Bacaan: Roma 1:1-7.
Dengan perantaraan-Nya kami menerima kasih karunia dan jabatan rasul untuk menuntun semua bangsa, supaya mereka percaya dan taat kepada nama-Nya. Kamu juga termasuk di antara mereka, kamu yang telah dipanggil menjadi milik Kristus. (Roma 1:5-6).
Renungan:
Ada sebuah lagu rohani populer berjudul “Hidup Ini adalah Kesempatan”. Lagu ini sepertinya sangat dikenal di kalangan umat Kristen dari berbagai denominasi. Apalagi dalam perkumpulan para adiyuswa, lagu ini sering dinyanyikan dengan penuh semangat dan diliputi rasa haru mendengarkannya.
Adalah Wilhemus Latumahima, semula seorang pegawai pajak dan yang kemudian menjadi pendeta di Tangerang Selatan yang menciptakan lagu ini. Ia menciptakan lagu yang pendek namun sangat menggugah siapapun yang menyanyikan dan menikmati lirik lagu ini. Wilheminus menuliskan lagu ini berangkat dari pengalaman hidupnya yang mengalami aneka ragam peristiwa yang pada akhirnya berkesimpulan bahwa hidup yang pendek ini sesungguhnya adalah anugerah Allah dan menjadi kesempatan untuk berbakti kepada Tuhan berguna bagi sesama ciptaanNya. Karena itu ia menuliskan jangan sampai setiap kita menyia-nyiakan kesempatan yang Tuhan telah berikan.
Saudaraku terkasih, bacaan Kitab Suci pagi ini menegaskan bahwa hidup adalah anugerah Allah. Karena itu hidup menjadi kesempatan siapapun yang telah dipanggil menjadi milik Kristus untuk menyatakan baktinya kepada Allah. Rasul Paulus menegaskan, bahwa ia telah menerima kasih karunia dan jabatan rasul untuk menuntun semua bangsa, supaya mereka percaya dan taat kepada nama-Nya.
Dalam pekan ini, gereja kita sedang memasuki masa Prapaskah. Dalam masa Prapaskah ini pula kita bersama-sama sedang mempersiapkan regenerasi pelayan gereja dalam penjaringan bakal calon penatua dan diaken di wilayah dan pepanthan kita masing-masing. Pesan Rasul Paulus bahwa hidup adalah anugerah Allah dan menjadi kesempatan bagi dirinya menerima jabatan rasul menjadi pengingat dan teladan bagi kita semua selaku warga gereja. Lagu rohani yang kita bahas tadi juga menjadi pengingat bagi kita semua, bahwa hidup adalah kesempatan untuk melayani Tuhan, dan jangan sampai kita menyia-nyiakan kesempatan yang telah Tuhan berikan.
Menerima tugas panggilan menjadi pelayan Tuhan tidak mensyaratkan harus memiliki keahlian, kecakapan, kekayaan, apalagi menunggu posisi dan jabatan yang mapan dalam pekerjaan dan masyarakat. Siapakah para murid yang dipanggil Yesus? Ya, mereka semua justru berasal dari para nelayan, para pekerja rendahan di mata masyarakat pada waktu itu. Ketika kita menyatakan “ya bersedia dengan sepenuh hati”, maka kita akan diperlengkapi, dibentuk, dan diproses menjadi pelayan Tuhan. Menjadikan hidup bukan hanya berarti untuk dirinya sendiri, tetapi menjadi bermanfaat bagi orang lain.
Mari, hidup ini adalah kesempatan. Oh Tuhan pakailah hidupku, selagi aku masih kuat. Suatu saat aku tak berdaya, hidup ini sudah jadi berkat. (Tim Adminweb).
