Bacaan: Matius 13:1-9, 18-23.
“Yang ditaburkan di tanah yang baik ialah orang yang mendengar firman itu dan mengerti, dan karena itu ia berbuah, ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat.” (Matius 13:23).
Renungan:
Saudara-saudara yang terkasih, pernahkah kita berpikir, apa yang akan terjadi jika suatu hari semua Alkitab di dunia ini hilang? Pertanyaan itulah yang diangkat dalam film “The Book of Eli”. Film tersebut mengisahkan seorang pria yang mempertaruhkan hidupnya untuk menjaga satu-satunya Alkitab yang masih tersisa setelah dunia dilanda kehancuran. Namun, yang paling menarik bukanlah bagaimana ia melindungi kitab itu, melainkan bagaimana firman Tuhan ternyata telah dan selalu hidup di dalam dirinya. Ketika Alkitab itu tidak lagi berada di tangannya, firman di dalam Alkitab tetap ada dalam ingatan, keyakinan, ia pun tetap mampu menuliskannya kembali. Ya, masih dapat terwujud dalam cara ia menjalani hidup. Saudara-saudara yang terkasih, bukankah hal yang sama juga dapat menjadi pertanyaan bagi kita? Kita memiliki Alkitab di rumah, tetapi, apakah Alkitab itu hanya tersimpan di rak buku, atau firman di dalamnya sungguh-sungguh bertumbuh di dalam hati dan mengubah hidup kita?
Dalam bacaan Injil hari ini, perumpamaan yang Yesus sampaikan berangkat dari kehidupan sehari-hari masyarakat Galilea yang akrab dengan dunia pertanian. Pada masa itu, seorang petani lazim menaburkan benih terlebih dahulu, kemudian membajak tanah agar benih tertutup dan dapat bertumbuh. Karena itu, tidak semua benih jatuh di lahan yang baik. Sebagian jatuh di jalan setapak, sebagian di tanah berbatu yang lapisan tanahnya tipis, dan sebagian lagi di antara semak duri yang belum dibersihkan. Gambaran ini tentu mudah dipahami oleh para pendengar Yesus. Namun, Yesus tidak sedang mengajarkan cara bercocok tanam. Ia memakai pengalaman itu untuk menjelaskan bagaimana firman Allah bekerja dalam kehidupan manusia. Benih yang ditaburkan selalu sama, demikian pula Sang Penabur tetap setia menaburkan benih. Yang membedakan hasilnya adalah keadaan tanah yang menerimanya. Dengan demikian, perhatian Yesus bukan tertuju pada benih, melainkan pada respons setiap orang terhadap firman yang didengarnya.
Perumpamaan ini menjadi semakin bermakna jika dibaca dalam konteks pelayanan Yesus yang mulai menghadapi penolakan. Tidak semua orang yang mendengar pengajaran-Nya bersedia menjadi murid-Nya. Bahkan para murid bertanya mengapa Yesus mengajar dengan perumpamaan. Melalui cara itu, Yesus mengajak setiap orang bukan hanya mendengar, tetapi juga memberi respons terhadap firman yang diterimanya. Ada yang tidak memahami sehingga firman tidak bertumbuh. Ada yang menerimanya dengan sukacita, tetapi tidak bertahan ketika menghadapi kesulitan. Ada pula yang membiarkan kekhawatiran hidup dan tipu daya kekayaan menghimpit firman hingga tidak menghasilkan buah. Sebaliknya, tanah yang baik menggambarkan mereka yang mendengar, memahami, dan menghidupi firman Tuhan sehingga menghasilkan buah dalam kehidupan. Oleh sebab itu kita melihat bahwa memahami firman bukan sekadar “mengetahui” ajaran Yesus, melainkan membiarkan firman itu membentuk cara berpikir, cara hidup, dan arah kehidupan seseorang.
Saudara-saudara yang terkasih, melalui kisah tadi kita diingatkan bahwa sesungguhnya Tuhan tidak pernah berhenti menyampaikan firman-Nya. Pertanyaannya adalah, apakah hati kita sampai hari ini masih memiliki ruang bagi firman itu? Bisa jadi selama bertahun-tahun seseorang rajin dalam ibadah, membaca Alkitab, melayani di gereja juga di masyarakat, tetapi hatinya tanpa sadar dipenuhi oleh kesibukan, kekhawatiran, ambisi, atau kepahitan yang membuat firman tidak lagi bertumbuh. Firman yang mencipta dan memelihara kehidupan, hanya akan mentransformasi orang yang bersedia membuka hati dan terus membiarkan dirinya dibentuk oleh Allah.
Dalam kehidupan sekarang, semak duri yang disebut Yesus bisa saja secara harafiah tidak lagi berbentuk semak yang tumbuh di ladang, tetapi hadir dalam rupa yang berbeda. Kesibukan pekerjaan, tuntutan ekonomi, persaingan hidup, kecanduan media sosial, bahkan keinginan untuk selalu berhasil dapat memenuhi pikiran kita hingga tidak lagi memiliki waktu untuk mendengarkan Tuhan. Firman akhirnya hanya menjadi bacaan mingguan, bukan lagi pedoman hidup sehari-hari. Kita mendengar, tetapi tanpa sadar ternyata tidak memberi ruang bagi firman untuk bertumbuh.
Karena itu, menjadi “tanah yang baik” bukan berarti menjadi orang yang sempurna adanya atau tanpa pergumulan sama sekali. Tanah yang baik adalah tentang hati yang terus bersedia diolah oleh Tuhan. Orang yang mau mendengarkan firman, merenungkannya, dan dengan setia melakukannya sedikit demi sedikit, pastilah akan mengalami perubahan. Firman itu membentuk cara kita memperlakukan orang lain termasuk keluarga, bekerja dengan jujur, mengampuni sesama, peduli kepada ciptaan, dan tetap berpengharapan di tengah kesulitan. Ketika itu terjadi, maka artinya firman Allah terus mencipta, memelihara, dan mentransformasi kehidupan.
Saudara-saudara yang terkasih, setiap hari Sang Penabur masih berjalan dan menaburkan benih damai sejahtera itu. Firman terus diberitakan, terus dibacakan, dan terus disampaikan kepada dunia. Yang menjadi pertanyaan bukanlah apakah benih itu masih memiliki kuasa, melainkan apakah hati tiap-tiap orang siap dan bersedia menerimanya, bahkan dibentuk olehnya? Kiranya ketika firman itu jatuh ke dalam hati kita hari ini, ia tidak berhenti sebagai pengetahuan saja, tetapi bertumbuh menjadi iman, menghasilkan buah dalam kehidupan, dan melalui kita, Tuhan menghadirkan kehidupan bagi sesama. Amin.
Doa:
Dimuliakanlah Engkau ya Tuhan kekal selamanya. Kami bersyukur ya Tuhan bahwa Engkau setia memelihara kami sampai hari ini. Melalui permenungan saat ini, kami bersedia untuk terus belajar menjadi tanah yang subur, yaitu menjadi pribadi yang rendah hati dan senantiasa bersedia diubahkan semakin baik oleh kebenaran firman-Mu. Jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga. Amin. (Daniel Bimantara – Kulwo).
