Tetap Memandang Yesus dan Setia Sampai Akhir

Bacaan: Ibrani 3:1-6.

Sebab itu, hai saudara-saudara yang kudus, yang mendapat bagian dalam panggilan sorgawi, pandanglah kepada Rasul dan Imam Besar yang kita akui, yaitu Yesus. (Ibrani 3:1).

Bacaan Lainnya

Renungan:

Ada sebuah ilustrasi, seorang pelaut yang sedang menghadapi badai akan tetap mengarahkan pandangannya pada mercusuar di pantai. Selama mercusuar itu terlihat, ia tahu arah yang benar. Demikian juga orang percaya harus terus memandang kepada Yesus, terang kehidupan yang menuntun kita melewati badai kehidupan.

Penulis surat Ibrani mengajak orang percaya untuk memandang kepada Yesus, Rasul dan Imam Besar yang diutus Allah. Di tengah berbagai tantangan, penderitaan, dan godaan untuk meninggalkan iman, mereka diingatkan agar fokus kepada Kristus.

Pada ayat 1, kata “pandanglah” berarti memperhatikan dengan sungguh-sungguh, memusatkan pikiran dan hati kepada-Nya. Ketika mata rohani kita tertuju kepada Yesus, kita memperoleh kekuatan untuk tetap berjalan dalam iman. Dan di ayat 2-3, Yesus dibandingkan dengan Musa. Musa adalah hamba Allah yang setia dalam rumah-Nya, tetapi Yesus lebih mulia daripada Musa. Musa hanyalah pelayan dalam rumah Allah, sedangkan Yesus adalah Anak yang berkuasa atas rumah Allah. Ini menunjukkan keunggulan Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Ayat 4 mengingatkan bahwa setiap rumah dibangun oleh seseorang, tetapi Allah adalah pembangun segala sesuatu.

Gereja dan kehidupan orang percaya berdiri karena karya Allah, bukan karena kekuatan manusia. Dalam ayat 5-6, Musa setia sebagai hamba, tetapi Kristus setia sebagai Anak. Kemudian penulis berkata bahwa kita adalah rumah Allah jika kita berpegang teguh pada pengharapan dan keyakinan sampai akhir. Kesetiaan bukan hanya pada saat keadaan baik, tetapi juga ketika menghadapi pencobaan dan kesulitan.

Dalam kehidupan ini sudah tentu bahwa masalah dan tantangan selalu silih berganti hadir pada kehidupan kita. Pandanglah Yesus. Ya, kita memang memiliki masalah yang mengganjal yang mungkin juga membuat kita bingung untuk menyelesaikannya. Tapi kita memiliki Tuhan yang jauh lebih besar dari masalah itu sendiri. Lalu, meneladani kesetiaan Kristus yang tetap taat kepada kehendak Bapa sampai mati di kayu salib. Mari tetap bertekun sampai akhir, mari kita senantiasa memiliki iman sejati yang tetap bertahan dalam segala keadaan dan mari tetap memandang kepada Yesus serta berpegang teguh pada pengharapan di dalam-Nya sebab Dia setia dan sanggup memelihara kita sampai akhir hidup kita.

Doa:

Tuhan Allah Bapa yang mahakuasa, yang kasih setia-Nya tidak pernah pudar daari segala masa, kami mengucap syukur Tuhan atas karuniaMu yang selalu baru. Tuhan, kami sadar bahwa kami makhluk yang lemah. Yang ketika masalah dating kami bingung dan tidak tau akan jalan keluarnya. Tapi ya Tuhan yang kami percaya bahwa Engkau tidak akan meninggalkan kami dalam segala musim kehidupan kami, kasih-Mu selalu baru dan nyata bagi kami. Maka Tuhan, bantu kami untuk menghadapi setiap gelombang dalam hidup kami agar kami boleh selalu merasakan kehangatan kasih-Mu dalam kehidupan kami dan bantu kami untuk selalu setia pada-Mu sampai akhir seperti kasih-Mu yang tak pernah berakhir. Amin. (Ristiana Saputri – Gunungsari).

 

 

Pos terkait