Tuhan Hadir Menopang Kehidupan

Bacaan: Yohanes 14:15-21.

Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, (Yohanes 14:6).

Bacaan Lainnya

Renungan:

Saudara-saudara, apa yang tidak kelihatan tapi penting? Betul, nafas. Meski sangat penting, tapi pasti kita sering tidak menyadarinya Demikian pula, apa ada dari kita yang setiap waktu menyadari dan merasakan detak jantung sendiri? Kita tidak terus-menerus memperhatikan napas kita, kita juga tidak setiap saat mendengar detak jantung kita. Namun tanpa napas dan detak jantung itu, kita tidak bisa hidup. Nafas dan detang jantung itu tidak kelihatan, seolah-olah bekerja dalam diam, tetapi justru menopang seluruh kehidupan kita.

Bacaan kita Yohanes 14:15–21 konteksnya adalah perpisahan. Yesus berbicara kepada murid-murid yang sedang menghadapi kenyataan bahwa mereka akan kehilangan kehadiran fisik-Nya. Dalam situasi seperti itu, Yesus tidak menawarkan pengganti yang bisa dilihat secara langsung, melainkan mengarahkan mereka pada relasi yang lebih dalam dengan-Nya. Yesus menegaskan bahwa relasi itu berdiri di atas dasar kasih. Mengapa? Sebab mereka telah lebih dahulu dikasihi oleh Tuhan. Oleh karena itu, ketaatan tidak dimaksudkan sebagai alat untuk mendapatkan relasi dengan Tuhan, tetapi sebagai ungkapan kasih dari relasi yang sudah terjalin. Ketika seseorang sungguh mengasihi, maka ketaatan akan muncul dengan sendirinya, bukan karena terpaksa, tetapi karena relasi itu sungguh hidup. Inilah yang Yesus maksudkan di ayat 15.

Kehadiran Allah kemudian dijelaskan ulang. Yesus menjanjikan Roh sebagai Penolong, yang bukan sekadar “menggantikan,” tetapi menghadirkan Allah secara lebih intim. Apa maksudnya? Allah bukan lagi di luar dan jauh, melainkan di berada dalam. Ini perubahan paradigma yang besar, dari kehadiran yang kasatmata menuju kehadiran yang integral (di dalam). Di sinilah yang Yesus maksudkan bahwa dunia tidak mengenal-Nya. Bukan karena Ia tidak ada, tetapi karena cara mengenalnya tidak lagi melalui pengamatan luar, melainkan melalui relasi yang terbuka dan terletak di dalam diri. Pada titik ini, Yesus menegaskan bahwa murid-murid tidak akan menjadi yatim piatu, yang berarti ada jaminan relasi yang terus berlanjut. Bahkan relasi itu diperdalam dalam bahasa “saling tinggal”, manusia berada dalam Kristus, dan Kristus di dalam manusia. Artinya hal ini merupakan penegasan tentang realitas persekutuan yang hidup dan mendalam.

Saudara-saudara, melalui teks ini kita diajar bahwa Tuhan hadir dengan cara yang begitu dekat, ada di dalam, dan lebih personal. Mungkin memang “tak terlihat”, tapi bagaikan nafas dan detak jantung kita, justru yang tak terlihat secara kasat mata itulah yang menopang kehidupan. Oleh karena itu, iman percaya tidak berbicara tentang “apa bukti bahwa Tuhan ada atau terlihat?”, melainkan berbicara tentang belajar mengenali kehadiran Tuhan yang bekerja dari dalam. Apa yang kemudian perlu kita lakukan?

Pertama, belajar memberi waktu untuk “hening”. Kita ini barangkali sering terlalu sibuk. Bangun pagi langsung pegang HP, siang penuh kegiatan, malam sudah capek. Besoknya begitu lagi sampai akhirnya jalan terus tanpa sempat berhenti dan berujung lelah badan lelah hati. Maka dari itu, mari mulai dengan hal sederhana. Tidak perlu lama, cukup 5 sampai 10 menit. Duduk diam, tidak pegang HP, sendirian, lalu tarik napas pelan-pelan. Tanyakan pada diri sendiri, “Hari ini aku lagi bagaimana?” Bisa jadi dalam momen itu baru kita tersadar, bahwa ternyata hati sedang capek, banyak pikiran, atau ada beban yang belum selesai. Berawal dari sadar itulah kita jadi paham bahwa ternyata kita butuh untuk lebih tenang. Dan justru dalam keheningan seperti itu, kita mulai lebih peka bahwa Tuhan itu ada, menyertai, meskipun tidak kita lihat.

Kedua, hidupi iman itu dalam hal-hal kecil sehari-hari. Kalau Tuhan hadir dalam relasi, maka iman tidak cukup hanya disimpan di dalam hati, tetapi harus terlihat dalam cara kita hidup. Tidak perlu hal muluk-muluk, justru melalui hal kecil tapi nyata terasa. Misalnya, saat suasana sedang tidak enak, kita memilih menahan diri dan tidak memperkeruh keadaan. Ketika kita bisa membalas perkataan yang menyakitkan, kita memilih untuk tidak memperpanjang. Atau tetap jujur meskipun tidak ada yang melihat, tidak mengambil yang bukan hak kita walaupun ada kesempatan, dan tetap melakukan tanggung jawab dengan baik meskipun tidak ada yang memperhatikan. Hal-hal seperti ini mungkin terlihat biasa, tetapi justru di situlah iman itu hidup dan menjadi nyata.

Saudara-saudara, meski mungkin tak terlihat tetapi Tuhan hadir, ada di dalam diri kita dan menopang kehidupan kita. Maka mari jalani hidup ini dengan terus menyadari kehadiran-Nya agar damai sejahtera Tuhan yang menguasai hidup kita dan karena itu kita dimampukan memancarkan damai Tuhan bagi dunia. Amin.

Doa:

Ya Tuhan, betapa kami bersyukur sebab Engkau selalu ada bersama kami sekalipun kami tak dapat melihat secara kasat mata. Engkaulah kekuatan dan pengharapan kami menjalani kehidupan ini. Maka sekarang kami mau untuk terus dikuasai oleh damai sejahtera-Mu dan kami mau semakin setia mewartakan damai itu bagi dunia ini. Terpujilah Engkau ya Tuhan kekal selamanya. Amin. (Daniel Bimantara – Kulwo).

 

 

Pos terkait