Bacaan: Matius 21:23-32.
Lalu Yesus masuk ke Bait Allah, dan ketika Ia mengajar di situ, datanglah imam-imam kepala serta tua-tua bangsa Yahudi kepada-Nya, dan bertanya: “Dengan kuasa manakah Engkau melakukan hal-hal itu? Dan siapakah yang memberikan kuasa itu kepada-Mu?” (Matius 21:23).
Renungan:
Saudara-saudara yang terkasih, ada istilah superiority complex. Sederhananya, ini adalah kecenderungan seseorang merasa dirinya lebih baik, lebih benar, lebih tahu, atau lebih layak daripada orang lain. Tapi menariknya, orang dengan sikap seperti ini tidak selalu tampak sombong secara terang-terangan. Ia bisa tetap nampak santun, suka menolong, banyak memberi nasihat, bahkan sangat religius. Namun tanpa disadari, semua itu bisa membuat seseorang merasa dirinya lebih tahu, lebih bijaksana, dan lebih benar daripada orang lain. Akibatnya, ia mudah melihat apa yang salah dalam diri orang lain, tetapi sulit menerima ketika dirinya sendiri dikoreksi. Gambaran seperti inilah yang kita jumpai dalam diri para imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi ketika berhadapan dengan Yesus bacaan kita tadi.
Saat Yesus mengajar di Bait Allah, datanglah imam-imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi, yaitu para pemimpin agama yang memiliki otoritas dan pamor besar. Namun, ironisnya kedudukan itu membuat mereka terjebak dalam sikap yang arogan bahkan secara religius. Apa itu? Merasa sudah kudus, merasa paling benar, mudah menghakimi orang lain, makanya tidak merasa membutuhkan pertobatan. Hal ini yang membuat mereka menolak Yohanes Pembaptis dan Yesus. Pertanyaan mereka tentang kuasa Yesus pun sebenarnya bukan dalam rangka mencari akan kebenaran, melainkan usaha untuk menjebak. Namun Yesus membalikkan pertanyaan itu dengan menanyakan asal baptisan Yohanes, “Dari sorga atau dari manusia?” (ay. 25). Mengapa mereka tidak berani menjawab? Sebab posisi, otoritas, pamor, dan kewibawaan mereka dipertaruhkan, bisa hilang kalau mereka serampangan menjawab.
Melalui perumpamaan dua anak, Yesus kemudian menunjukkan bahwa ketaatan pada Allah tidak ditentukan oleh kata-kata belaka, tetapi juga oleh tindakan nyata. Anak yang berkata “tidak” tetapi kemudian pergi melakukan kehendak ayahnya lebih taat daripada anak yang berkata “ya” tetapi tidak melakukannya. Ini merupakan penegasan bahwa barangsiapa merasa diri tak layak dan bersedia sungguh bertobat, bahkan pemungut cukai maupun perempuan sundal sekalipun, dapat mendahului para pemimpin agama masuk ke dalam Kerajaan Allah. Mereka memang pernah berkata “tidak” melalui hidupnya, tetapi kemudian bersedia mengubahnya. Sebaliknya, para pemimpin agama merasa telah berkata “ya” melalui usaha-usaha kesalehan mereka, tetapi sebenarnya munafik belaka dan menolak bertobat. Di hadapan Allah, pertobatan yang terwujud dalam tindakan lebih bermakna daripada kesalehan yang hanya berhenti pada kata-kata.
Saudara-saudara yang terkasih, dari bacaan ini kita belajar bahwa pertobatan itu dimulai dari kerendahan hati untuk mengakui bahwa diri kita masih bisa salah dan masih membutuhkan Tuhan. Oleh karena itu, ketika Tuhan mengoreksi kita melalui firman-Nya, orang lain, atau berbagai peristiwa dalam kehidupan, kiranya kita tidak menutup diri, tetapi mari membuka hati dan berusaha berubah jadi lebih baik. Pertobatan dan ketaatan tidak dapat dipisahkan. Hati yang bertobat adalah hati yang bersedia dikoreksi dan berubah, serta perubahan itu terwujud dalam ketaatan yang nyata.
Mari kita bersama-sama memeriksa diri sendiri. Jangan-jangan superiority complex juga pernah, atau bahkan sedang terjadi dalam kehidupan kita. Kita merasa lebih benar, lebih tahu, lebih rohani, atau lebih layak daripada orang lain, sehingga lebih mudah melihat kesalahan mereka daripada mengakui kesalahan sendiri. Terutama ketika menerima teguran, apakah kita sibuk membela diri? Atau berusaha mendengarkan dan memahami? Bukan tidak mungkin bahwa melalui teguran itu Tuhan sedang berbicara kepada kita. Oleh sebab itu, daripada buru-buru menolak, mungkin kita perlu berhenti sejenak dan bertanya, “Tuhan, apa yang sedang Engkau tunjukkan kepadaku?” Jika ternyata ada sesuatu yang perlu dibenahi, kiranya kita tidak berhenti pada kesadaran saja. Pertobatan membutuhkan keberanian untuk melakukan sesuatu. Sederhana saja seperti mengakui kesalahan, meminta maaf ketika telah melukai, memperbaiki apa yang masih bisa diperbaiki, dan belajar tidak mengulangi kesalahan yang sama. Memang tidak selalu mudah. Tetapi justru ketika kita berani melakukan itu, kita sedang menunjukkan bahwa teguran Tuhan tidak berhenti di telinga saja, melainkan sungguh-sungguh mengubah kehidupan kita.
Saudara-saudara yang terkasih, di hadapan Tuhan bukan hanya kata-kata kita yang penting, tetapi kehidupan yang lahir dari kata-kata itu. Maka jangan sampai mulut kita berkata “ya” kepada Tuhan, tetapi hidup kita berkata “tidak” kepada-Nya. Amin.
Doa:
Terpujilah Engkau selamanya, ya Tuhan. Kami bersyukur atas firman-Mu yang mengingatkan kami untuk tidak hanya berkata “ya” kepada-Mu, tetapi sungguh-sungguh mewujudkannya dalam kehidupan. Ampunilah kami ketika sulit menerima teguran dan merasa diri selalu benar. Berikanlah kami hati yang rendah hati untuk bertobat dan kekuatan untuk mewujudkan pertobatan itu dalam ketaatan yang nyata. Dalam Kristus Yesus kami berdoa. Amin. (Daniel Bimantara – Kulwo).






