Bacaan: Yesaya 59: 9-19, Mazmur 146, Kisah Para Rasul 9:1-20.
“Berbahagialah orang yang mempunyai Allah Yakub sebagai penolong, yang harapannya pada Tuhan, Allahnya” (Mazmur 146:5).
Renungan:
Bapak Ibu dan Saudara yang dikasihi Tuhan, saya memiliki sebuah kisah tentang Mbah Min penjual tempe.
Siang hari sepulang dari sawah, Mbah Min tersentak kaget. Ia baru ingat: besok pasaran Wage, hari di mana dia harus menjual tempe di pasar. Dengan panik ia segera menakar kedelai, merebus, dan memprosesnya menjadi tempe, meski tahu waktunya sudah terlambat. Pagi harinya saat tempe dibuka, benar saja…tempenya belum jadi. Tapi, Mbah Min tetap berangkat ke pasar. Ia pucat tertunduk di depan tenggok penuh tempe yang belum jadi. Tangan keriputnya ngapurancang, berdoa dalam hati.
Waktu sudah menunjukkan pukul 08.00, pasar hampir bubar, dan harapan terasa semakin tipis. Tiba-tiba seorang wanita cantik yang tampilannya seperti orang kota, rapih dan harum, datang tergopoh menghampiri Mbah Min. “Mbah, niki tempene dereng dados nggih? Kula tumbas sedoyo nggih, Mbah… pas banget..badhe kula beto ten Jakarta.” Mbah Min terdiam, lalu air matanya jatuh. Bukan karena sedih, tetapi karena kagum melihat cara Tuhan bekerja. Saat ia merasa semuanya hampir gagal, Tuhan justru membuka jalan.
Bapak Ibu dan Saudara yang dikasihi Tuhan, saat ini mungkin banyak dari kita juga sedang dilanda kekhawatiran. Habis nanam padi kok hujannya berhenti, malah panas terus menerus. Menjelang libur panjang kok harga-harga melambung tinggi. Belum lagi kita mendengar berita isu perang dunia yang membuat hati semakin gelisah. Keadaan sering membuat kita tertunduk, merasa kecil dan tidak berdaya.
Tetapi seperti Mbah Min yang tetap berharap dan berdoa, kita diingatkan bahwa masih ada satu yang selalu hadir di tengah kekhawatiran kita: Tuhan Semesta Alam. Tuhan melihat hati yang berharap kepada-Nya. Tuhan masih bekerja, Tuhan masih memelihara, dan Tuhan mampu menghadirkan harapan di saat yang paling tidak kita sangka.
Doa:
Tuhan, di tengah kekhawatiran hidup, kami datang dengan hati yang tertunduk. Teguhkan iman kami, sehingga kami tetap berharap, karena Engkau sanggup membuka jalan ketika kami merasa tidak ada harapan. Amin (Kintan Limiansi, Minomartani).






