Bacaan: Rut 2:1-16.
Kemudian berkatalah Rut: “Memang aku mendapat belas kasihan dari padamu, ya tuanku, sebab tuan telah menghiburkan aku dan telah menenangkan hati hambamu ini, walaupun aku tidak sama seperti salah seorang hamba-hambamu perempuan.” (Rut 2:13).
Renungan:
Simpati adalah perasaan peduli, iba, atau belas kasih terhadap orang lain yang mengalami kesulitan, kesedihan, atau musibah, yang seringkali muncul secara spontan.
Saudaraku yang dikasihi Tuhan, ketika kita mengikuti kisah perjalanan Rut bersama mertuanya (Naomi) dari Moab ke tanah Yehuda, kita memberikan simpati dan apresiasi kepadanya karena keteguhan pendiriannya untuk tetap hidup mendampingi mertuanya, rela meninggalkan keluarganya dan bahkan negerinya. Rut juga rela meninggalkan iman percayanya dan beralih percaya kepada Allah seperti Naomi.
Lebih dari itu, ia bahkan rela mencari penghidupan dengan cara “ngasak” (memungut jelai gandum yang terlewat dari para penyabit). Satu pekerjaan rendahan dan terkadang hasilnya juga tidak seberapa. Keteguhan dan kegigihan itulah yang akhirnya mendapatkan simpati dari para penyabit, bahkan dari pemilik ladang, yaitu Tuan Boas, orang kaya raya dan terpandang, dan juga mempunyai jiwa dermawan. Tuan Boas mengajak Rut untuk turut bergabung saat istirahat untuk minum dan makan bersama.
Saudaraku yang dikasihi Tuhan, ceritera panjang lebar tentang kisah kehidupan Rut bersama Ibu Naomi membuat para pekerja bahkan Tuan Boas, tidak hanya bersimpati tetapi mereka turut berempati (Empati: kemampuan pikiran dan emosional untuk memahami, merasakan, dan berbagi pengalaman orang lain seolah-olah berada kita di posisi mereka). Tuan Boas berpesan kepada para penyabit untuk sengaja menyisakan jelai gandum untuk Rut. Kemudian berkatalah Rut: “Memang aku mendapat belas kasihan dari padamu, ya tuanku, sebab tuan telah menghiburkan aku dan telah menenangkan hati hambamu ini, walaupun aku tidak sama seperti salah seorang hamba-hambamu perempuan.” (Rut 2:13).
Saudaraku yang dikasihi Tuhan, apa yang kita lakukan ketika mendapati orang yang menanggung beban dan membutuhkan pertolongan? Apakah kita hanya dapat mengatakan “kasihan orang itu”, tetapi kita tidak berbuat apa-apa? Seharusnya kita larut dalam kisah pilu yang dialami orang lain. Kita “trenyuh“, kita berempati sehingga kita berusaha untuk mencarikan solusi dengan apa yang kita mampu. “Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan;” (Matius 25:35).
Bukan sekedar simpati, tetapi kita harus berempati.
Doa:
Tuhan Allah yang Maha Pengasih, mampukan kami menyatakan kasih kepada sesama kami dengan tindakan dan upaya yang dapat memberikan solusi tepat kepada saudara kami yang membutuhkan. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin (Egn. Sugeng – Ngringin).
