Dari Sungut-sungut Menuju Rasa Syukur

Bacaan: Keluaran 17:1-7.

Dinamailah tempat itu Masa dan Meriba, oleh karena orang Israel telah bertengkar dan oleh karena mereka telah mencobai TUHAN dengan mengatakan: “Adakah TUHAN di tengah-tengah kita atau tidak?” (Kejadian 17:7).

Bacaan Lainnya

Renungan:

Jemaat yang terkasih, ini misalnya saja. Ada orang naik motor tiba-tiba berhenti, menanyakan suatu alamat pada kita yang kebetulan sedang di depan rumah. Setelah kita tunjukkan arah menuju ke sana, tiba-tiba ia langsung melesat pergi tanpa ada sepatah dua patah kata pun. Bagaimana perasaan anda dan apa yang anda pikirkan? Mungkin saja kita akan berkata “Ealah, piye to? Langsung pergi aja. Gak tau terima kasih.” Tentang “tidak tahu terima kasih”, hal itu pula yang muncul dalam bacaan kita, bahkan tidak hanya tentang “tidak tahu terima kasih.”

Bacaan kita menuliskan bahwa bangsa Israel bertengkar dengan Musa dan bersungut-sungut oleh sebab mereka kehausan. Padahal di Keluaran pasal 16 mereka sudah diberi makan dengan cukup untuk semua orang, tidak kelebihan tidak kekurangan. Sudah diberikan makanan yang cukup, apa respon mereka? Tidak ada keterangan semacam “terima kasih”, yang ada justru sikap ngeyel, yakni dengan membiarkan roti yang seharusnya dihabiskan dan tetap berusaha mengambil roti pada hari ketujuh, yang padahal sebenarnya tidak boleh. Kini kembali ke pasal 17. Setelah Musa memukul gunung batu di Horeb dan keluar air dari dalamnya seperti yang Tuhan perintahkan, keterangan apa yang muncul kemudian? Tidak ada ungkapan syukur atau terima kasih dari bangsa Israel, melainkan keterangan ungkapan “Adakah Tuhan di tengah-tengah kita atau tidak?”

Di samping itu, setidaknya 2 kali kata bersungut-sungut dipakai merujuk pada respon bangsa Israel terhadap kondisi yang mereka alami, yakni pasal 16 dan 17. Pasal 16 bersungut-sungut dibarengi dengan sikap toxic, yakni merasa lebih baik mati di Mesir tapi menghadap kuali berisi daging, dan di pasal 17 bersungut-sungut didahului dengan memulai pertengkaran. Ternyata, pilihan pertama sikap yang mereka ambil terhadap sesuatu adalah reaktif dan emosional. Tanpa mencoba memahami situasi, mereka buru-buru menyimpulkan, berpikiran buruk, menyalahkan, bahkan tak segan untuk bertengkar. Padahal sesungguhnya bisa saja mereka memilih sikap “kepala dingin” dan bijaksana, sesederhana bertanya dengan baik “ternyata kita semua kekurangan makanan, apa dan bagaimana yang harus kita perbuat?” Pada akhirnya, semua bermuara pada ketidakpercayaan bangsa Israel kepada Tuhan sendiri, yang sudah menolong mereka dari jeritan dan penderitaan mereka di Keluaran pasal 2:23-25.

Jemaat yang dikasihi Tuhan, melalui bacaan hari ini kita melihat 3 sikap yang bisa dilakukan manusia dalam hidupnya, yaitu tidak tahu terima kasih, reaktif-emosional, dan tidak percaya kepada Tuhan yang sudah senantiasa memelihara. Sebagaimana bangsa Israel, kita pun punya potensi untuk melakukan 3 hal tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, hari ini kita dipanggil untuk melakukan yang sebaliknya dari 3 hal yang sudah dilakukan bangsa Israel. Itu berarti, tahu terima kasih, proaktif-bijaksana, dan senantiasa percaya pada pemeliharaan Tuhan.

Mari biasakan berterima kasih untuk segala sesuatu bahkan kepada hal yang kelihatannya sepele, misalnya diambilkan dompet yang tertinggal di meja ketika sudah terlanjur naik motor mau ke pasar. Kalau merasa agak aneh membiasakan hal tersebut, itu wajar. Alasannya hanya karena belum terbiasa saja. Maka tinggal dibiasakan.

Mari kita upayakan selalu bersikap proaktif-bijaksana. Ketika menjumpai sesuatu hal, kita upayakan pertama-tama untuk tetap tenang dan berusaha memahami yang terjadi dengan menggali informasi-informasi yang berkaitan. Tentang bagaimana terjadinya, kapan peristiwanya, siapa saja yang ada di situ, apa yang bisa saya lakukan, dsb.

Mari semakin percaya bahwa Tuhan itu selalu beserta kita dalam tiap keadaan. Salah satu caranya ialah mengingat bahwa bila hari kemarin Tuhan sudah menolong dan menunjukkan jalan keluar terbaik, maka untuk segala sesuatu di hari ini dan di waktu-waktu yang akan datang, Tuhan pun pasti akan melakukan hal yang serupa. Oleh karena itu selain mengingat kebaikan Tuhan di waktu-waktu yang lalu, mari lakukan yang memang harus dilakukan dengan sebaik mungkin.

Doa:

Ya Tuhan. Ampunilah kami bila terkadang kami tak bersyukur atas kasih setia-Mu yang begitu besar. Kami bersyukur saat ini Engkau ingatkan bahwa hidup kami selalu Engkau pelihara. Oleh karena itu kami mau untuk lebih lagi mengucap syukur dan berterima kasih, juga bersikap proaktif-bijaksana, dan selalu percaya pada-Mu. Dalam nama Tuhan Yesus. Amin. (Daniel Bimantara – Kulwo).

 

 

Pos terkait