Bacaan: Mazmur 1:1-6.
“Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.” (Mazmur 1:3).
Renungan:
Shalom bapak-ibu, saudara-i dalam kasih Tuhan Yesus Kristus.
Bayangkan dua buah pohon di musim kemarau yang panjang seperti saat ini, jika siang panas menyengat seolah bumi mendekat matahari. Pohon pertama ditanam di tanah yang gersang dan jauh dari sumber air. Ketika panas terik datang, daun-daunnya menguning, layu, dan akhirnya gugur, pohon itu meranggas dan mati.
Namun, lihat pohon kedua. Pohon ini berada tepat di tepi aliran sungai yang airnya tidak pernah surut. Meskipun terik matahari, daun-daunnya tetap hijau segar. Akarnya yang jauh di dalam tanah terus menyerap air tanpa henti. Saat musimnya tiba, pohon ini tetap menghasilkan buah, seolah-olah tidak ada kemarau yang sedang terjadi.
Dunia ini dipenuhi dengan ketidakpastian—krisis ekonomi, tekanan mental, hingga perubahan hidup yang mendadak. Banyak orang merasa layu dan kering karena mereka menaruh “akar” kehidupan mereka pada hal yang salah. Nats kita saat ini memberikan ‘cetak biru’ tentang bagaimana cara memiliki kehidupan yang tangguh dan sukses sejati di tengah dunia yang tidak pasti :
* Daunnya tidak layu.
Orang yang merenungkan Firman Tuhan siang dan malam (ay 2) memiliki daya tahan emosional dan spiritual. Ketika badai hidup atau “musim kering” datang, mereka tidak mudah stres, putus asa, atau kehilangan sukacita karena sumber kekuatannya berasal dari Ilahi.
* Berbuah pada Musimnya.
Tuhan tidak menuntut kita untuk selalu terlihat sukses setiap detik di mata manusia. Orang yang melekat pada Tuhan akan menghasilkan karakter yang matang, kasih, dan dampak nyata tepat pada waktu yang sudah Tuhan rancang.
* Apa Saja yang Diperbuatnya Berhasil.
Ini bukan mantra ajaib bahwa kita tidak akan pernah menghadapi kegagalan berusaha atau kesulitan kerja. Berhasil di sini berarti Tuhan menjamin akhir dari setiap usaha kita. Ketika kita berjalan dalam kehendak-Nya, kegagalan sekalipun akan diubah-Nya menjadi batu loncatan untuk mendatangkan kebaikan bagi kita.
Ubah Prioritas “Asupan” kita. Dengan diisi Firman Tuhan, agar jiwa kita tidak mudah layu. Mari prioritaskan waktu untuk menyerap “air kehidupan” melalui doa dan membaca Alkitab.
Berhenti Membandingkan Musim: Jangan berkecil hati jika melihat orang lain sudah “berbuah” sementara kita masih dalam proses “memperkuat akar”. Jika kita setia di tepi aliran air-Nya, buah kita pasti akan muncul di musim yang tepat, dan tidak takut datangnya musim kering.
Tuhan Yesus memberkati.
Doa:
Tuhan Yesus, terima kasih untuk jaminan firman-Mu hari ini. Tolong kami untuk menancapkan akar imanku dalam-dalam pada Firman-Mu. Biarlah di tengah musim apa pun kami tetap teguh, segar, dan membawa buah kebaikan bagi orang-orang di sekitar kami. Dalam nama Tuhan Yesus, Amin. (Markus Winoto – Karanganom).






