Bacaan: Mikha 6:1-8.
“Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut TUHAN dari padamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?” (Mikha 6:8).
Renungan:
Dalam hidup kekristenan, bisa terjadi – artinya tidak selalu dan selamanya – pembedaan antara urusan ibadah dan urusan hidup sehari-hari. Ibadah ya ibadah, datang ke gereja, berdoa, menyanyi, memberi persembahan. Sementara urusan di rumah, di ladang, di tempat kerja, atau dengan tetangga dianggap sebagai wilayah lain yang berjalan dengan aturannya sendiri. Tanpa sadar, iman percaya ditempatkan di satu ruang, sementara hidup sehari-hari ada di ruang lain yang berbeda. Dalam pola seperti ini, iman percaya sangat mungkin tereduksi menjadi sekadar ritual belaka, seolah relasi dengan Tuhan “sudah cukup” melalui kewajiban-kewajiban ibadah semata. Hal semacam itu pula yang tampak dalam Mikha 6:1–8.
Dalam bacaan tadi, Tuhan mengingatkan umat-Nya akan karya-Nya bagi mereka, membebaskan mereka dari Mesir dan menyertai perjalanan hidup mereka. Tuhan tidak pernah setengah-setengah dalam memelihara relasi dengan umat kepunyaan-Nya. Namun umat tak peka menangkap maksud Tuhan dan justru bertanya tentang korban-persembahan apa yang harus diberikan agar Tuhan berkenan. Hal ini menyiratkan nuansa transaksional dalam pemahaman mereka terkait ibadah, bahwa mereka perlu memberi sesuatu supaya relasi dengan Tuhan terasa aman dan baik-baik saja. Alhasil, iman percaya dan rasa bakti direduksi maknanya menjadi ritual kosong belaka tanpa dibarengi sikap hidup yang selaras.
Oleh karena itu melalui nabi Mikha, Tuhan meluruskan cara berpikir ini. Tuhan tidak menolak ibadah dan persembahan dari umat. Namun yang ditegaskan adalah bahwa ibadah tidak bisa dipisahkan dari cara hidup atau sikap hidup sehari-hari. Berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Tuhan bukanlah “tambahan di luar ibadah”, melainkan wujud nyata dari iman yang sungguh dihidupi. Iman yang dirayakan dalam suatu peribadahan atau ritual agama, sudah seharusnyalah tampak dalam sikap hidup keseharian.
Dari sependek kisah di atas, kita diingatkan sekaligus diajak untuk tidak memecah bahkan memisahkan iman percaya dengan praktik kehidupan sehari-hari. Keduanya adalah satu kesatuan. Iman percaya kepada Tuhan perlu terus dipelihara, dan pemeliharaan itu terlihat ketika sikap hidup kita selaras dengan iman yang kita akui. Cara kita berbicara, mengambil keputusan, dan memperlakukan sesama menjadi bagian dari ibadah itu sendiri.
Tuhan tidak meminta yang muluk-muluk. Ia memanggil kita menghidupi iman percaya secara utuh dan dipelihara, serta mewujudkannya melalui sikap hidup sehari-hari yang selaras. Oleh sebab itu, marilah kita wujudnyatakan kesatuan iman percaya dengan praktik kehidupan sehari-hari. Iman percaya kita pelihara melalui relasi dengan Tuhan, dan pada saat yang sama kita wujudkan dalam sikap hidup yang nyata, melalui kesediaan berlaku adil, menaruh hormat dan pengharagaan pada semua ciptaan, setia dan bertanggung jawab dalam relasi kepada siapa saja, dan rendah hati dalam menjalani hidup. Di sanalah iman percaya dan praktik kehidupan sehari-hari sungguh-sungguh ada dalam satu kesatuan. Amin.
Doa:
Ya Allah, dimuliakanlah Engkau selamanya. Kami sungguh mensyukuri rahmat-Mu yang besar dalam hidup kami. Kami bersedia untuk terus berusaha mewujudkan kesatuan iman dan perbuatan hidup sehari-hari, sebab itulah yang jadi kehendak-Mu. Kami percaya Engkau menolong dan memampukan. Segala puji dan hormat hanya bagi Allah. Amin. (Daniel Bimantara – Kulwo).






