Bacaan: Wahyu 2:1-7.
Namun demikian Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula. (Wahyu 2:4).
Renungan:
Surat Rasul Yohanes kepada jemaat di Efesus yang tertulis dalam bacaan kita pagi ini memiliki latar belakang sejarah yang panjang. Saat itu jemaat di Efesus sedang menghadapi pergumulan yang sangat berat dalam situasi di bawah penjajahan Kaisar Romawi Domitianus. Pada jaman itu, kaisar memberi perintah kepada semua orang untuk memanggil dia sebagai Allah, dan barangsiapa yang tidak taat akan disiksa dengan berat, termasuk orang Kristen di kota Efesus.
Jemaat di Efesus, bagian dari orang Kristen pada zaman itu, mulai terbagi ada yang tetap setia kepada Tuhan dengan siap menanggung resiko dihukum, tetapi ada juga jemaat yang berkompromi. Konteks ini akan terus terjadi berulang kali dalam kehidupan bergereja, bahkan bisa terjadi dalam kehidupan pribadi orang yang katanya percaya kepada Allah.
Jadi, saat itu jemaat di Efesus memiliki pergumulan yang luarbiasa, diperhadapankan akan kenyamanan hidup dengan menyembah Kaisar sebagai Allah, tetapi tetap beribadah kepada Tuhan Yesus. Sebagian orang Kristen memilih untuk melakukan itu. Kasih akan Allah itu mulai luntur pada saat seseorang membuat sebuah pilihan yang mencari kenyamanan tertentu dalam hidupnya.
Jemaat terkasih, dari bacaan kita pagi ini, kita diberi peringatan, bahwa saat rasa nyaman diberi peluang untuk berkembang dalam diri seseorang, lama kelamaan seseorang akan merasa bahwa kompromi adalah benar, dia tidak perlu menderita tetapi tetap melayani Tuhan dengan aktif. Tetapi Tuhan tidak bisa dimanipulasi oleh manusia, Tuhan tahu bahwa segala sesuatu yang kita kerjakan tidak memiliki dasar kasih mula-mula sama sekali ketika seseorang lebih memilih kenyamanan diri sendiri dan berkompromi dengan dosa dalam pelayanan yang Tuhan percayakan.
Maka dari itu, mari kita senantiasa mengingat dan terus-menerus setia untuk tidak meninggalkan kasih yang semula, yaitu mengimani bahwa: “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” (Yohanes 3:6). Inilah pondasi iman kita tentang pengorbanan dan anugerah yang datangnya dari Allah sendiri.
Peringatan terhadap jemaat Efesus yang kita baca pagi ini tidak hanya berlaku bagi mereka saja, namun itu juga berlaku bagi jemaat sekarang. Maraknya rupa-rupa angin pengajaran, tekanan, fitnah dan aniaya terhadap pengikut Kristus menjadi tantangan bagi kita semua. Masihkah kasih kita tetap berkobar-kobar untuk melayani Tuhan? Ataukah kita sudah mulai tidak kuat lagi untuk bertahan sehingga kita mulai jauh dari Tuhan? (Tim Adminweb).






