Bacaan: Hosea 8:11-14.
Israel telah melupakan Pembuatnya dan telah mendirikan istana-istana; Yehuda telah memperbanyak kota-kota yang berkubu; tetapi Aku akan melepas api ke dalam kota-kota mereka, sehingga puri mereka dimakan habis. (Hosea 8:14).
Renungan:
Dalam kehidupan bergereja, sering kali kita mengukur kerohanian dari banyaknya aktivitas keagamaan yang dilakukan. Semakin banyak ibadah, pelayanan, persembahan, atau kegiatan rohani, semakin rohani pula seseorang dianggap. Namun, melalui nabi Hosea, Tuhan mengingatkan bahwa banyaknya aktivitas keagamaan tidak selalu menunjukkan kedekatan dengan-Nya.
Bangsa Israel pada masa itu sangat aktif beribadah. Mereka membangun banyak mezbah dan mempersembahkan banyak korban. Secara lahiriah mereka tampak religius. Namun, Tuhan melihat sesuatu yang berbeda. Di balik semua aktivitas tersebut, hati mereka justru menjauh dari-Nya. Mereka lebih mengandalkan ritual daripada relasi. Mereka sibuk beribadah tetapi melupakan ketaatan. Mereka menikmati simbol-simbol agama tetapi mengabaikan kehendak Allah.
Karena itu, Tuhan berkata bahwa mezbah-mezbah yang mereka bangun justru menjadi sarana dosa bagi mereka. Bukan karena ibadah itu salah, melainkan karena ibadah tersebut tidak disertai pertobatan dan kesetiaan.
Pesan ini tetap relevan bagi kita saat ini. Seseorang dapat rajin mengikuti ibadah, aktif melayani, bahkan memahami banyak ajaran Alkitab, tetapi hatinya bisa saja jauh dari Tuhan. Setiap minggu datang ke gereja, tetapi setelah pulang masih suka bertengkar, berbohong, iri hati, atau berlaku tidak adil kepada sesama. Mulutnya memuji Tuhan, tetapi hidupnya tidak mencerminkan kasih Tuhan. Kita mungkin hadir setiap minggu di gereja, tetapi masih menyimpan kebencian. Kita mungkin aktif dalam pelayanan, tetapi mengabaikan kejujuran dalam pekerjaan. Kita mungkin tekun berdoa, tetapi enggan mengampuni sesama.
Tuhan menghendaki lebih dari sekadar kehadiran kita dalam ibadah. Tuhan ingin kita hidup dalam ketaatan setiap hari. Ketika kita bekerja dengan jujur, mengasihi keluarga, membantu tetangga yang kesulitan, menjaga perkataan, dan hidup rukun dengan sesama, itulah ibadah yang menyenangkan hati Tuhan.
Hari ini, marilah kita bertanya kepada diri sendiri: Apakah saya hanya menjalankan rutinitas rohani, atau sungguh-sungguh membangun hubungan dengan Tuhan? Jangan sampai ibadah kita ramai, tetapi hati kita kosong. Jangan sampai kita mengenal banyak tentang Tuhan, tetapi lupa hidup bersama Tuhan. Amin. (Elizabeth Lasmiyati – Kulwo).
