Bacaan: Matius 12:15-21.
Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskan-Nya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkan-Nya, sampai Ia menjadikan hukum itu menang. (Matius 12:20).
Renungan:
Menjadi orang Kristen adalah orang yang telah diselamatkan Tuhan. Menjadi orang Kristen adalah menjadi bangsa yang terpilih, menjadi pewaris kerajaan Sorga-Nya. Ya, memang benar demikian adanya. Namun, terkadang kita kebablasen dan menjadi jumawa, bahwa menjadi orang Kristen haruslah bersikap dan berpembawaan layaknya pejabat pemerintah yang gagah pideksa atau anggun berwibawa. Karena itu harus necis penampilannya, harus menunjukkan diri memiliki kuasa dan pengaruh terhadap orang lain yang dijumpainya.
Bacaan Kitab Suci pagi ini menegaskan tindakan Yesus yang berkebalikan dengan anggapan dan pandangan umum tentang kehadiran Sang Mesias. Mesias dipahami sebagai seorang pemimpin bangsa yang berkuasa dan berpengaruh serta gagah berani melawan penjajahan bangsa Romawi. Mesias dipahami sebagai pemimpin politik dengan orasi yang menggetarkan jiwa, menjadi pemimpin negara dan birokrasinya, dan pemahaman sejenisnya yang serupa.
Laku hidup Yesus tidak menunjukkan pola perilaku hidup yang menunjukkan sebagai pemimpin yang gagah berkuasa. Ia justru menyingkir setelah menyembuhkan orang sakit dan melakukan berbagai mujizat penyembuhan. Ia justru menyingkir ketika banyak orang sudah mulai kasak-kusuk membicarakan Dialah Sang Mesias yang dinanti-nantikan umat manusia. (ayat 15-17). Yesus, manusia inkarnasi Allah justru bertindak melawan arus dari gambaran pemimpin bangsa yang diharapkan manusia. Ia tidak akan berbantah dan tidak akan berteriak ketika suara-Nya tak digubris umat manusia. (ayat 19).
“Buluh yang patah terkuali tidak akan diputuskan-Nya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkan-Nya.” (ayat 20). Itulah ungkapan puitis sikap dan tindakan nyata yang dilakukan Yesus. Ia senantiasa bertindak sederhana, dengan penuh welas asih, tidak menunjukkan diri pibadi yang sok berkuasa dan berwibawa.
Makna leksikal “buluh yang patah terkulai” berarti tanaman buluh yang bengkok/lemah/patah. Kondisi tanaman yang seperti itu tidak akan dipatahkan atau sengaja dimatikan, namun justru direngkuh, disangga, dan dikuatkan agar tetap hidup dan bisa bertumbuh lagi. Yesus Sang Mesias bersikap dan bertindak dengan kasih dan kelembutan Tuhan terhadap orang yang lemah, putus asa, atau rapuh, yang tidak akan dihancurkan, melainkan akan dipulihkan dan diberi kekuatan.
Sudahkah kita bersikap dan bertindak seperti Yesus? Ataukah kita masih tetap jumawa bertindak layaknya pemimpin besar dengan gaya gagah penuh kuasa berwibawa? (Tim Adminweb – JJW).



