Bacaan: Kolose 1:9–21, Mazmur 95, Efesus 2:11–22.
“Pada hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu.” (Mazmur 95:7b–8a).
Renungan:
Shalom saudara-saudari terkasih, ada luka yang membuat manusia waspada. Itu wajar. Tetapi ada juga luka yang perlahan mengeras menjadi tembok. Itu justru berbahaya.
Pemazmur memberi peringatan yang sederhana namun tajam: jangan keraskan hatimu. Hati yang keras tidak muncul tiba-tiba. Ia terbentuk dari kekecewaan yang dipelihara, dari ego yang enggan ditundukkan, dari rasa benar yang tidak mau diuji.
Pra-Paskah adalah ruang evaluasi batin. Kita diajak berhenti dan bertanya: masihkah hati ini peka? Dalam Kolose, Paulus menegaskan bahwa di dalam Kristus segala sesuatu diperdamaikan. Keselamatan bukan hanya status, melainkan proses pembentukan. Seperti kehidupan dalam rahim, kasih Allah bekerja dalam diam, membentuk cara kita berpikir dan bertindak.
Namun pembentukan hanya mungkin jika hati bersedia dilembutkan. Efesus 2 mengingatkan bahwa Kristus merobohkan tembok pemisah. Maka menjadi ironi jika kita yang telah diperdamaikan justru memelihara sekat antara lain gengsi, luka lama, atau pembenaran diri.
Hati yang lembut bukan berarti lemah. Ia adalah hati yang mau belajar dan bertumbuh. Di masa ini, mari memberi ruang bagi Allah untuk membentuk kembali hidup kita. Berani meruntuhkan ego tembok yang selama ini kita jaga. Sebab dari hati yang dilembutkan oleh kasih, lahir kehidupan yang memulihkan.
Doa
Ya Tuhan Yesus, Lembutkan hati kami ketika ia mulai mengeras. Runtuhkan ego tembok yang kami bangun sendiri. Bentuklah kami dengan kasih-Mu, agar kami hidup tumbuh sebagai pembawa berkat dan damai. Di dalam Kristus kami berdoa. Amin. (Yudistira WP-Kulwo).
