Iman di Tengah Perjalanan

Bacaan : Keluaran 16:27-35, Mazmur 95, Yohanes 4:1-6.

“Perhatikanlah, TUHAN telah memberikan Sabat itu kepadamu; itulah sebabnya pada hari keenam Ia memberikan kepadamu roti untuk dua hari. Tinggallah kamu di tempatmu masing-masing, seorangpun tidak boleh keluar dari tempatnya pada hari ketujuh itu.” (Keluaran 16:29).

Bacaan Lainnya

Renungan:

Shalom saudara terkasih, perjalanan hidup sering kali membuat manusia gelisah tentang hari esok. Ketika kebutuhan terasa terbatas dan keadaan tidak pasti, kita mudah merasa harus mengandalkan diri sendiri. Kekhawatiran yang terus dipelihara perlahan dapat membuat hati kehilangan kepercayaan kepada pemeliharaan Tuhan.

Kisah bangsa Israel dalam Keluaran 16 memperlihatkan hal itu. Tuhan sudah menyediakan manna setiap hari bagi mereka di padang gurun. Bahkan Tuhan memberi ketentuan tentang hari Sabat, hari untuk berhenti dan percaya bahwa Tuhan tetap memelihara. Namun tetap saja ada yang keluar mencari manna pada hari ketujuh. Bukan karena Tuhan tidak menyediakan, tetapi karena hati manusia sering sulit percaya sepenuhnya.

Pemazmur dalam Mazmur 95 mengingatkan umat untuk datang menyembah Tuhan dengan sukacita, sekaligus memberi peringatan yang tegas: “Janganlah keraskan hatimu.” Ketika hati menjadi keras, manusia cenderung meragukan Tuhan, menguji kesetiaan-Nya, dan berjalan menurut kehendaknya sendiri. Padahal Tuhan adalah gembala yang menuntun umat-Nya.

Dalam Yohanes 4, kita melihat Yesus yang sedang dalam perjalanan dan berhenti di sumur Yakub. Ia duduk di sana dalam kelelahan sebagai seorang manusia yang sedang berjalan di tengah kehidupan sehari-hari. Dari tempat sederhana itu, Tuhan sedang menyiapkan perjumpaan yang akan mengubah hidup seseorang. Kisah ini mengingatkan kita bahwa Tuhan bekerja di tengah perjalanan hidup yang biasa, bahkan ketika kita merasa lelah dan tidak melihat apa yang sedang Tuhan kerjakan.

Pra-Paskah menjadi waktu bagi kita untuk memeriksa kembali sikap hati kita. Apakah kita sungguh percaya bahwa Tuhan memelihara hidup kita hari demi hari? Ataukah kekhawatiran membuat kita terus mencoba mengendalikan semuanya sendiri?

Iman sering kali bukan tentang melihat rencana besar sekaligus, melainkan belajar percaya pada pemeliharaan Tuhan setiap hari. Seperti manna yang cukup untuk satu hari, Tuhan mengajar kita hidup dalam kepercayaan yang sederhana namun setia.

Doa:

Ya Tuhan yang memelihara hidup kami, ajarlah kami untuk percaya kepada-Mu setiap hari. Ketika hati kami dipenuhi kekhawatiran, ingatkan kami bahwa Engkau selalu mencukupi kebutuhan kami. Bentuklah hati kami agar tetap lembut, percaya, dan setia berjalan bersama-Mu. Di dalam Kristus kami berdoa. Amin. (Anik Wahyuni Yuliansih – Gunungsari).

 

 

Pos terkait