Pergi untuk Lebih Hadir

Bacaan: Kisah Para Rasul 1:1–11

“Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.” (Kisah Para Rasul 1:8).

Bacaan Lainnya

Renungan:

Shalom, Bapak/Ibu terkasih dalam Kristus.

Hari ini kita bersukacita merayakan Kenaikan Tuhan Yesus Kristus. Namun mungkin ada pertanyaan yang diam-diam muncul dalam hati kita: naik ke mana, apakah Ia pergi meninggalkan kita?  Yesus yang pergi justru hadir lebih dekat dan lebih nyata dari sebelumnya, inilah iman kita.

Seorang ibu guru di sebuah desa terpencil mengabdi selama dua puluh tahun. Ia mengajar membaca, berhitung, bahkan mengajari warganya cara membuat pupuk dan mencatat keuangan keluarga. Ketika masa tugasnya berakhir dan ia harus pindah, murid-muridnya menangis di halaman sekolah. “Bu Guru pergi, siapa yang akan memimpin kami?” Namun setahun kemudian, satu per satu muridnya justru menjadi guru bagi yang lain. Yang ia tinggalkan bukan kekosongan, melainkan akar yang sudah cukup dalam untuk terus tumbuh, dan api yang sudah cukup panas untuk terus menyala. Para murid Yesus pun berdiri di bukit Zaitun dengan perasaan yang tidak jauh berbeda, menatap langit yang menutup, dalam diam yang berat.

Namun Yesus tidak membiarkan mereka berhenti di adegan diam itu. Dua malaikat segera bertanya, “Mengapa kamu berdiri melihat ke langit?” (ay. 11), bukan sekadar mengusir kebingungan, melainkan undangan untuk berbalik dan melangkah. Sebab sebelum terangkat, Yesus telah lebih dulu menjanjikan kuasa: “Kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu” (ay. 8). Paulus dalam Efesus 1:20–23 menegaskan bahwa Yesus yang naik bukan hilang dari dunia. Ia dinaikkan jauh di atas segala kuasa dan ditetapkan sebagai Kepala atas seluruh jemaat yang adalah tubuh-Nya. Kenaikan bukan perpisahan. Itu adalah perluasan kehadiran-Nya dari satu titik di bukit Zaitun, menjadi hadir di mana pun ada orang yang percaya kepada-Nya.

Inilah kabar yang kita pegang hari ini: Yesus yang naik bukan berarti Yesus yang pergi. Ia naik untuk tetap hadir dan mengutus Roh Kudus sebagai Penolong yang tinggal di dalam kita, bukan di luar, bukan jauh di atas, tetapi di dalam. Maka ketika kita merasa goyah, tidak cukup kuat sebagai pekerja, tidak cukup berani sebagai saksi Kristus di tengah masyarakat, tidak cukup sabar sebagai orang tua, tidak cukup setia dalam penantian dan harapan, atau tidak lagi sanggup bertahan dalam kesepian; kita tidak berjuang sendirian. Ia telah hadir dan tinggal dalam hati kita, menjaga kita, memberkati kita, dan menguatkan kita. Para murid membuktikannya: mereka kembali ke Yerusalem bukan dengan langkah lesu, melainkan dengan sukacita besar (Lukas 24:52). Padahal mereka baru saja “ditinggalkan.” Sukacita itu hanya masuk akal jika mereka sungguh-sungguh mengerti: Ia yang naik ke surga tidak pergi menjauh namun Ia naik untuk lebih dekat, bekerja dari takhta-Nya atas setiap langkah hidup kita. Seperti para murid yang kemudian bangkit melanjutkan karya-Nya, pergi bersaksi, melayani, dan memberitakan Injil sampai ke ujung bumi kita pun dipanggil untuk melangkah maju membawa terang-Nya ke dalam keluarga, pekerjaan, dan kehidupan sehari-hari kita. Biarlah keyakinan yang sama menjadi pijakan kita hari ini. Bukan keyakinan karena kita kuat, melainkan karena Ia yang kuat tidak pernah berhenti menyertai kita.

Doa:

Tuhan Yesus, kami bersyukur bahwa kenaikan-Mu bukan perpisahan. Engkau tidak meninggalkan kami. Engkau hadir atas hidup kami. Kuatkan kami dan ajarlah kami berbalik dari menatap langit yang kosong untuk berani melangkah dengan sukacita sebagai saksi-Mu di rumah kami, di ladang kami, di gereja kami. Dalam nama-Mu yang berkuasa kami berdoa. Amin. (Kintan Limiansih – Wonocatur).

 

 

 

Pos terkait