Bacaan : Yesaya 58 : 1 – 12, Mazmur 51 : 3 – 6 a , 18- 19, Mateus 6 : 1-6, 16 – 21.
“Berpuasa yang Ku kehedaki, ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya rngkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk,” (Yesaya 56:6).
Renungan:
Saudara yang terkasih, Rabu Abu ini kita memulai Masa Pra Paskah. Gereja menetapkan bagi kita umat Kristen dan Katolik untuk berpantang atau berpuasa, mulai Rabu Abu sampai nanti pada Jumat Agung. Yesaya pada bacaan ini mengingatkan kita bahwa puasa kita itu bukan sekedar tidak makan atau tidak minum di siang hari atau makan kesukaan (favorit) kita masing-masing.
Saudara yang terkasih, Nabi Yesaya mengingatkan dan menegur umatnya termasuk kita yang berpuasa secara formalitas tanpa kebenaran hati, menekankan bahwa puasa sejati adalah berkeadilan, melepaskan penindasan dan berbagi dengan sesama. Tuhan menghedaki ibadah yang berdampak positif, praktis berdampak aksi sosial bukan sekedar ritual, tetapi yang mendatangkan pemulihan, terang, dan jawaban doa. Poin penting yang harus kita ketahui adalan; Teguran atas puasa, walaupun sudah berpuasa hidupnya masih dalam kejahatan, suka bertengkar, dan berkata jorok.
Hakekat puasa yang dikehendaki Allah; puasa sejati bertujuan untuk keadilan sosial, membuka belenggu, kelaliman, melepaskan beban yang terindas, dan memerdekakan yang teraniaya.
Janji berkat bagi yang berpuasa; pemulihan kesehatan, perlindungan, jawaban doa, bimbingan, dan kekuatan.
Jadi ibadah puasa yang sejati adalah ibadah yang menguburkan “egoisme”.
Saudara yang terkasih, Pemazmur menggugah hati kita, menyadarkan kita bahwa kita tidak lepas dari kesalahan bahkan pelanggaran yang sering kita lakukan, “Sebab aku sendiri sadarakan pelanggaranku, aku senantiasa bergumul dengan dosaku” (Mazmur 51:3)
Injil Mateus 6 : 16-21 mengingatkan kits jika kita berpuasa jangan menampakkan kepuasannya. “tetapi apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu.” (Matius 6:7).
Dari bagian firman yang kita renungkan hari ini mengajak kita berintrospeksi diri bukan untuh pamer kesalehan, tetapi mengajak untuk melakukan tindakan nyata ajaran kasih yang diajarkan Tuhan Yesus Kristus.
Saudara yang terkasih, agar ibadah puasa kita benar, puasa yang kita jalankan hendaknya juga membuat perubahan bagi yang lain kearah yang lebih baik, demisal kalau kita memutuskan tidak merokok, tidak lauk telur, hari itu sebaiknya uang yang untuk membeli rokok atau membeli telur kita sisihkan, dikumpulkan untuk aksi puasa untuk pembangunan atau untuk diakonia kepada saudara kita yang sangat membutuhkan, seperti yatim piatu, warga ketrini, Yayasan panti jompo, atau Lembaga sosial yang perlu kita bantu.
Saudara yang terkasih, Yesaya banyak memberi inspirasi kepada kita, yaitu … membuka belenggu, melepaskan tali-tali …, dan memerdekakan orang yang teraniaya … . mungkin mereka terbelenggu keadaan semisal terkena musibah, bencana, atau tertekan sosial dan ekonomi, terikat oleh kecanduan obat terlarang, atau dana Pendidikan atau mungkin masalah sakit penyakit yang perlu mendapat uluran tangan dari kita. Selain kita memberi bantuan uang atau barang yang sangat dibutuhkan bisa juga kita mendoakan, memberi semangat, dan memberi penghiburan.
Apa yang dapat kita lakukan dalam masa Pra Paskah ini, bagi mereka yang bernasip tidak seperti kita? Kepedulian, cinta kasih perlu kita nyatakan dalam tindakan nyata. Amin.
Doa:
Tuhan Allah Bapa yang kami kenal di dalam nama Tuhan Yesus Kristus, kami mengucap syukur ya Tuhan, Engkau telah membuka hati kami tentang makna puasa yang Engkau ajarkan. Bahwa kami harus mau mengubur dan meninggalkan sifat egoisme yang kami miliki. Mampukanlah kami membuka belenggu, melepaskan tali-tali, dan memerdekan saudara-saudara kami yang tertidas, terikat, terbebani, dan dalam kehidupan yang kurang beruntung, bahkan yang terkena musibah dan bencana. Di dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin (Sudiro – Karanganom).





