Bacaan: Yeremia 28:10–17; Mazmur 131; Roma 3:1–8
“Ya TUHAN, aku tidak tinggi hati dan tidak memandang dengan sombong; aku tidak mengejar hal-hal yang terlalu besar atau terlalu ajaib bagiku. Sesungguhnya, aku telah menenangkan dan mendiamkan jiwaku.” (Mazmur 131:1–2a).
Renungan:
Syalom Bapak Ibu Saudara/Saudari terkasih. Di tengah kehidupan, kita sering lebih mudah menerima kabar yang menyenangkan daripada kebenaran yang menegur. Dalam Yeremia 28, nabi palsu Hananya menyampaikan nubuat yang terdengar menghibur, tetapi tidak berasal dari Tuhan. Sebaliknya, Nabi Yeremia tetap setia menyampaikan firman yang benar, meskipun pahit dan tidak populer. Kisah ini mengajak kita untuk bertanya kepada diri sendiri yaitu apakah kita lebih mencari kenyamanan, atau sungguh-sungguh rindu hidup di dalam kebenaran Tuhan?
Mazmur 131 menghadirkan sikap hati yang berbeda. Pemazmur tidak mengandalkan kesombongan atau keinginannya untuk memahami segala sesuatu, melainkan memilih hati yang tenang dan percaya kepada Tuhan seperti seorang anak yang disapih di pangkuan ibunya. Di tengah dunia yang penuh kegelisahan, kita pun diajak belajar melepaskan ego, kekhawatiran, dan keinginan mengendalikan semuanya. Damai sejati lahir ketika kita berserah kepada Tuhan, bukan ketika semua persoalan telah selesai.
Dalam Roma 3, Rasul Paulus menegaskan bahwa ketidaksetiaan manusia tidak pernah membatalkan kesetiaan Allah. Sekalipun manusia gagal, Tuhan tetap benar dan dapat dipercaya. Kebenaran ini menjadi penghiburan sekaligus peringatan. Penghiburan, karena kasih dan janji Tuhan tidak bergantung pada kesempurnaan kita. Peringatan, karena kita tidak boleh menjadikan anugerah Tuhan sebagai alasan untuk hidup sembarangan atau membenarkan dosa.
Ketiga bacaan hari ini mengundang kita untuk memiliki kerendahan hati, mencintai kebenaran, dan tetap mempercayai kesetiaan Tuhan. Mengikuti Kristus bukan berarti selalu berjalan di jalan yang mudah, melainkan memilih jalan yang benar. Kadang kita harus berani menerima teguran, mengakui kesalahan, dan meninggalkan hal-hal yang bertentangan dengan kehendak-Nya. Justru di sanalah Tuhan sedang membentuk karakter dan iman kita menjadi semakin dewasa.
Marilah kita menjalani hari ini dan kedepannya dengan hati yang berakar dalam kebenaran Tuhan. Kiranya Roh Kudus memampukan kita memiliki keberanian seperti Yeremia, ketenangan hati seperti pemazmur, dan keyakinan akan kesetiaan Allah sebagaimana ditegaskan oleh Paulus. Saat kita memilih hidup dalam kebenaran, kita bukan hanya mengalami damai sejahtera, tetapi juga menjadi terang yang memancarkan kasih dan kesetiaan Tuhan bagi dunia. (Yudistira WP-Kulwo).
