Bacaan: Matius 4:1-11.
Tetapi Yesus menjawab: “Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.” (Matius 4:4).
Renungan:
Bayangkan Anda sampai di rumah dalam kondisi yang sangat lapar setelah bekerja seharian. Di meja makan terdapat macam-macam lauk. Karena merasa saking laparnya, tanpa pikir panjang anda menghabiskan rupa-rupa lauk yang ada. Kenyang? Bukan, tapi kekenyangan dan malah menjadi mual. Itu gambaran sederhana saja bahwa yang disebut rakus, serakah, tamak, di mana-mana memang berdampak buruk adanya. Benar atau betul? Kedua-duanya. Itu baru tentang serakah dalam konteks urusan personal, belum lagi tentang konteks yang lebih luas seperti halnya eksploitasi alam di bumi ini. Indonesia saja, akhir tahun 2025 mengalami banyak bencana alam di beberapa titik penjuru negeri. Bukan semata-mata karena faktor alam, melainkan karena kerusakan hutan, minimnya daerah resapan air, yang semua itu sebabnya adalah keserakahan manusia.
Kita semua bisa jatuh dalam keserakahan dan ketamakan, tetapi dalam bacaan kita tadi Yesus menunjukkan bahwa pengendalian diri dapat dilakukan agar tidak jatuh dalam jerat keserakahan dan ketamakan.
Pencobaan pertama menyasar kebutuhan paling dasar manusia, yaitu lapar. Namun ini bukan sekadar soal perut, melainkan soal siapa yang sungguh berdaulat atas hidup, apakah Allah ataukah dorongan jasmani. Dengan menolak mengubah batu menjadi roti, Yesus menegaskan bahwa hidup tidak ditopang semata-mata oleh pemenuhan materi, melainkan oleh kebergantungan penuh pada Allah Sang Pemelihara. Ucapan bahwa manusia hidup bukan dari roti saja menunjukkan bahwa Allah berkuasa bekerja lewat banyak cara untuk mencukupi dan memberi damai sejahtera, sehingga iman tidak boleh direduksi menjadi perjuangan memenuhi kebutuhan fisik semata, tetapi terutama sikap percaya yang tetap bersandar pada pemeliharaan Tuhan dalam segala keadaan.
Selanjutnya, dengan mengutip Mazmur 91:11-12, iblis menggoda Yesus untuk mengetes kasih Allah atas diri-Nya. Jika sungguh Ia dikasihi Allah, maka apa saja yang dilakukan-Nya, bahkan menjatuhkan diri dari atap Bait Allah sekalipun, pasti Allah akan menjaga-Nya. Inilah godaan untuk menebar sensasi dan hidup tanpa logika. Dengan berkata “jangan mencobai Tuhan”, Yesus mau mengatakan bahwa hidup berbakti pada Allah harus dilakukan dengan kerendahan hati dan disertai akal budi yang sehat.
Godaan ketiga menunjukkan ajakan untuk mencapai tujuan lewat cara yang salah. Yesus ditawari kekuasaan atas dunia tanpa melalui penderitaan, asal mau tunduk sedikit saja pada iblis. Inilah kompromi, menukar kesetiaan kepada Allah dengan keuntungan instan. Jawaban Yesus menolak logika “asal berhasil, bebas caranya” dan menegaskan bahwa kesetiaan pada Allah tidak bisa dibagi dengan tunduk pada keserakahan dunia. Dunia boleh menjanjikan segalanya, tetapi damai sejati hanya lahir dari ketaatan penuh kepada Tuhan.
Jemaat yang dikasihi Tuhan, Firman hari ini mengajak kita mewaspadai gaya hidup rakus dan serakah, sekaligus memanggil kita membangun hidup yang sahaja, sewajarnya, cukup, dan penuh syukur. Masa Pra Paskah yang kita jalani dengan puasa dan pantang seyogyanya bukan sekadar tradisi, tetapi latihan menahan diri dari keserakahan dan keinginan yang berlebihan. Hidup sahaja juga dapat ditempuh dengan mengurangi konsumsi yang sifatnya impulsif, yaitu membeli barang hanya karena diskon padahal sebenarnya tidak dibutuhkan. Dalam hidup bersosial, entah nyata ataupun media, mari belajar menghadirkan gaya hidup sahaja dengan tidak tergoda “memamerkan dengan sengaja” tentang kebaikan, pencapaian, dan kasih kita. Kita perlu belajar untuk “memberi bantuan tanpa nama”, termasuk menyapa, mengunjungi, menolong siapa saja tanpa pamrih besar terhadap pengakuan.
Jika saat ini kita sedang dipercaya Tuhan untuk memimpin atau berwenang atas sesuatu hal, belajarlah memberdayakan, bukan memperdayakan. Mari membiasakan mendengarkan masukan dengan gembira, bukan anti kritik dan menolak saran dengan marah. Mari kita ingat perumpamaan tentang “mual karena kekenyangan” di awal tadi. Harusnya jelas bagi kita bahwa serakah itu hanya berdampak buruk adanya. Apa iya kita mau menuai yang buruk-buruk dalam hidup? Tentu tidak mau bukan? Oleh karena itu mari belajar berani mencukupkan diri dengan berbagai hal yang sudah Tuhan berikan bagi kita. Di tengah dunia yang sibuk mencari pengakuan, kita dipanggil untuk mengasihi dan melayani tanpa memamerkan diri. Menjalani hidup dalam kesahajaan dan menggunakan apa yang ada untuk memuliakan Tuhan serta merawat seluruh ciptaan. Tuhan memberkati. Amin.
Doa:
Ya Tuhan, kami mau untuk mewujudkan hidup bersahaja seturut kehendak-Mu dan menjauhi sikap serakah. Segala puji hanya bagi Tuhan. Amin. (Daniel Bimantara – Kulwo).


