Mampu Menghadapi Pencobaan

Bacaan: Ibrani 4:14-5:10.

Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa. (Ibrani 4:15).

Bacaan Lainnya

Renungan:

Pencobaan adalah ujian, godaan, atau tekanan hidup yang bertujuan menguji iman, kesabaran, dan ketaatan seseorang.

Jemaat yang dikasihi Tuhan, memang benar adanya bahwa dalam setiap langkah hidup kita seringkali kita menghadapi pencobaan. Pencobaan dapat berasal dari luar, berupa bujukan, rayuan bahkan paksaan untuk melakukan perbuatan yang menyimpang, tetapi juga dapat berasal dari dalam diri kita sendiri, misalnya: hawa nafsu, sifat egois, dengki, dan lain-lain.

Dalam menghadapi pencobaan, sering kita dapat bertahan bahkan menang, tetapi terkadang kita kalah dan terjatuh dalam dosa. Kita menyadari bahwa kita adalah manusia biasa, terbatas dan lemah.

Lalu apa yang harus kita kerjakan agar terhindar atau terbebas dari pencobaan? Kita harus belajar dari Tuhan Yesus. Walaupun Dia adalah Anak Allah, tetapi juga tidak luput dari pencobaan. Masih ingatkah kira ceritera “Pencobaan di Padang Gurun” yang dihadapi Tuhan Yesus? Ya, pencobaan yang dihadapiNya sungguh menggoda, sangat menjanjikan dan sangat mudah untuk dilakukan. Dan jika dilakukan maka akan sangat besar perolehannya.

Apakah Yesus jatuh dalam pencobaan? Tidak. Yesus tetap teguh iman dan tidak melakukan dosa. “……… sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa. (Ibrani 4:15b).

Jemaat yang dikasihi Tuhan, sebenarnya apa maksud pencobaan bagi kita? Dalam konteks Kristiani, pencobaan bertujuan membentuk kedewasaan rohani. Jadi, ketika kita mendapat cobaan bukan berarti kita dilemahkan dan memperoleh kehancuran, tetapi agar kita tahan uji agar semakin kuat dan dewasa dalam iman sehingga tidak jatuh ke dalam dosa.

Bagaimana cara menghadapi pencobaan? Belajar dari Tuhan Yesus, bahwa kita harus:

  • Dapat mengendalikan diri dengan tidak membiarkan hawa nafsu menguasai diri kita,
  • Jangan mencobai Allah dengan mengharapkan suatu mukjizat terjadi pada diri kita,
  • Tidak tunduk pada bujuk rayu untuk memenuhi perintah yang bertentangan dengan kehendak Allah.

Jemaat yang dikasihi Tuhan, seperti halnya Tuhan Yesus yang menerima percobaan, kita juga sering mengalaminya, tetapi satu prinsip yang harus kita pegang teguh adalah agar kita tidak jatuh ke dalam dosa. Kita mampu menghadapi pencobaan. Amin. (Egn Sugeng – Ngringin).

 

 

Pos terkait