Bacaan: Kisah Para Rasul 14:19–28.
Dari situ berlayarlah mereka ke Antiokhia; di tempat itulah mereka dahulu diserahkan kepada kasih karunia Allah untuk memulai pekerjaan, yang telah mereka selesaikan. (Kisah Para Rasul 14:26).
Renungan:
Pernahkah kita memperhatikan sebuah pertandingan sepak bola? Ribuan orang memenuhi stadion. Jutaan orang menyaksikan melalui layar televisi. Semua memberikan komentar. Ada yang memuji, ada yang mengkritik, bahkan ada yang merasa tahu apa yang seharusnya dilakukan oleh para pemain. Namun, hanya sebelas orang di lapangan yang benar-benar berlari, berkeringat, jatuh, bangkit, dan berjuang untuk meraih kemenangan.
Begitulah gambaran kehidupan bangsa kita hari ini. Tidak sedikit orang lebih nyaman menjadi penonton dari pada pelaku. Mudah mengkritik pemerintah, menyalahkan pemimpin, mengeluhkan keadaan, atau membicarakan kesalahan orang lain. Namun ketika kesempatan datang untuk berbuat sesuatu, banyak yang memilih diam. Kita ingin Indonesia menjadi lebih baik, tetapi sering kali berharap orang lain yang memulainya.
Bangsa ini tidak membutuhkan lebih banyak penonton. Bangsa ini membutuhkan orang-orang yang mau turun ke lapangan.
Kisah Para Rasul 14:19–28 memperlihatkan sosok Rasul Paulus sebagai seorang yang tidak pernah memilih menjadi penonton. Setelah dilempari batu hingga dianggap mati, Paulus mempunyai banyak alasan untuk berhenti. Ia bisa berkata bahwa risikonya terlalu besar. Ia bisa mencari tempat yang lebih aman. Ia bisa menyalahkan orang-orang yang telah menyakitinya.
Namun yang dilakukan Paulus sungguh mengejutkan. Ketika para murid mengelilinginya, ia bangkit. Bahkan ia kembali masuk ke kota yang baru saja menolaknya. Tindakan itu bukanlah sikap nekat, melainkan wujud keyakinan bahwa panggilan Tuhan lebih besar dari pada rasa takutnya.
Paulus menunjukkan bahwa perubahan tidak pernah lahir dari orang yang hanya mengamati. Perubahan lahir dari mereka yang berani terlibat. Pertanyaannya, bagaimana dengan kita?
Mungkin kita tidak dipanggil mengangkat senjata. Namun kita dipanggil mengangkat nilai-nilai Kerajaan Allah di tengah bangsa. Ketika kejujuran mulai dianggap langka, kita dipanggil hidup jujur. Ketika kebencian mudah menyebar melalui media sosial, kita dipanggil menjadi pembawa damai. Ketika banyak orang mengejar kepentingan pribadi, kita dipanggil mengutamakan kepentingan bersama. Ketika orang lain memilih diam terhadap ketidakadilan, kita dipanggil menjadi suara bagi kebenaran dengan cara yang bijaksana.
Bangsa ini tidak berubah karena banyaknya komentar. Bangsa ini berubah karena ada orang-orang yang mau bertindak. Gereja tidak bertumbuh karena banyaknya kritik. Gereja bertumbuh karena ada orang-orang yang mau melayani. Keluarga tidak menjadi kuat karena banyaknya nasihat. Keluarga menjadi kuat karena ada kasih yang dipraktikkan setiap hari.
Kiranya, seperti Paulus, kita menjadi orang-orang yang tidak berhenti karena luka, tidak menyerah karena tantangan, dan tidak memilih menjadi penonton ketika Tuhan memanggil kita untuk ikut membangun. (Rinda Trisnanta – Karanganom).





