Bacaan:
Bacaan: Matius 16:13-20.
Maka jawab Simon Petrus: “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” (Matius 16:16).
Renungan:
Berani Mengambil Keputusan yang Benar
Saudara-saudara yang terkasih, setiap hari kita berhadapan dengan pilihan. Mau minum teh atau kopi, mau berangkat sekarang atau nanti, mau pergi atau tinggal di rumah. Kita memilih, lalu menjalani akibat dari pilihan itu. Ada keputusan yang sederhana, tetapi ada juga keputusan yang menyangkut pekerjaan, keluarga, kehidupan sosial, bahkan iman kita. Artinya, kita tidak cukup hanya berani memilih dan memutuskan. Kita juga perlu belajar memilih yang benar dan berani bertanggung jawab atas pilihan itu . Hal inilah yang kita jumpai ketika Yesus bertanya kepada Petrus, “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?”
Saudara-saudara yang terkasih, Kaisarea Filipi merupakan daerah yang dipenuhi berbagai simbol keagamaan dan kekuasaan. Matius menempatkan percakapan ini di tempat seperti itu untuk menegaskan persoalan yang sangat penting, di tengah berbagai suara tentang Yesus, siapakah sebenarnya Yesus? Oleh karena itu Yesus bertanya kepada murid-murid-Nya, “Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?” Para murid menyampaikan berbagai jawaban yang mereka dengar. Tetapi Yesus kemudian membawa pertanyaan itu menjadi sangat pribadi, “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” Di sini para murid tidak lagi cukup hanya mengetahui pendapat orang lain. Mereka diajak menyatakan sendiri siapa Yesus bagi mereka. Petrus kemudian berkata, “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup.” Pengakuan Petrus menunjukkan bahwa ia tidak berhenti pada apa yang dikatakan orang tentang Yesus, tetapi berani menyatakan imannya berdasarkan perjalanan dan perjumpaannya dengan Yesus. Namun menarik bahwa Yesus kemudian mengatakan bahwa pengenalan itu bukan semata-mata hasil kemampuan Petrus, melainkan karena Bapa di sorga yang menyatakannya. Dengan demikian, keberanian Petrus mengambil sikap berakar pada pengenalan yang dianugerahkan Allah kepadanya.
Sesudah pengakuan itu Yesus berkata, “Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku.” Petrus mendapat tempat penting karena melalui pengakuannya itu, untuk pertama kalinya dinyatakan dengan jelas siapa Yesus, yaitu Mesias, Anak Allah yang hidup. Petrus menjadi bagian penting dalam pembangunan umat Allah, tetapi pusat dan dasar bangunan itu tetap Kristus. Sesudah itu Yesus berkata, “Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga.” Hal ini dapat dipahami sebagai pemberian tanggung jawab kepada Petrus untuk membuka jalan agar orang mengenal Yesus dan hidup dalam kehendak-Nya. Sementara frasa “mengikat dan melepaskan” dalam tradisi Yahudi berkaitan dengan kewenangan menentukan apa yang sesuai atau tidak sesuai dengan kehidupan iman umat. Jadi Petrus diberi wewenang, tetapi wewenang itu bukan untuk bertindak sesuka hati. Wewenang tersebut harus digunakan dalam kesetiaan kepada Kristus dan demi kehidupan umat.
Saudara-saudara yang terkasih, dari kisah Petrus kita melihat bahwa keputusan yang benar tidak lahir hanya dari keberanian. Petrus berani mengambil sikap karena ia mengenal dan mengalami sendiri siapa Yesus. Oleh karena itu, sebelum mengambil keputusan kita perlu menjernihkan hati, mendengar dan mempertimbangkan suara orang lain, lalu berani mengevaluasi keputusan yang sudah dibuat. Kita tidak selalu benar. Tetapi orang yang mau mendengar, mau dikoreksi, dan mau memperbaiki diri justru sedang belajar mengambil keputusan dengan lebih bijaksana. Pertanyaannya bukan hanya, “Apa yang saya mau?”, tetapi juga, “Apa yang benar dan sesuai dengan kehendak Tuhan?”
Bukankah hal ini begitu dekat dengan kehidupan kita bersama keluarga? Ada keputusan tentang pendidikan anak, pekerjaan, sekolah, kehidupan sehari-hari, keuangan, merawat orang tua, dan berbagai dinamika dalam keluarga. Dalam situasi seperti itu, setiap anggota keluarga tentu memiliki pertimbangan, pengalaman, dan cara pandangnya sendiri. Kadang kita melihat persoalan dari sisi yang berbeda. Karena itu, keputusan yang baik membutuhkan kesediaan untuk saling mendengar dan memahami. Tidak semua orang harus mempunyai pendapat yang sama, tetapi setiap orang perlu diberi ruang untuk menyampaikan apa yang dipikirkannya. Dengan demikian, keputusan bersama bukan soal siapa yang pendapatnya paling kuat, melainkan bagaimana keluarga bersama-sama menemukan jalan yang baik bagi semua.
Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara pun sama. Kita berhadapan dengan banyak keputusan dan perbedaan pilihan. Kita berbeda pandangan mengenai banyak hal, tetapi Indonesia adalah rumah yang kita tempati bersama. Oleh sebab itu, keberanian mengambil keputusan tidak boleh hanya didasarkan pada kepentingan kelompok semata atau kepentingan diri sendiri belaka. Kita perlu belajar mendengarkan yang berbeda, mempertimbangkan kepentingan bersama, dan memilih apa yang membawa kebaikan bagi kehidupan bangsa. Dalam suasana Bulan Kebangsaan ini, kita diingatkan bahwa menjadi warga negara yang baik bukan berarti semua harus berpikir sama. Kita boleh berbeda dalam pilihan, tetapi keputusan kita tetap harus diarahkan pada kebaikan bersama, keadilan, dan kehidupan Indonesia yang damai.
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, setiap hari kita akan terus membuat keputusan. Firman Tuhan hari ini mengingatkan kita, beranilah menentukan sikap, tetapi jangan merasa diri selalu benar. Kenalilah Kristus, jernihkan hati, mau mendengar, dan berani mengevaluasi. Dengan demikian kita bukan hanya menjadi orang yang berani mengambil keputusan, tetapi orang yang berani mengambil keputusan yang benar, menjalankannya dengan setia, dan mempertanggungjawabkannya di hadapan Tuhan. Amin.
Doa:
Tuhan Yesus, kami mau untuk terus belajar mengambil keputusan yang benar dengan berdasar pada hormat akan Engkau. Mampukan kami menjernihkan hati, mau memahami pertimbangan-pertimbangan lain, dan rendah hati untuk mengevaluasi seraya memperbaiki dalam tiap keputusan-keputusan yang ada. Terima kasih ya Tuhan. Dalam Yesus kami berdoa. Amin.
.
Renungan:
Saudara-saudara yang terkasih, setiap hari kita berhadapan dengan pilihan. Mau minum teh atau kopi, mau berangkat sekarang atau nanti, mau pergi atau tinggal di rumah. Kita memilih, lalu menjalani akibat dari pilihan itu. Ada keputusan yang sederhana, tetapi ada juga keputusan yang menyangkut pekerjaan, keluarga, kehidupan sosial, bahkan iman kita. Artinya, kita tidak cukup hanya berani memilih dan memutuskan. Kita juga perlu belajar memilih yang benar dan berani bertanggung jawab atas pilihan itu . Hal inilah yang kita jumpai ketika Yesus bertanya kepada Petrus, “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?”
Saudara-saudara yang terkasih, Kaisarea Filipi merupakan daerah yang dipenuhi berbagai simbol keagamaan dan kekuasaan. Matius menempatkan percakapan ini di tempat seperti itu untuk menegaskan persoalan yang sangat penting, di tengah berbagai suara tentang Yesus, siapakah sebenarnya Yesus? Oleh karena itu Yesus bertanya kepada murid-murid-Nya, “Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?” Para murid menyampaikan berbagai jawaban yang mereka dengar. Tetapi Yesus kemudian membawa pertanyaan itu menjadi sangat pribadi, “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” Di sini para murid tidak lagi cukup hanya mengetahui pendapat orang lain. Mereka diajak menyatakan sendiri siapa Yesus bagi mereka. Petrus kemudian berkata, “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup.” Pengakuan Petrus menunjukkan bahwa ia tidak berhenti pada apa yang dikatakan orang tentang Yesus, tetapi berani menyatakan imannya berdasarkan perjalanan dan perjumpaannya dengan Yesus. Namun menarik bahwa Yesus kemudian mengatakan bahwa pengenalan itu bukan semata-mata hasil kemampuan Petrus, melainkan karena Bapa di sorga yang menyatakannya. Dengan demikian, keberanian Petrus mengambil sikap berakar pada pengenalan yang dianugerahkan Allah kepadanya.
Sesudah pengakuan itu Yesus berkata, “Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku.” Petrus mendapat tempat penting karena melalui pengakuannya itu, untuk pertama kalinya dinyatakan dengan jelas siapa Yesus, yaitu Mesias, Anak Allah yang hidup. Petrus menjadi bagian penting dalam pembangunan umat Allah, tetapi pusat dan dasar bangunan itu tetap Kristus. Sesudah itu Yesus berkata, “Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga.” Hal ini dapat dipahami sebagai pemberian tanggung jawab kepada Petrus untuk membuka jalan agar orang mengenal Yesus dan hidup dalam kehendak-Nya. Sementara frasa “mengikat dan melepaskan” dalam tradisi Yahudi berkaitan dengan kewenangan menentukan apa yang sesuai atau tidak sesuai dengan kehidupan iman umat. Jadi Petrus diberi wewenang, tetapi wewenang itu bukan untuk bertindak sesuka hati. Wewenang tersebut harus digunakan dalam kesetiaan kepada Kristus dan demi kehidupan umat.
Saudara-saudara yang terkasih, dari kisah Petrus kita melihat bahwa keputusan yang benar tidak lahir hanya dari keberanian. Petrus berani mengambil sikap karena ia mengenal dan mengalami sendiri siapa Yesus. Oleh karena itu, sebelum mengambil keputusan kita perlu menjernihkan hati, mendengar dan mempertimbangkan suara orang lain, lalu berani mengevaluasi keputusan yang sudah dibuat. Kita tidak selalu benar. Tetapi orang yang mau mendengar, mau dikoreksi, dan mau memperbaiki diri justru sedang belajar mengambil keputusan dengan lebih bijaksana. Pertanyaannya bukan hanya, “Apa yang saya mau?”, tetapi juga, “Apa yang benar dan sesuai dengan kehendak Tuhan?”
Bukankah hal ini begitu dekat dengan kehidupan kita bersama keluarga? Ada keputusan tentang pendidikan anak, pekerjaan, sekolah, kehidupan sehari-hari, keuangan, merawat orang tua, dan berbagai dinamika dalam keluarga. Dalam situasi seperti itu, setiap anggota keluarga tentu memiliki pertimbangan, pengalaman, dan cara pandangnya sendiri. Kadang kita melihat persoalan dari sisi yang berbeda. Karena itu, keputusan yang baik membutuhkan kesediaan untuk saling mendengar dan memahami. Tidak semua orang harus mempunyai pendapat yang sama, tetapi setiap orang perlu diberi ruang untuk menyampaikan apa yang dipikirkannya. Dengan demikian, keputusan bersama bukan soal siapa yang pendapatnya paling kuat, melainkan bagaimana keluarga bersama-sama menemukan jalan yang baik bagi semua.
Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara pun sama. Kita berhadapan dengan banyak keputusan dan perbedaan pilihan. Kita berbeda pandangan mengenai banyak hal, tetapi Indonesia adalah rumah yang kita tempati bersama. Oleh sebab itu, keberanian mengambil keputusan tidak boleh hanya didasarkan pada kepentingan kelompok semata atau kepentingan diri sendiri belaka. Kita perlu belajar mendengarkan yang berbeda, mempertimbangkan kepentingan bersama, dan memilih apa yang membawa kebaikan bagi kehidupan bangsa. Dalam suasana Bulan Kebangsaan ini, kita diingatkan bahwa menjadi warga negara yang baik bukan berarti semua harus berpikir sama. Kita boleh berbeda dalam pilihan, tetapi keputusan kita tetap harus diarahkan pada kebaikan bersama, keadilan, dan kehidupan Indonesia yang damai.
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, setiap hari kita akan terus membuat keputusan. Firman Tuhan hari ini mengingatkan kita, beranilah menentukan sikap, tetapi jangan merasa diri selalu benar. Kenalilah Kristus, jernihkan hati, mau mendengar, dan berani mengevaluasi. Dengan demikian kita bukan hanya menjadi orang yang berani mengambil keputusan, tetapi orang yang berani mengambil keputusan yang benar, menjalankannya dengan setia, dan mempertanggungjawabkannya di hadapan Tuhan. Amin.
Doa:
Tuhan Yesus, kami mau untuk terus belajar mengambil keputusan yang benar dengan berdasar pada hormat akan Engkau. Mampukan kami menjernihkan hati, mau memahami pertimbangan-pertimbangan lain, dan rendah hati untuk mengevaluasi seraya memperbaiki dalam tiap keputusan-keputusan yang ada. Terima kasih ya Tuhan. Dalam Yesus kami berdoa. Amin. (Daniel Bimantara – Kulwo).






