Bacaan: 1 Samuel 15:10–21; Mazmur 23; Efesus 5:1–9.
Sebab itu jadilah penurut-penurut Allah, seperti anak-anak yang kekasih dan hiduplah di dalam kasih, sebagaimana Kristus Yesus juga telah mengasihi kamu dan telah menyerahkan diri-Nya untuk kita sebagai persembahan dan korban yang harum bagi Allah. (Efesus 5:1-2).
Renungan:
Mari kita mengingat kembali Mazmur 23. Mazmur ini sering kita nyanyikan dalam lagu “Tuhan adalah Gembalaku”. Tuhan adalah gembala, dan kita adalah domba-domba-Nya.
Seorang gembala menuntun dombanya ke padang rumput yang hijau, ke air yang tenang, menjauhkan mereka dari jurang, dari binatang buas, dan dari jalan yang berbahaya. Gembala tahu mana jalan yang aman dan domba hanya perlu mengikuti.
Tetapi pertanyaannya sederhana: apakah kita sebagai “domba” benar-benar mau mengikuti gembala kita?
Allah sudah menuntun kita ke jalan yang baik. Kita tahu mana yang benar. Kita tahu Tuhan mengarahkan kita menjauhi bahaya. Namun sering kali kita justru bersikap seperti domba yang keras kepala. Kita tahu kehendak Tuhan, tetapi sengaja mengabaikannya.
Sikap seperti ini tampak jelas dalam kisah Saul pada 1 Samuel 15. Tuhan memerintahkan Saul untuk menaati perintah-Nya sepenuhnya. Namun Saul yang diberi kekuasaan sebagai Raja memilih melakukan sebagian saja, dia malah melakukan penjarahan dengan dalih untuk persembahan kepada Allah. Ia menyisakan hal-hal yang menurutnya baik, lalu mencoba membenarkan dirinya. Ia bahkan mengatakan seolah-olah semuanya dilakukan untuk Tuhan. Padahal sebenarnya ia tidak taat.
Firman Tuhan dalam Efesus 5 kemudian mengingatkan bahwa kita adalah anak-anak terang. Hidup orang percaya seharusnya memancarkan terang melalui kebaikan, kebenaran, dan kehidupan yang benar di hadapan Tuhan.
Kadang kita merasa terang kita tidak terlihat. Tetapi mungkin itu karena kita berada di tengah orang-orang yang juga hidup dalam terang. Bersyukurlah jika kita hidup di tengah keluarga atau lingkungan yang baik. Namun terang tidak dimaksudkan hanya untuk berkumpul dengan terang lainnya.
Terang dibutuhkan di tempat yang redup, bahkan di tempat yang gelap.
Karena itu marilah kita membawa terang tersebut. Dimulai dari lingkungan kita, keluarga, saudara, teman, dan orang-orang di sekitar kita. Kiranya kita tidak menjadi domba yang keras kepala, tetapi domba yang mau mengikuti gembala kita.
Doa:
Bapaku yang di sorga, ajar aku untuk menjadi domba yang baik, yang taat, dan menjadi terang disekitar kami. Perkenankan hidupku hanya untuk kemuliaan Mu ya Tuhan. Dalam nama Tuhan Yesus aku berdoa. Amin. (Revnus Gadang Dermawan – Minomartani).




