Bacaan: Zakharia 2:6-13.
“Sebab beginilah firman TUHAN semesta alam, yang dalam kemuliaan-Nya telah mengutus aku, mengenai bangsa-bangsa yang telah menjarah kamu–sebab siapa yang menjamah kamu, berarti menjamah biji mata-Nya.” (Zakharia 2 : 8).
Renungan:
Shallom Bapak/Ibu terkasih dalam Kristus.
Ada sebuah kisah, selama bertahun-tahun Jonathan terjebak dalam rutinitas pekerjaan di sebuah perusahaan yang tidak sehat. Lingkungan kerjanya penuh dengan manipulasi, tekanan moral yang keliru, dan atmosfer yang perlahan-lahan mematikan iman serta idealismenya. Awalnya, ia bertahan karena gajinya yang besar. Namun, lambat laun Jonathan menyadari dirinya makin menjauh dari Tuhan, ia kehilangan damai sejahtera. Setiap pulang kerja, hatinya terasa kosong dan penuh ketakutan akan masa depan, ia merasa seperti tawanan di negerinya sendiri. Hingga akhirnya Jonathan mengambil keputusan berani untuk berhenti dari pekerjaannya agar dia kembali kepada Tuhan. Keputusan Jonathan tidak serta merta berjalan mulus. Ia sulit untuk mencari pekerjaan hingga cemoohan orang-orang terdekatnya yang mencela alasan Jonathan melepaskan pekerjaan yang bergaji besar. Namun dia tetap bertahan dan berserah kepada Tuhan hingga akhirnya seorang mantan rekan kerjanya mengajaknya mendirikan sebuah perusahaan baru karena percaya akan kejujuran Jonathan.
Mungkin kisah seperti ini pernah Bapak/Ibu rasakan dalam kehidupan sehari-hari dengan cerita yang berbeda, dimana kita dihadapkan pada pilihan ikut arus dan perlahan menjauh dari Tuhan. Alasannya beragam, kita takut dikucilkan saat berpegang teguh pada Tuhan atau ragu untuk keluar dari zona nyaman. Dalam Zakharia 2 : 6-7 (ayat 6 Ayo, ayo larilah dari Tanah Utara, demikianlah firman TUHAN; sebab ke arah keempat mata angin Aku telah menyerakkan kamu, demikianlah firman TUHAN. 2:7 Ayo, luputkanlah dirimu ke Sion, hai, penduduk Babel!) Tuhan memerintahkan umat-Nya yang tercerai berai untuk meninggalkan zona nyamannya dan kembali ke Tanah Yerusalem.
Di kehidupan sekarang, Tuhan memanggil kita untuk bertahan bersama-Nya, yang menjauh, perlahan kembali. Tentu akan banyak rintangan yang kita hadapi ketika meninggalkan zona nyaman. Namun Tuhan menyatakan bahwa kita adalah biji mata-Nya. Ini mengingatkan kita untuk tidak menyerah dan kembali kepada jalan yang lama hanya karena menghadapi kesulitan. Sebab Tuhan sendiri menjaga setiap orang yang tetap setia kepada-Nya. Selayaknya kita melindungi biji mata ketika ada debu atau bahaya sekecil apa pun, begitulah kita di hadapan Tuhan, sangat berharga. Tuhan sendiri yang akan bangkit melawan musuh dan menaklukkan penindas (Zakharia 2:9) untuk melidungi kita, biji mata-Nya.
Doa:
Bapa Surgawi, terima kasih atas penyertaan dan perlindungan-Mu dalam hidup kami. Tinggallah di tengah kami, tuntun kami untuk hidup seturut kehendak-Mu, dan biarlah nama-Mu dimuliakan selamanya. Dalam nama Tuhan Yesus Kristus kami berdoa. Amin. (Henry Prabowo – Wonocatur)
