Bacaan: Yesaya 42: 14-21 dan Kolose 1:9-14.
“sehingga hidupmu layak di hadapan-Nya serta berkenan kepada-Nya dalam segala hal, dan kamu memberi buah dalam segala pekerjaan yang baik dan bertumbuh dalam pengetahuan yang benar tentang Allah,” (Kolose 1:10).
Renungan:
Bapak/Ibu/Saudara yang terkasih,
Apa yang terbayang ketika mendengar kata “emas”? Tentu identik dengan harga mahal, berharga, logam mulia, ingin berinvestasi sebanyak- banyaknya jika ada rejeki lebih. Pernahkah kita merasa berharga, mulia, menjadi panutan, punya otoritas, dan tidak perlu dipersoalkan lagi (seperti emas)? Atau mungkin juga kita merasa sudah cukup baik, sudah cukup rohani, sudah cukup melayani. Namun tanpa kita sadari, kemurnian hati perlahan terkikis: tujuan hidup mulai tidak murni lagi, ketulusan digantikan kepentingan diri, kerinduan akan pengakuan menyelinap masuk, dan kenyamanan duniawi menjadi obsesi yang tersembunyi rapi. Seperti emas yang tetap merasa logam mulia meskipun sudah bercampur dengan kotoran; kita merasa baik-baik saja, padahal hati sudah tidak lagi murni di hadapan Tuhan. Lalu datanglah masalah. Masalah yang membuat sedih, bahkan terasa menderita lahir dan batin. Dari sinilah kita diundang untuk berhenti sejenak dan bertanya: Jangan-jangan, inilah proses peleburan yang sedang Tuhan kerjakan dalam hidupku?
Jemaat di Kolose tidak jauh berbeda dengan kita. Mereka sedang terombang-ambing oleh pengajaran sesat yang mengancam iman dan kesatuan mereka, sebuah krisis yang menekan dari luar sekaligus mengguncang dari dalam. Namun rasul Paulus tidak merespons dengan panik. Ia justru berdoa tanpa henti agar mereka “diisi dengan pengetahuan tentang kehendak Allah dalam segala hikmat dan pengertian rohani” (ay. 9), sehingga mereka bisa bertumbuh justru di tengah tekanan itu. Paulus tahu bahwa masalah bisa menjadi alat, bukan hambatan, bagi pertumbuhan rohani. Pertumbuhan itu ditandai oleh hal-hal yang konkret: tidak berhenti berdoa meski hati terasa berat; meminta pengertian dari Allah sehingga hati yang keras pun dapat dilembutkan kembali; memperbaiki kualitas hidup yang mungkin sudah mulai kendur; bertekun dan bersabar di tengah proses yang tidak nyaman; serta mengucap syukur, bahkan ketika keadaan belum berubah. Masalah yang kita hadapi adalah panas dalam tungku peleburan dan emas hanya bisa dimurnikan di sana, bukan di tempat yang nyaman dan sejuk.
Masalah kita bukan tanda bahwa Tuhan melupakan. Masalah adalah bukti bahwa Ia sedang mengerjakan sesuatu yang lebih dalam dan lebih berharga dari sekadar kenyamanan. Proses itu bisa terasa panas, menyakitkan, bahkan melelahkan jiwa. Tetapi di situlah kemurnian dibentuk. Maka mari memandang masalah bukan sebagai penghalang pertumbuhan, melainkan sebagai alat pertumbuhan. Bisakah kita, hari ini, memilih untuk tetap berdoa? Memilih untuk memohon pengertian dari Tuhan agar hati kita dapat dilembutkan? Memilih untuk memperbaiki kualitas hidup, untuk tekun, sabar, dan mengucap syukur di tengah proses yang belum selesai? Tuhan tidak memanggil kita untuk menjadi nyaman, Ia memanggil kita untuk menjadi murni. Dan emas yang murni selalu melewati api.
Doa:
Tuhan, kami datang dengan hati yang jujur. Terkadang kami lelah dan tidak mengerti mengapa jalan ini begitu berat. Namun kami memilih untuk percaya bahwa tangan-Mu yang penuh kasih sedang membentuk kami menjadi pribadi yang lebih murni, lebih tulus, dan lebih mengandalka-Mu. Amin. (Kintan Limiansih, Wonocatur).





