Bacaan: Matius 23:13-28.
Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan. (Matius 23:23).
Renungan:
Ada sebuah peribahasa demikian: “Menepuk air di dulang, terpercik muka sendiri”. Bermakna apabila seseorang melakukan perbuatan buruk, membuka aib, atau memfitnah orang lain (keluarga atau orang dekat), maka akibat buruk atau rasa malu tersebut akan berbalik mengenai diri sendiri.
Apa yang dilakukan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi terhadap Yesus menjadi seperti yang digambarkan dalam peribahasa tersebut. Mereka berusaha untuk mencobai Yesus melalui berbagai pernyataan dan pertanyaan dengan tujuan untuk menjerat dan menjatuhkanNya. Namun, ternyata semua yang dilakukan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi itu justru membuka kedok siapa sesungguhnya kedua golongan orang-orang terhormat itu. Persis seperti dalam peribahasa tadi: menepuk air di dulang, terpercik muka sendiri. Mereka berusaha menjatuhkan Yesus, tetapi justru wibawa mereka sendiri yang dijatuhkan oleh sikap dan tindakan mereka sendiri.
Perikop bacaan pagi ini memuat kecaman keras Yesus terhadap ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Bahkan Yesus dengan keras menyebut mereka sebagai orang-orang munafik dan pemimpin-pemimpin buta. Para pembesar dan golongan yang terpandang justru perilaku dan tindakannya tidak sesuai dengan yang mereka ajarkan.
Mengapa Yesus mengecam begitu keras? Setidaknya terdapat 7 (tujuh) perilaku dan tindakan para ahli Taurat dan orang-orang Farisi yang dikecam keras, yaitu:
- Menutup pintu Kerajaan Sorga (ayat 13). Mereka merintangi orang lain yang ingin masuk Kerajaan Sorga, padahal mereka sendiri tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.
- Menelan rumah para janda (ayat 14). Mereka mengambil keuntungan dari orang lemah sambil menyamar lewat doa-doa yang panjang untuk mengelabui mata orang lain .
- Menyesatkan orang yang bertobat (ayat 15): Mereka mengarungi lautan dan daratan untuk mencari satu penganut baru, tetapi justru menjadikan orang tersebut dua kali lebih jahat dari diri mereka sendiri.
- Mengajari sumpah yang salah (ayat 16-22): Mereka membeda-bedakan kesakralan sumpah (misalnya menganggap sumpah demi emas Bait Suci lebih mengikat daripada sumpah demi Bait Suci itu sendiri), padahal yang terpenting adalah kuasa Tuhan di baliknya.
- Mengabaikan yang utama dalam hukum Taurat (ayat 23-24): Mereka sangat teliti dalam perkara pembayaran persepuluhan berikut rincian hal-hal kecilnya: seperti selasih, adas manis, dan jintan, tetapi mengabaikan hal yang paling penting: keadilan, belas kasihan, dan kesetiaan.
- Hidup penuh kemunafikan (ayat 25-26): Mereka membersihkan bagian luar cawan dan pinggan, tetapi bagian dalamnya penuh dengan rampasan dan kerakusan.
- Bersikap dan berperilaku pura-pura bersih (ayat 27-28): Mereka diibaratkan seperti kuburan yang dicat putih di luar terlihat bersih dan indah, tetapi di dalamnya penuh dengan tulang belulang serta berbagai kotoran, penuh dengan kemunafikan dan kedurjanaan.
Karena itu, mari kita hindarkan diri kita dari jebakan kemunafikan dan perilaku pura-pura bersih. Berlaku adil, hidup didasari watak penuh welas asih, dan kesetiaan menjalani perintah Tuhan adalah menjadi keutamaan sebagai murid Yesus.
Doa:
Tuhan Yesus, mampukan dan terus ajarilah kami untuk menjauhkan diri dari sikap munafik dan berpura-pura baik. Mampukan dan kuatkan juga ya Tuhan, agar kami selalu berwatak penuh belas kasih, adil dan setia. Amin. (Joko Yanuwidiasta – Kulwo).






