Bacaan: Ibrani 9:11-15.
Betapa lebihnya darah Kristus, yang oleh Roh yang kekal telah mempersembahkan diri-Nya sendiri kepada Allah sebagai persembahan yang tak bercacat, akan menyucikan hati nurani kita dari perbuatan-perbuatan yang sia-sia, supaya kita dapat beribadah kepada Allah yang hidup. (Ibrani 9:14).
Renungan:
Jemaat yang terkasih,
Menjelang Paskah, kita kembali mendengar kisah yang sama tentang salib, penderitaan, dan darah Kristus. Lagu-lagu dinyanyikan, firman diberitakan, dan hati kita mungkin tersentu tetapi hanya sebentar. Lalu semuanya berlalu seperti cerita tahunan yang akrab di telinga, namun terasa jauh di hati.
Ibrani 9:11–15 membawa kita melihat perbedaan yang sangat dalam. Pada zaman dahulu, darah domba jantan dan lembu dipersembahkan berulang-ulang. Setiap kali manusia jatuh dalam dosa, korban harus diberikan lagi. Darah itu hanya menyucikan secara lahiriah, tetapi tidak benar-benar mengubah hati.
Namun ketika Kristus datang sebagai Imam Besar yang sempurna, Ia tidak membawa darah domba jantan atau lembu. Ia membawa darah-Nya sendiri. Ia masuk ke tempat kudus sekali untuk selamanya dan memperoleh penebusan yang kekal. Tidak perlu diulang, tidak bisa ditambah, karena telah dibayar lunas.
Sering kali kita masih hidup seperti di zaman lama itu. Kita jatuh, lalu mencoba “membayar” dengan usaha sendiri. Kita merasa harus berbuat baik lebih banyak supaya rasa bersalah berkurang. Atau kita menyimpan luka dan dosa seolah-olah pengorbanan Kristus belum cukup.
Padahal firman Tuhan berkata, darah Kristus bukan hanya menutupi dosa, tetapi menyucikan hati nurani kita dari perbuatan yang sia-sia, supaya kita melayani Allah yang hidup. Ia tidak hanya mengampuni, Ia memulihkan. Ia tidak hanya menebus, Ia mengubahkan.
Menjelang Paskah ini, mari berhenti menjadikan salib sekadar peringatan tahunan. Ini bukan hanya tentang diampuni, tetapi tentang diubahkan. Bukan hanya tentang dilepaskan dari dosa, tetapi dipanggil untuk hidup baru.
Tuhan Yesus Memberkati. Amin. (Rinda Trisnanta – Karanganom).
