Bacaan: Yesaya 49:1-7, 1 Korintus 1: 1-9.
Sebab di dalam Dia kamu telah menjadi kaya dalam segala hal: dalam segala macam perkataan dan segala macam pengetahuan, sesuai dengan kesaksian tentang Kristus, yang telah diteguhkan di antara kamu. (1 Korintus 1: 5-6).
Renungan:
Pernahkah kita merasa sudah lama mengikut Tuhan, rajin beribadah, bahkan melayani, tetapi hati kerap gelisah dan merasa kurang? Kurang mampu, kurang berharga, kurang beruntung, bahkan kurang uang atau barang berharga lainnya. Kita mudah membandingkan diri dengan orang lain dan akhirnya hidup dengan rasa kosong, hati hampa, batin tidak tenang.
Kita mengenal banyak hal tentang Yesus: kisah-Nya, ajaran-Nya, dan nama-Nya. Masalahnya, bukanlah seberapa banyak kita tahu tentang Dia, melainkan “Apakah kita sungguh mengenal Dia?”. Firman hari ini menggugat kejujuran hati kita: mungkinkah rasa “miskin” itu bukan karena hidup kita kurang, tetapi karena kita belum sungguh mengenal Kristus yang kita ikuti?
Dalam Yesaya 49:1–7, hamba Tuhan digambarkan sedang bergumul dalam kelelahan batin. Ia berkata dengan jujur, “Aku telah bersusah-susah dengan percuma, dan telah menghabiskan kekuatanku dengan sia-sia dan tak berguna” (ayat 4). Namun firman tidak berhenti pada kelelahan itu. Allah mengingatkan bahwa sejak awal Ia yang memanggil dan membentuk sang hamba, bahkan “membuat mulutku sebagai pedang yang tajam” (ayat 2). Di tengah rasa lemah, identitas dan penyertaan Allah tetap teguh. KaruniaNya tercurah dalam perkataan yang dilambangkan sebagai pedang tajam.
Hal yang sama terdengar dalam surat Paulus kepada jemaat Korintus. Paulus mengingatkan bahwa “di dalam Dia kamu telah menjadi kaya dalam segala hal” (1 Korintus 1:5), khususnya dalam perkataan dan pengetahuan yang berakar pada Kristus. Karunia juga kembali dinyatakan dalam perkataan, bahkan pengetahuan. Kekayaan ini nyata karena “kesaksian tentang Kristus telah diteguhkan” di antara mereka (ayat 6), sehingga Paulus dapat berkata dengan penuh pengharapan, “kamu tidak kekurangan dalam suatu karuniapun” (ayat 7). Firman ini menuntun kita untuk melihat bahwa Allah setia bekerja, bahkan ketika perasaan kita belum sepenuhnya mengenal Dia.
Mengenal Kristus mendorong kita mengubah cara kita mengikut Dia. Kita mulai hidup dari apa yang Tuhan kerjakan, bukan dari apa yang tidak kita miliki. Kekayaan sejati hadir melalui berbagai macam perkataan dan pengetahuan yang Tuhan anugerahkan kepada kita. Kita belajar berbicara dengan bijak, berpikir dengan terang, dan menjalani hari dengan pengharapan, meski hidup tetap sederhana dan pergumulan belum lenyap. Kita disebut miskin bukan ketika tidak punya apa-apa, tetapi ketika kata-kata kita melukai, pikiran kita dikuasai iri hati dan mementingkan diri sendiri, serta hati kita berhenti berharap.
Mari kita mulai hari ini bukan dengan rasa miskin yang menutup hati kita untuk mengenalNya. Mengenal Tuhan mengubah cara kita memandang kemiskinan: miskin bukan soal kurangnya milik, melainkan hilangnya kasih, terang, dan pengharapan dalam hidup. Jadi sekarang, mana yang disebut miskin: sedikit uang di dompet ataukah sedikit sapaan hangat bagi orang terdekat?
Doa:
Tuhan Yesus, sering kali hati kami gelisah dan merasa kurang karena kami belum sungguh mengenal Engkau. Bukalah mata hati kami untuk melihat siapa Engkau dan apa yang telah Engkau anugerahkan di dalam hidup kami. Tuntunlah kami untuk tidak hanya mengetahui tentang Engkau, tetapi mengenal Engkau dengan sungguh, agar kami dimampukan mengikut Engkau dengan setia, hidup dengan penuh syukur, dan teguh dalam pengharapan. Amin. (Kintan Limiansih, Wonocatur).
