Menjaga Hati Merawat Relasi

Bacaan: Keluaran 32:1-14.

Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: “Pergilah, turunlah, sebab bangsamu yang kaupimpin keluar dari tanah Mesir telah rusak lakunya. (Keluaran 32:7).

Bacaan Lainnya

Renungan:

Saudara-saudara yang terkasih, apakah pernah mengirim pesan WhatsApp (WA) atau bikin story WA ketika sedang marah, lalu beberapa menit kemudian menyesal setelah membacanya kembali? Saat sedang marah, rasanya kata-kata itu memang perlu dikirim. Kita merasa harus segera membalas, harus menjelaskan, bahkan harus membuat orang lain tahu kalau kita sedang terluka. Namun setelah amarah mereda kita baru berpikir, “Duh terlanjur kekirim, mesti udah kebaca walaupun udah tak hapus. Aduh piye iki, gela aku malahan wes kadung nesu-nesu.” Mungkin saja kita pernah berada dalam situasi seperti itu. Karena dikuasai amarah, bukannya masalahnya yang diselesaikan, tapi malah melebar ke mana-mana sampai bisa merusakkan relasi. Kurang lebih situasi semacam itu yang terjadi dalam bacaan kita di Keluaran 32:1-14 tadi.

Biasanya sorotan utama dalam teks ini adalah tentang penyembahan berhala. Namun saat ini mari kita mencoba melihat dari sisi yang lain. Umat Israel adalah mantan budak di Mesir, yang terbiasa hidup dengan diatur ketat dan melihat sesembahan nyata dalam bentuk patung-patung. Maka saat keluar dari Mesir, Musa menjadi sosok nyata yang memimpin dan menjadi perantara mereka dengan Tuhan. Alhasil, ketika Musa tidak nampak untuk sekian waktu lamanya karena berada di gunung, mereka gelisah merasa kehilangan pemimpin sekaligus juga kehilangan figur yang selama ini menjadi penghubung mereka dengan Tuhan. Persoalannya, situasi tersebut dihadapi secara emosional dan bahkan mungkin saja sampai mengancam orang lain. Ayat 22 menuliskan perkataan Harun yang menyebut mereka sebagai “bangsa ini jahat semata-mata.” Artinya, bukan tidak mungkin Harun ditekan dan diancam oleh mereka. Walau Harun tahu yang benar, tetapi demi keamanan diri, Harun menuruti permintaan mereka untuk membuat “allah” yang dapat mereka lihat, sebagaimana ketika ada di Mesir dulu.

Tuhan pun murka. Ia tak menyebut “umat-Ku” tapi “bangsamu”, seolah-olah umat Israel bukanlah milik Tuhan lagi. Padahal Tuhan sendiri yang membebaskan mereka dari Mesir dan mengikat perjanjian dengan mereka. Tanpa banyak menimbang, Tuhan langsung terpikir untuk membinasakan mereka dan menawarkan kepada Musa untuk memulai suatu bangsa yang baru kalau ia bersedia. Sikap emosional umat Israel ditanggapi dengan murka Tuhan yang menyala. Kini mari perhatikan Musa, ia “mencoba melunakkan hati Tuhan”. Dengan kata lain, Musa adalah satu-satunya pihak dalam cerita ini yang tetap dapat “berkepala dingin” di tengah ketegangan emosional antara Tuhan dan umat-Nya. Musa memberikan argumen yang benar dan tak terbantahkan. Kira-kira demikian, “bukankah mereka ini umat yang Tuhan sendiri bebaskan dengan tangan kuat dan perkasa?”; “reputasi Tuhan bisa rusak kalau ternyata malah membinasakan umat yang sudah dibebaskan sendiri.”; “bukankah Tuhan sendiri juga sudah janji pada Abraham, Ishak, dan Yakub untuk memberkati keturunannya?” Respons Tuhan di ayat 14 menunjukkan bahwa pendapat Musa didengarkan dan permohonan Musa benar-benar mendapat tempat di hati Tuhan.

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, melalui bacaan tadi kita diingatkan pelajaran penting pada ibadah Bulan Keluarga minggu kedua saat ini. Pertama, kita ini rapuh dan bisa dikuasai amarah, bahkan bisa tak terkendali hingga membahayakan yang lain. Kedua, mengambil keputusan dalam keadaan dikuasai amarah cenderung melahirkan keputusan yang kurang baik. Ketiga, amarah tidak bisa diselesaikan dengan amarah, melainkan dengan kerendahan hati dan kepala yang “dingin.”

Oleh karena itu kita dipanggil untuk belajar mengelola amarah, bukan dengan menyangkalnya, tetapi dengan memberi jarak antara apa yang kita rasakan dan apa yang akan kita lakukan. Saat amarah sedang memuncak, tubuh dan pikiran kita berada dalam kondisi siaga sehingga kita cenderung bereaksi cepat dan melihat persoalan secara lebih sempit. Maka ketika mulai terasa panas, mbedhedheg, harus langsung sadar! Jangan langsung membalas, jangan langsung mengucapkan kata-kata yang nylekit, dan jangan gegabah mengambil keputusan. Sadari kita sedang marah, tarik napas, diam sebentar, keluar dari situasi bila perlu, lalu kembali ketika badan dan pikiran sudah lebih tenang. Setelah itu, bicarakan persoalannya, bukan menyerang orangnya! Kita boleh mengatakan, “saya marah karena yang terjadi tadi menyakiti saya,” tanpa harus mengatakan, “kamu memang selalu seperti itu.” Kedewasaan bukan berarti kita tidak pernah marah, kedewasaan adalah ketika kita mampu mengelola amarah dan tidak membiarkan amarah itu menentukan cara kita memperlakukan orang lain.

Mengikut Tuhan berarti bersedia untuk menjaga hati dan setia merawat relasi. Tuhan memberkati. Amin.

Doa:

Kesetiaan, itulah yang sesungguhnya selalu Engkau tekankan. Kami bersyukur bahwa kesetiaan-Mu selalu ada bagi kami. Oleh karena itu kami mau ya Tuhan, untuk terus belajar setia, menjaga hati, dan merawat relasi. Mampukan kami untuk mengendalikan diri, sehingga kasih-Mu senantiasa terpancar dan nama-Mu semakin dimuliakan. Di dalam Kristus Yesus, kami berdoa. Amin. (Daniel Bimantara – Kulwo).

 

 

Pos terkait