Bacaan: Kitab Keluaran 3:1–12, Mazmur 31:1–5, 15–16, Kisah Para Rasul 7:1–16.
“Bukankah Aku akan menyertai engkau?” (Keluaran 3:12).
Renungan:
Syalom saudara-saudariku terkasih, sering kali yang menjadi penghalang bukan panggilan Tuhan, melainkan cara manusia memandang dirinya sendiri.
Musa sebenarnya tidak sedang mencari Tuhan. Ia hanya menjalani hari seperti biasa. Tidak ada yang spesial. Tidak ada tanda bahwa hidupnya akan berubah. Tapi justru di situ Tuhan memanggil. Bukan di tempat ideal, bukan dalam kondisi siap.
Masalahnya muncul setelah itu. Musa mulai berhitung. Siapa dirinya, apa yang bisa ia lakukan, bagaimana respons orang nanti. Keraguan itu masuk akal. Tapi diam-diam, ia sedang menggeser pusat dari Tuhan ke dirinya sendiri. Seolah-olah keberhasilan panggilan itu bergantung pada kapasitasnya.
Di titik ini, jawaban Tuhan terasa “terlalu sederhana”: “Aku akan menyertai engkau.” Tidak ada penjelasan teknis. Tidak ada jaminan jalan mulus. Hanya satu hal yaitu penyertaan.
Di sini sering terjadi kesalahpahaman. Penyertaan Tuhan dianggap sebagai pelengkap, padahal itu inti. Manusia cenderung mencari kepastian hasil, sementara Tuhan menawarkan kehadiran-Nya. Dua hal ini tidak selalu berjalan beriringan.
Dalam Mazmur 31, terlihat sikap yang lebih jernih. Di tengah tekanan, pemazmur tidak berusaha mengontrol situasi. Ia justru menyerahkan hidupnya ke tangan Tuhan. Bukan karena semua sudah jelas, tapi karena ia tahu siapa yang memegang kendali.
Sementara dalam Kisah Para Rasul 7, Stefanus mengingatkan sesuatu yang agak tidak nyaman sejak dulu, manusia memang cenderung ragu, menolak, bahkan salah memahami Tuhan. Tapi itu tidak pernah menghentikan karya-Nya.
Artinya, persoalannya bukan pada apakah Tuhan tetap bekerja. Itu pasti.Persoalannya yaitu apakah manusia mau tetap berjalan bersama-Nya.
Menguduskan Kristus dalam hati bukan soal terlihat rohani. Ini soal posisi. Siapa yang benar-benar ditempatkan di pusat hidup kita ini, Tuhan, atau ketakutan sendiri?
Keraguan tidak harus hilang dulu supaya bisa taat. Tapi jika keraguan dibiarkan memimpin, di situ arah hidup mulai bergeser. Mungkin yang perlu dibereskan bukan situasinya. Bukan juga perasaannya, tapi posisinya.
Apakah Kristus sungguh dikuduskan dalam hati atau masih sekadar dipertimbangkan? (Yudistira WP – Kulwo).
