Bacaan: Yohanes 20:19-23.
Dan sesudah berkata demikian, Ia mengembusi mereka dan berkata: “Terimalah Roh Kudus. 20:23 Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada.” (Yohanes 20:23).
Renungan:
Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, pernahkah merasa buntu, merasa stuck, atau merasa hidup seperti tidak bisa bergerak ke mana-mana? Perasaan seperti itu bisa dialami siapa saja. Tekanan hidup, kelelahan, persoalan keluarga, pekerjaan, maupun pergumulan batin sering membuat orang kehilangan semangat menjalani hidup. Akibatnya orang menjadi mudah takut, kehilangan arah, sulit berpikir jernih, bahkan memilih menutup diri dari sesama. Situasi seperti itu juga dialami oleh murid-murid Yesus setelah kematian-Nya.
Bacaan kita menuliskan menggambarkan para murid berada dalam ruang tertutup dengan pintu-pintu terkunci karena mereka takut dan merasa terancam setelah kematian Yesus. Berita kebangkitan yang disampaikan Maria Magdalena belum mampu mengubah keadaan mereka. Mereka masih dikuasai ketakutan dan belum mampu keluar dari keterpurukan. Dalam situasi seperti itu Yesus hadir dan berdiri di tengah-tengah mereka. Kehadiran Yesus menunjukkan bahwa kebangkitan Kristus sanggup menembus ruang-ruang ketakutan manusia. Karena itu sapaan pertama Yesus adalah, “Damai sejahtera bagi kamu.” Damai sejahtera yang diberikan Yesus bukan sekadar ketenangan sementara, melainkan pemulihan hidup. Hal itu ditegaskan melalui tangan dan lambung Yesus yang terluka. Luka yang sebelumnya menjadi tanda penderitaan kini menjadi tanda kemenangan dan kebangkitan. Karena itu para murid bersukacita, bukan karena keadaan mereka langsung berubah aman, tetapi karena Tuhan yang bangkit hadir di tengah mereka. Dari sinilah hidup yang bersyukur mulai lahir, yaitu ketika manusia menyadari bahwa Tuhan tidak meninggalkan hidupnya.
Sesudah itu Yesus mengutus para murid sebagaimana Bapa telah mengutus-Nya. Artinya, para murid tidak dipanggil untuk terus tinggal dalam ruang ketakutan mereka. Mereka harus memasuki kehidupan baru sebagai saksi Kristus di tengah dunia. Karena itu Yesus menghembusi mereka dan berkata, “Terimalah Roh Kudus.” Tindakan menghembusi ini mengingatkan pada Allah yang menghembuskan nafas hidup kepada manusia dalam Kejadian 2:7. Yohanes hendak menunjukkan bahwa Roh Kudus memberi kehidupan baru bagi para murid. Mereka yang sebelumnya takut dan tidak mampu bergerak kini diberi daya untuk menjalani panggilan yang baru. Roh Kudus memampukan mereka beradaptasi dengan perubahan besar setelah kebangkitan Yesus dan memberi keberanian untuk bergerak menjalani misi Allah. Dengan demikian, kehidupan bersama Roh Kudus adalah kehidupan yang terus dibarui, dibentuk, dan digerakkan oleh Tuhan.
Kehadiran Yesus di tengah para murid menunjukkan bahwa Tuhan tidak meninggalkan mereka dalam ketakutan. Karena itu mereka memiliki alasan untuk bersyukur sebab Yesus tetap peduli dan hadir menyertai mereka. Kehadiran Yesus juga membuat para murid harus beradaptasi dengan kehidupan yang baru, dari orang-orang yang bersembunyi menjadi saksi Kristus di tengah dunia. Dalam perubahan itulah Yesus menghembuskan Roh Kudus kepada mereka. Roh Kudus memberi keberanian dan daya hidup yang baru sehingga mereka mampu bergerak menjalani perintah dan misi Tuhan. Karena itu orang percaya dipanggil untuk terus bersyukur, beradaptasi, dan bergerak bersama Roh Kudus.
Dalam ibadah Pentakosta ini kita diingatkan bahwa Pentakosta mengingatkan kita bahwa Roh Kudus yang dahulu dihembuskan Yesus kepada para murid tetap bekerja hingga hari ini. Wujud hidup yang dipenuhi Roh Kudus tampak dalam kesediaan menghadirkan damai sejahtera dan pengampunan seperti yang diajarkan Yesus. Dalam Kisah Para Rasul 2:1-21, Roh Kudus memampukan para murid beradaptasi dengan banyak orang dari berbagai latar belakang dan bahasa yang berbeda. Mereka yang sebelumnya takut dan menutup diri kini mampu bergerak menjadi saksi Kristus bagi banyak orang. Bahkan para murid dari Galilea, daerah yang sering dipandang rendah, dipakai Allah untuk menghadirkan karya-Nya di tengah dunia. Hal itu menunjukkan bahwa Roh Kudus bukan hanya memberi kekuatan, tetapi juga menuntun umat Tuhan untuk terus bergerak dan beradaptasi sesuai kehendak Allah di tengah kehidupan yang terus berubah.
Pada ibadah saat ini kita juga mengadakan Undhuh-undhuh. Berdasarkan firman Tuhan yang telah kita renungkan, Undhuh-undhuh dapat kita maknai sebagai ungkapan syukur atas pemeliharaan Tuhan dalam kehidupan kita. Tuhan memelihara kita melalui berbagai pekerjaan, usaha, kesehatan, keluarga, dan setiap berkat yang kita terima sampai hari ini. Karena itu yang kita bawa dalam Undhuh-undhuh bukan sekadar hasil, tetapi juga pengakuan iman bahwa Tuhan tetap menyertai dan mencukupi kehidupan umat-Nya. Rasa syukur itulah yang memampukan kita untuk terus menjalani kehidupan, beradaptasi dengan setiap perubahan, dan tetap bergerak bersama Roh Kudus.
Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, kembali pada pertanyaan di awal tadi: pernahkah kita merasa buntu, stuck, seperti tidak bisa bergerak ke mana-mana? Hari ini firman Tuhan menegaskan bahwa kita tidak harus tinggal di dalam keadaan itu. Kristus yang bangkit hadir membawa damai, Roh Kudus memberi hidup baru, dan Tuhan sendiri yang mengutus kita untuk melangkah. Karena itu, apa pun yang sedang kita hadapi, jangan berhenti di pintu yang terkunci. Mari kita bersyukur karena Tuhan tidak meninggalkan kita, kita belajar beradaptasi dengan setiap perubahan hidup, dan kita terus bergerak bersama Roh Kudus. Amin..
Doa:
Ya Tuhan kami mau untuk terus hidup dalam rasa syukur, bersedia dengan lapang dada dan tulus hati beradaptasi dengan tiap keadaan, serta selalu mengusahakan yang terbaik. Sebab kami percaya bahwa Roh Kudus selalu bersama kami dan menolong kami. Dimuliakanlah Engkau kekal selamanya. Amin. (Daniel Bimantara – Kulwo).





