribuan orang yang membutuhkan kesempatan untuk berubah.

Hal ini mengajak kita bercermin:

  • Apakah kita senang melihat orang lebih baik, bahkan jika dulu mereka menyakiti kita?
  • Apakah hati kita mudah marah saat Tuhan bekerja tidak sesuai harapan kita?

Belas kasih Tuhan selalu lebih besar dari penilaian manusia. Ia rindu kita memiliki hati yang serupa: lembut, sabar, dan mau memberi kesempatan.

Mulai saat ini mari kita berusaha:

  • Mendoakan orang yang sulit kita terima.
  • Memberi kesempatan kedua kepada seseorang.
  • Mengingat bahwa kita pun hidup dari belas kasih Tuhan.

Belajar menerima cara kerja Tuhan membuat hati kita semakin luas dan damai.

Doa:

Tuhan yang penuh belas kasih, ajar kami memiliki hati seperti Engkau, saat kami mudah marah atau menghakimi. Ingatkan kami bahwa Engkau sabar dan memberi kesempatan bagi semua orang. Bentuklah kami menjadi pribadi yang penuh kasih. Didalam nama Tuhan Yesus kami telah berdoa. Amin. (Sri Suwarni – Karanganom).

 

 

Pos terkait