Manis Pahit Kehidupan

Bacaan: Wahyu 10:1-11.

Lalu aku mengambil kitab itu dari tangan malaikat itu, dan memakannya: di dalam mulutku ia terasa manis seperti madu, tetapi sesudah aku memakannya, perutku menjadi pahit rasanya. (Wahyu 10:10).

Renungan:

Hidup itu penuh warna. Seperti pelangi yang berwarna-warni indah menawan hati. Namun demikian, ada pula yang menggambarkan hidup itu penuh kontradiksi. Ada rasa gembira, ada pula sedihnya. Ada kesuksesan, ada pula kegagalan. Ada sukacita ada pula dukacita, dan seterusnya. Lir gumanti, demikian orang Jawa mengistilahkannya.

Bacaan Kitab Wahyu pagi ini menceritakan penglihatan Yohanes tentang malaikat perkasa yang memegang gulungan kitab kecil, menandakan akhir zaman dan selingan sebelum sangkakala ketujuh. Yohanes diperintahkan memakan kitab tersebut. Ia merasakan manis di mulut namun pahit di perut. Hal ini melambangkan keindahan sekaligus beratnya firman Tuhan. Yohanes kemudian diperintahkan bernubuat lagi kepada banyak bangsa.

Selanjutnya, hal-hal penting yang terungkap dari bacaan Kitab Wahyu pagi ini adalah sebagai berikut:
  • Malaikat Perkasa dan Kitab Kecil (ayat 1-2): Malaikat turun dari surga diselubungi awan, berpelangi, berwajah seperti matahari, dan kaki seperti tiang api, memegang gulungan kecil terbuka.
  • Ketujuh Guruh (ayat 3-4): Setelah malaikat berseru, tujuh guruh berbicara. Yohanes diperintahkan memeteraikan (merahasiakan) apa yang diucapkan guruh tersebut.
  • Tidak Ada Waktu Lagi (ayat 5-7): Malaikat bersumpah demi Allah bahwa waktu tidak akan ditunda lagi, dan misteri Allah akan diselesaikan pada masa sangkakala ketujuh.
  • Memakan Kitab (ayat 8-10): Yohanes mengambil kitab kecil itu dari malaikat dan memakannya. Rasanya manis di mulut seperti madu, tetapi terasa pahit di perut.
  • Perintah Bernubuat (ayat 11): Yohanes diperintahkan untuk kembali bernubuat mengenai banyak bangsa, kaum, bahasa, dan raja.

Saudaraku terkasih, firman Tuhan pagi ini menyapa kita semua dan menekankan pentingnya menyampaikan firman Tuhan. Firman Tuhan yang membawa kabar baik yang dilambangkan rasa manis, namun juga berisi peringatan penghakiman yang dilambangkan rasa pahit. Maka dari itu, mari senantiasa menyadari bahwa manis pahit kehidupan yang kita jalani menjadi pertanggungjawaban hidup selaku umat Tuhan. Ia menjadikan umatNya dewasa dan tidak hanya menyukai hal-hal yang manis-manis saja, tetapi kesulitan dan kepahitan adalah bagian dari perjalanan hidup yang mesti kita lalui. (Tim Adminweb).